PANEN KARYA

MEMBANGUN KARAKTER PROFIL PELAJAR PANCASILA

DI SMP NEGERI 3 PADALARANG

Oleh: Mardiah Alkaff



SMP Negeri 3 Padalarang merupakan sekolah Penggerak Angkatan 2 yang telah berhasil menyelesaikan Kurikulum Merdeka selama satu tahun sejak 2022.  Di penghujung  tahun,  program ditutup dengan Panen Karya projek  untuk mempublikasikan  capaian aksi nyata. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu 14 Juni 2023 di lingkungan SMP Negeri 3 Padalarang.

Panen Karya yang dikoordinir oleh Komite Pembelajaran Sekolah Penggerak, telah dihadiri oleh murid kelas 7 dan 8 sebanyak 700 orang. Kehadiran guru-guru sebagai fasilitator dan motivator  mampu menampilkan   karakter  Profil Pelajaran Pancasila baik dalam karnaval, stand dan arena kegiatan.

Panen karya   dihadiri oleh Edy Saprudin, S.Pd, Kepala  Bidang Pembinaan  SMP Dinas Pendidikan Kabupaten  Bandung Barat. Acon Supriatna,S.Pd Kasie Sarana Prasarana Bidang PSMP Disdik Kab.Bandung Barat, Dra.N. Yuli Ridawati Msi,  Pembina SMP Negeri 3 Padalarang,   Amos Pong Moka Buranda,M.Pd sebagai Fasilitator Sekolah Penggerak,  Komite Sekolah Penggerak SMP Negeri 3 Padalarang, Forum orang tua siswa,   Babinkantibmas Padalarang, Kepala Desa Padalarang, dan Kemitraan Bank Sampah Sukamaju Sejahtera Padalarang



Tamu undangan  memberikan apresiasi dan dukungan penuh dengan berkeliling stand pameran murid  kelas 7 yang menyajikan berbagai macam makanan kuliner olahan dasar Tahu. Setiap stand menampikan kuliner dengan memasak langsung di lokasi sehingga terlihat jelas murid kelas 7 mampu mengolah makanan.   “Tahu merupakan makanan yang  banyak dihasilkan oleh masyarakjat di sekitar sekolah. Sehingga inilah yang menyebabkan tema Projek ketiga   yaitu Kewirausahaan dengan topik, makanan berbahan dasar Tahu.” Demikian  ketua Projek Wirausaha  Wiwin  Winarti, M.Pd menjelaskan di arena stand.



“SMP Negeri 3  telah berhasil  dalam seleksi Sekolah Penggerak Kemdikbudristek tahun 2022 untuk waktu empat tahun sampai 2024. Sehingga wajib menerapkan kurikulum merdeka yang didalamnya terdapat tiga buah Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Panen Karya  merupakan unjuk kerja murid pada masyarakat dan dunia pendidikan bahwa mereka telah berhasil menyelesaikan  projek, pembelajaran yang berpusat pada murid,  pembelajaran berdiferensiasi  yang membangkitkan bakat, minat dan potensi murid. Serta Pembelajaran yang menyenangkan  dengan membangun karakter Profil Pelajar Pancasila”,  demikian diungkapkan Iwan Ridwan Setiadi, S,Pd, M,PD sebagai kepala SMP Negeri 3 Padalarang pada sambutan yang disampaian pada acara tersebut.

Sugiarto, SPd sebagai ketua panitia menjelaskan dalam sambutannya  bahwa di SMP Negeri 3 Padalarang selama satu tahun mengambil tiga buah projek.  Projek pertama tentang gaya hidup berkelanjutan dengan mengambil topik pengelolaan sampah yang  menghasilkan berbagai produk olahan sampah plastik diantaranya Eco Brick dan Pupuk Organic Cair (POC). 

Projek kedua mengambil tema bangunlah jiwaraganya dengan topik stop anti bullying dengan menghasilkan berbagai produk seperti poster dan video digital yang diupload di media sosial dengan akun murid masing-masing.  Sedangkan projek ketiga mengambil tema tentang kewirausahaan dengan topik kuliner olahan makanan dari tahu. Semua hasil projek tersebut ditampilkan pada panen karya yang pertama ini.


Panen karya pertama di SMP Negeri 3 Padalarang,   diawali dengan karnaval murid dan guru berkeliling lingkungan warga dengan membawa hasil karya projek 2. Tujuan adalah untuk menunjukan bahwa murid SMP Negeri 3  Padalarang mampu mengkampanyekan anti kekerasan di sekolah, rumah dan lingkungan terdekat.  Dengan membawa poster, spanduk dan banner stop anti bullying.  

Peserta karnaval  terdiri dari guru dan murid berkeling lingkungan masyarakat sejak pukul 07.00 sampai 09.00 telah diberangkatkan oleh kepala sekolah,  Demikian Arief Budi sebagai ketua Projek  menjelaskan.  Lebih jauh beliau menjelaskan bahwa kegiatan murid berkeling lingkungan masyarakat ini merupakan kegiatan inovasi SMP Negeri 3 Padalarang yang bertujuan untuk menginspirasi masyarakat agar bersama-sama menghentikan  kekerasan pada remaja.     https://www.youtube.com/watch?v=iv0Fl11nNsw (Karnaval Anti Bullying)



Kegiatan dilajutkan dengan berbagai sambutan, pameran stand hasil karya siswa berbagai kreasi  sampah menjadi barang bermanfaat, stand kuliner berbagai olahan tahu dan berbagai jajanan hasil karya siswa. 



Disco Flow, Amelia  Rahma  anggota Girl Band Soulmatch,    Artis Penyanyi Indonesia  Riana Dewi yang semuanya alumni dan warga  SMP Negeri 3 Padalarang turut menghibur murid-murid dengan berbagai lagu yang sedang digandrungi remaja. Flash Mob, Solo Vocal, Paduan Suara, Tari kreasi, PBB musik, Band Aquistik,  shalawat turut juga  memeriahkan panggung hiburan sebagai kreasi warga SMP Negeri 3 Padalarang



“Panen Karya bukan hanya menampikan  hasil  Projek namun  menekankan kesinambungan dengan proses untuk  pencapaian karakter. Sehingga guru terus mendampingi agar muncul karakter sesuai  enam   Dimensi Profil Pelajar Pancasila. Dalam  mewujudkan  tujuan tersebut diupayakan adanya sinergitas antara sekolah dengan orang tua murid,” demikianlah harapan yang disampaikan oleh Iwan Ridwan Setiadi,S.Pd,M.Pd  Kepala SMP Negeri 3 Padalarang

https://www.youtube.com/watch?v=RZ1gyLCatmQ (Kegiatan Panen karya SMP Negeri 3 Padalarang)


  



    










Antara Disiplin dan Hukuman

                            Antara Disiplin dan Hukuman

                                                     (Mardiah Alkaff)

                  

 Suasana yang positif pastinya sangat didambakan oleh setiap orang. Manusia akan bahagia dalam lingkungan yang memiliki suasana yang memberikan kedamaian dan ketenangan. Untuk mewujudkannya tentu membutuhkan kesaaran tinggi  untuk menciptakannya. 

Pembiasaan positif,  mendisiplinkan, inilah  dasar dalam menciptakannya.  Namun sering kali orang tidak mengetahui sepenuhnya melakukan pembiasaan yang positif dan akhirnya melanggar.  Oleh sebab itu sekolah sebagai institusi penegak moral, akan tampil sebagai garda kedua setelah rumah. 

Pembiaan postif layaknya diterapkan di sekola. Mulai pembiasaan berdoa sebelum belajar, berbaris, mengucapkan salam,  berbicara  santun. dan masih banyak lagi yang menjadi kebiaaan.  Namun tidak semua murid akan memiliki kesaran untuk melakukannya. Akhirnya banyak tingkah laku murid yang melanggar norma dan kebiasan positif. Kebiasaan di sekolah kita sejak lama, pastilah murid tersebut akan mendapat hukuman agar bisa menegakkan disiplin. 

Mungkin  saat ini  berkurang guru memberikan hukuman pada murid.  baik hukuman fisik ataupun ucapan. Tapi masih tetap saja ada yang melakukannya.  Misalnya murid yang tidak mengerjakan PR dihukum untuk  di luar kelas mengerjakan.  Murid berdiri di depan kelas karena tidak mengerjakan tugas.  Menulis 10 halaman karena belum bisa setor hafalan, Atau bahkan ada sejumlah institusi pendidikan memberikan hukuman secara fisik . Dipukul dengan  lidi, digunduli rambutnya, di jemur. Hal ini fenomena yang masih ada di dunia pendidikan Indoensia. 

Ya, benar.  Kan, guru menghukum dengan tujuan  baik, agar murud jera, agar murid lebih pandai, agar murid lebih disiplin.  Hukuman walaupun tujuannya   baik tetap namanya hukuman. Walau  hanya membersihan wc dan membersihan taman. Hukuman tetap menghukum.  Dengan cara yang baik apalagi buruk,  hukuman tetap membuat hati murid, sakit, malu, yang akhirnya merasa bersalah dan merasa rendah diri. Tidak ada hukuman yang membahagian. semua hukuman akan membekas yang menyakitkan, Malah mungkin akan berujung dengan dendam, Walau ada yang mengatakan karena hukuman saya menjadi lebih baik. Itu hanya berdamai saja dengan diri. 

Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline  meyatakan bahwa hukuman meruapkan  tingkat terendah dari motivasi perilaku manusia. Biasanya orang yang motivasi perilakunya untuk menghindari hukuman atau ketidaknyamanan, akan bertanya, apa yang akan terjadi apabila saya tidak melakukannya? Sebenarnya mereka sedang menghindari permasalahan yang mungkin muncul dan berpengaruh pada mereka secara fisik, psikologis, maupun tidak terpenuhinya kebutuhan mereka, bila mereka tidak melakukan tindakan tersebut. Motivasi ini bersifat eksternal. 

Jadi, para guru henat, mari kita hindari membisakan disiplin dengan hukuman. Ada cara yang lebih baik dari menghukum.  Yaitu membuat kesepakatan. membuat perjajian antara guru dan murid. Membuat kesepakatan antara anak dan orang tua.  Dengan ini, walau anak tidak mematuhi kesepakatan dia akan merana tanggung jawab  untuk melakukan konsekwensinya.  Tentu jika sudah membuat perjanjian,  hatinya tidak akan terluka. Jadi?   hukuman atau kesepakatan untuk menanamkan  kebiasan   positif demi terwujudnya kedisiplinan.   

Bandung Barat, 1 April 2023 Sabtu

Aksi Nyata: Diklat Calon Fasilitator Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 13)



 

Tulisan Menginspirasi

BEST PRACTISE KALISA (Katrol Lift dengan STEM) Pengalaman terbaik dalam implementasi Pembelejaran Mendalam Oleh: Mardiah SMP Negeri 3 Padala...