Petualangan Caya dan Moli
di Gua Pawon.
“Tunggu Moli, kakiku pegal banget, nih. Jangan
tinggalkan aku dong!” pinta Caya pada sahabatnya Moli. Mereka sedang meniti
tangga batu menuju ke sebuah gua di bawah bukit kapur. “Masa harus aku gendong, sih?” jawab monyet
kecil sahabat Caya. “Ya, gak gitu juga dong,” jawab pemuda berkulit sawo matang
itu sambil cemberut.
“Moli, kamu kentut, ya? Atau jangan-jangan,
kamu buang air besar?” tanya caya sambil menutup hidungnya. “Walah, sembarangan,
kamu menuduh aku, ya? ” seru monyet kecil sambil nyorot
“Lah, kok ini bau banget,” jelas Caya sambil terus berjalan ke mulut Gua Purba yang menyeramkan.
"Makanya, jangan menuduh! Tuh, lihat ke atas!” Monyet cerdik menunjuk atap gua..
Deg ... deg
... jantung Caya berdetak cepat, mukanya memerah. “Walah apa itu?” teriak Caya
sambil mundur tiga langkah. “Weleh ... weleh, dasar manusia, kamu takut, ya?”
ejek Moli sambil loncat-loncat. Caya keheranan sambil terus memandang hewan
kecil yang berputar-putar di alas kepalanya. “Apa ya, burung? tapi bukan, kok
bisa terbang?” bisik Caya.

Itu sahabat-sahabat aku, Caya. Mereka kelelawar penghuni gua ini. Mereka baik. Bau menyengat, itu Kotoran mereka. Tapi bermanfaat lho. Suka dijadikan pupuk.” Jelas moli sok berlagak pinter. “Tapi biasanya mereka aktifnya di malam hari. Kalau gelap mereka mencari makan, kalau siang ya, hanya di sini atau tidur di sela-sela batu itu.” Moli menjelaskan pada sahabatnya.
Puluhan kelelawar berputar-putar mengeliligi tengah gua yang ujungnya berlubang menyerupai cerobong asap.
“Nah,
caya. Lubang gua yang banyak kelelawar itu, mirip cerobong asap, makanya disebut
gua pawon. Pawon dalam Bahasa Sunda artiya dapur” Kera kecil berceloteh sambil terus
berjalan masuk ke dalam gua.
Ayo, dong cepat jalannya. Pinta Moli pada pemuda tampan yang suka petualang itu.
Ayo, dong cepat jalannya. Pinta Moli pada pemuda tampan yang suka petualang itu.
‘Awww...
sakit, apa ini, gelap lagi ?” Caya berteriak. “Makanya hati-hati kawan. Ruangan
ini sempit dan licin.” Jelas kera dengan pedenya.
“Awal ditemukan, di sini banyak ala-alat dapur yang terbuat dari batu purba. Tapi semuanya sudah disimpan di museum Geologi di Bandung.” Monyet cerdik itu memberi tahu.
“Ayo
sahabatku, kita lanjutkan. Di dalam
lebih segar karena banyak pohon dan atapnya terbuka,” jelas kera. “Hati-hati, jalannya licin. Tuh, kan banyak air yang menetes dari atap
gua, itu stalagtit. Karena ini bukit
kapur, zaman purba ini dialiri air, karena daerah ini adalah dasar lautan.” Tambah
Moli seperti profesor aja.
“Sto,
stop ... istirahat!” pinta pemuda tampan itu. “Ya, udah kita duduk di atas batu yang paling tinngi itu,” Moli
menunjuk batu di tengah gua.
Kedua sahabat
itu melepas lelah sambil menikmati
buah-buahan.

“Batu yang
kita duduki ini, tempat pemantauan ketua suku penghuni gua ini. Tapi. Sekarang ini
dijaga oleh kawan-kawan ku. Tuh, lihat! Mereka
sedang bahagia melihat kita.” Moli menunjuk puluhan monyet yang sedang bercengkrama
di atas pohon dalam gua.
Hai, kawan-kawan. Kalian penunggu gua ini, kan? Teriak
Moli. “Benar Moli, sahut monyet yang
paling besar dari atas pohon. “Caya, coba kita jalan sedikit saja. Lihat ke
bawah!” pinta monyet yang bawel.
“Wow...,
apa tuh? Seperti Tulang-tulang?” pemuda berambut sebahu itu
keheran.

“Ya,
benar, itu adalah tulang manusia yang
sudah membatu. Kita menyebutnya fosil manusia purba yang merupakan nenek moyang
bangsa manusia. Telah ditemukan oleh Balai Arkeologi Bandung pada 2002” Kera
cerdas itu menjelaskan pada sahabatnya.
“Ah, kamu, Moli, sok tahu lagi. Sejak tadi kamu terus menjelaskan tentang sejarah gua ini,” seru pemuda berbaju pangsi.

“Alaah,
mak. Kamu ini lupa ya? aku kan, Si Moli, Moyet Literasi. Aku banyak tahu, karena suka membaca seperti anak-anak yang lain. Aku sering masuk perpustakaan kalau lagi
sepi. Hi...hi..hi... Karena aku juga ingin
pinter sepeti kalian.” Celoteh kera sambil memegang ekornya yang melambai ke
tanah.
“Ha ha ha,”
kedua sahabat itu tertawa bahagia. “Waduh,
sudah mendung nih, Kita pulang yuk!”
Ajak Caya Mereka berdua, kembali masuk
dalam gua Pawon. Dengan hati-hati mereka
menyusuri dalam gua yang sangat gelap dipenuhi stalagtit dan stalagmit. Hingga tiba di mulut
gua paling luar.
Kedua sahabat itu berencana melanjutkan petualangan berikutnya.
Kedua sahabat itu berencana melanjutkan petualangan berikutnya.