Antara Disiplin dan Hukuman
(Mardiah Alkaff)
Suasana yang positif pastinya sangat didambakan oleh setiap orang. Manusia akan bahagia dalam lingkungan yang memiliki suasana yang memberikan kedamaian dan ketenangan. Untuk mewujudkannya tentu membutuhkan kesaaran tinggi untuk menciptakannya.
Pembiasaan positif, mendisiplinkan, inilah dasar dalam menciptakannya. Namun sering kali orang tidak mengetahui sepenuhnya melakukan pembiasaan yang positif dan akhirnya melanggar. Oleh sebab itu sekolah sebagai institusi penegak moral, akan tampil sebagai garda kedua setelah rumah.
Pembiaan postif layaknya diterapkan di sekola. Mulai pembiasaan berdoa sebelum belajar, berbaris, mengucapkan salam, berbicara santun. dan masih banyak lagi yang menjadi kebiaaan. Namun tidak semua murid akan memiliki kesaran untuk melakukannya. Akhirnya banyak tingkah laku murid yang melanggar norma dan kebiasan positif. Kebiasaan di sekolah kita sejak lama, pastilah murid tersebut akan mendapat hukuman agar bisa menegakkan disiplin.
Mungkin saat ini berkurang guru memberikan hukuman pada murid. baik hukuman fisik ataupun ucapan. Tapi masih tetap saja ada yang melakukannya. Misalnya murid yang tidak mengerjakan PR dihukum untuk di luar kelas mengerjakan. Murid berdiri di depan kelas karena tidak mengerjakan tugas. Menulis 10 halaman karena belum bisa setor hafalan, Atau bahkan ada sejumlah institusi pendidikan memberikan hukuman secara fisik . Dipukul dengan lidi, digunduli rambutnya, di jemur. Hal ini fenomena yang masih ada di dunia pendidikan Indoensia.
Ya, benar. Kan, guru menghukum dengan tujuan baik, agar murud jera, agar murid lebih pandai, agar murid lebih disiplin. Hukuman walaupun tujuannya baik tetap namanya hukuman. Walau hanya membersihan wc dan membersihan taman. Hukuman tetap menghukum. Dengan cara yang baik apalagi buruk, hukuman tetap membuat hati murid, sakit, malu, yang akhirnya merasa bersalah dan merasa rendah diri. Tidak ada hukuman yang membahagian. semua hukuman akan membekas yang menyakitkan, Malah mungkin akan berujung dengan dendam, Walau ada yang mengatakan karena hukuman saya menjadi lebih baik. Itu hanya berdamai saja dengan diri.
Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline meyatakan bahwa hukuman meruapkan tingkat terendah dari motivasi perilaku manusia. Biasanya orang yang motivasi perilakunya untuk menghindari hukuman atau ketidaknyamanan, akan bertanya, apa yang akan terjadi apabila saya tidak melakukannya? Sebenarnya mereka sedang menghindari permasalahan yang mungkin muncul dan berpengaruh pada mereka secara fisik, psikologis, maupun tidak terpenuhinya kebutuhan mereka, bila mereka tidak melakukan tindakan tersebut. Motivasi ini bersifat eksternal.
Jadi, para guru henat, mari kita hindari membisakan disiplin dengan hukuman. Ada cara yang lebih baik dari menghukum. Yaitu membuat kesepakatan. membuat perjajian antara guru dan murid. Membuat kesepakatan antara anak dan orang tua. Dengan ini, walau anak tidak mematuhi kesepakatan dia akan merana tanggung jawab untuk melakukan konsekwensinya. Tentu jika sudah membuat perjanjian, hatinya tidak akan terluka. Jadi? hukuman atau kesepakatan untuk menanamkan kebiasan positif demi terwujudnya kedisiplinan.
Bandung Barat, 1 April 2023 Sabtu
Aksi Nyata: Diklat Calon Fasilitator Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 13)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar