Literasi Sains Digital  

Pembangun Karakter Dimasa  Pandemi Covid 19




                                                  Penulis:  Mardiah Alkaff

            (Pembina Science Club SMP Negeri 3 Padalarang Kab.Bandung Barat)

 

Puncak Pandemi Covid 19 di bulan Mei, Science Club SMP Negeri 3 Padalarang tetap semangat  melaksanakan Lomba Eksperimen Sains (Lensa) yang ke 10. Tekniknya, pasti berbeda dari biasanya. What Aps, Zoom, Goggle Classroom, Instagram dan Youtube menjadi pendukung utama dalam kegiatan ini. Teknik  disesuaikan dengan protokol kesehatan pandemi, Siswa dan guru bekerja dari rumah dengan metode Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).  Sehingga   tema yang diambil adalah “:Tetap Semangat Lomba Eksperimen Sains  dengan Digital walau Covid 19.

Peserta adalah anggota Science Club kelas 7 dan 8 angkatan 14 dan 15. Mereka memilih judul eksperimen  dari Youtube sesuai keininginan. Siswa menyiapkan   alat dan bahan sederhana,  mencoba eksperimen  sampai membuat dan mengedit video, dilakukan di rumah masing-masing. Guru hanya memberi  arahan dari  jarak jauh.  Video eksperimen,  diunggah  dalam instagram untuk dipublikasikan di umum dan  penilaian juri. Hasil lomba  diumumkan satu bulan kemudian. Juara  dan semua peserta mendapat  reward berupa pulsa. Karena itu yang paling mereka butuhkan saat ini.  

Memang awalnya ini sebuah tantangan baru bagi pembina dan anggota.  Semua merasa ragu, mungkinkah siswa akan bisa melakukannya di rumah?  Bisakah guru memberikan motivasi dan dorongan tanpa bertatap muka? Namun karena suport   dan dukungan penuh dari Kepala Sekolah Iwan Ridwan Setiadi,S.Pd, M.Pd, maka Lomba Eksperimen Sains Digital di saat Covid berjalan lancar sesuai yang diharapkan. 

"Alhamdulillah Science Club SMP Negeri 3 Padalarang dapat menyelenggarakan Lomba Eksperimen Sains Digital, di saat siswa belajar dari rumah dan mengisi libur akhir tahun pelajaran di masa Pandemi Covid-19. Dengan lomba ini diharapkan siswa dapat berkarya, menggali potensi diri, berani mencoba, bereksperimen serta dapat menambah wawasan dan keterampilan. Kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada orang tua, guru pembina dan pembimbing SC  SMP Negeri 3 Padalarang atas partisipasi dan dukungan atas suksesnya kegiatan ini. Pesannya,  terus berkarya di masa Pandemi covid-19," demikian ungkapan kepala SMP Negeri 3 Padalarang Iwan Ridwan Setiadi,S.Pd, M.Pd,

Keberhasilan Lensa Digital ini juga berkat dukungan  Pembina SC  Mardiah,M.Pd dan  Rini Wulan, S.Pd serta Agus Maulana sebagai pelatih yang juga alumni SC.08. Tentunya juga partisipasi besar dari para juri , Dra. Imas Akillah, Drs.Arief Budi dan Tulodo Cipta, S.Pd. Serta dukungan  dari  guru dan staf SMP Negeri 3 Padalarang.  Panitia kelas 9 sebagai SC.013 yang diketui oleh Audrey Amanda Rostemi bekerja  kerja keras,  penuh  kesabaran membimbing adik-adiknya  hingga mampu menghasilkan video eksperimen sains dan  mengunggahnya  di Instagram. .




Fitri Hania dengan judul Roket Air telah muncul sebagai juara terbaik kesatu.. Zahira Marsha Diva dengan judul The Power of Air terpilih sebagai juara terpavorit karena terbanyak mendapat like di instagram. Sedangkan  terpilih sebagai juara inovatif pertama  adalah Nabilah Rizqullah dengan judul Gelas Pelangi,  Terkreatif pertama dengan judul Gelembung di dalam Gelembung diraih oleh Anida Mutamitul Ula. Judul eksperimen lainnya sebagai juara kedua dan ketiga adalah Api dalam Air (Bunga Cantika), Tornado dalam Air dan Minyak (Aprillia),  Bunga Merica (Haida Sumarni), Lampu Lava ( Khodijah Nur Alya), Melting Rainbow (Tessalonica Adelen), Vacuum Candle (Revina Anggraeni), Layer of Mass different types of liquid (Anggun Revalina Syifa), Rainbow Milk (Nesya Regina Safanahbu),   

Seru sekali Lensa. Awalnya males  tapi pas mencoba, ingin mencoba lagi,”  demikian curhatan Nabilah Rirqullah salah satu juara.  “Awalnya tidak mengerti tentang Google Classroom bahkan tidak tahu. Tapi setelah ada Lensa Digital saya jadi paham cara  menggunakannya. Pokoknya Lensa Digital  Covid 19 ini, sangat bermanfaat”, demikian ungkapan Zahira Marsha Diva sang juara pavorit.

Begitu juga kekaguman Anida Mutamitul Ula, “Asalnya sangat susah mengedit video, sampai berkali-kali aplikasi video didownlod. Sampai ruang penyimpon  habis. Akhirnya menghapus banyak aplikasi dan foto lainnya demi ikut Lomba sains.  Awalnya hampir menyerah karena susah mengeditnya.   Tapi karena terus berjuang dan berusaha akhirnya berhasil deh, jadi juara pertama terkreatif. Jadi  pelajarannya,  di saat Pandemi begini,   kita gak boleh gampang menyerah selagi  belum berusaha dan berjuang.”

Lomba eksperimen Sains (Lensa) ini  akan terus berjalan  karena merupakan salah satu kegiatan unggulan dan rutin tahunan di  Science Club.  Pada ekskul ini,  paling utama adalah menumbuhkan rasa cinta remaja pada dunia  sains. Selain itu,   kegiatannya mampu membangun banyak karakter positif. Keberanian, aktif, kreatif, tidak mudah putus asa, kuat, tangguh dan pastinya percaya diri tumbuh dengan baik. Dalam ekskul Sains di SMP  siswa tidak diharapkan menjadi peneliti profesional.  Namun,  sedini mungkin memberi bekal menjadi manusia tangguh yang berhasil menaklukkan berbagai tantangan dengan ilmu dan kegiatan  sains. Harapannya, dengan variasi dan berkesinambungannya kegiatan SC,  di masa depan mereka akan tumbuh menjadi pemimpin yang jujur dan berani menghadapi tantangan.”  demikian Mardiah Alkaff sebagai perintis berdirinya ektrakurikuler Science Club SMP Negeri 3 Padalarang  sejak 2005.





 




        

 

 

 

 

 

Lebaran  Corona









Selamat Iedul Fitri. 
Kebiasaan warga  perumahan,  mudik lebaran setiap tahun. Karena umumnya, pendatang dari berbagai kota di tanah air. Tapi  karena PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar)  hampir semua, stay at home.

Tegal,  Cilacap,  Cirebon,  Jakarta,  Bekasi, Pontianak dan masih banyak lagi. Hampir semua daerah itu masih zona kuning atau merah. Ya,  mau maksa bagaimana?

Beberapa orang,  berurai air mata  mengingat kumpul keluarga dan orang tua di kampung. Mata berkaca-kaca sambil menceritakan anaknya yang kerja atau kuliah di luar kota.  Tidak bisa pulang lebaran karena tertahan wabah dan karantina.

Dengan masker dan jaga jarak,  kami mengusakan tetap bertemu tetangga. Hanya untuk saling memberi semangat dan menghibur agar lebaran tetap bahagia.

Tradisi membuat kue lebaran masih bisa dilaksanakan. Biasanya  kue dibawa ke kampungnya.  Kini, hanya untuk dinikmati sendiri atau berbagi dengan tetangga saja.

Suasana komplek  menjadi  ramai. Biasanya, seminggu menjelang lebaran,  jalanan bagai kuburan. Hanya dua atau tiga rumah yang tetap ada. Kini,  hampir setiap malam warga berkumpul di saung mengisi bulan Ramadhan dan PSBB.

Yaps, kini kami punya saung bambu yang baru. "Kalau gak ada wabah corona, gak akan punya saung sebagus ini" celoteh seorang Ibu dengan bangganya.

Yaaah, begitulah .... Selama Pandemi Corona warga banyak yang dirumahkan,  berhenti bekerja,  orderan sepi. "Diam di rumah saja,  pasti jenuh, malah sakit", jelas seorang Bapak yang biasa kerja. Akhirnya mereka tetap menghibur dengan kerja bakti.

Akhirnya selama tiga bulan mengisi Covid 19, kami punya balai riung yang diberi nama "Saung Cinta."  Gazebo tempat mengikat dan menumpahkan kasih sayang dengan tetangga. Jalanan yang asalnya berlubang dan berbatu,  kini rapih dan bersih. Bahkan taman pun yang asalnya rumput kini tertata rapih dengan bebagai tanaman.

Seminggu sebelum lebaran,  warga mencari janur untuk ketupat. Cukup jauh pesannya,  dari Cianjur lho ....

Sambil menghibur kerinduan  kampung dan keluarga,  setiap hari warga bekerjasama membuat kulit ketupat. Seribu buah, cukup banyak. Hasilnya dijual ke warga lagi dengan online pakai whattapss.  Sehingga, pesanan membludak. Tak sulit memasarkannya, bahkan kurang.  Keuntungan tetap untuk warga. Masuk ke uang kas pengajian.

Rasa menjadi saudara karena kulit ketupat, makin erat. Ada bagian produsen,  produksi,  pemasasan ada konsumsumen. Ehmmm .... Kerjasama yang kompak dalam bertetangga. "Tapi, lebaran tahun depan,  belum tentu kita bikin ketupat bersama lagi," seorang Bapak sambil melipat janur kelapa.


Saat tiba lebaran,  semampunya  kita saling memberi semangat untuk tetap bahagia. Tetap shalat Ied dengan jaga jarak, bermasker dan jumlah yang dibatasi.
Hanya keingianan,  suasana seperti biasa,  tapi tetap saja. Shalat lebaran kali ini ada yang hilang. Setelah doa,  tradisi salam-salaman sambil bershalawat,  tidak ada lagi.

"Sekarang  pulanglah ke rumah masing-masing.  Kami meminta maaf, dan kami sudah    memaafkan. Kita semuanya sudah saling memaafkan," suara bergetar khatib menjelaskan setelah selesai doa.

Dengan hambar dan tak bersuara, semua berpencar. Tak ada yang bergerombol. Berjalan  masing-masing. Tertawa dan tersenyumpum seperti yang dipaksakan. Kalau pun harus bersalaman,   dari jarak jauh. Semua wajah,  tak ada yang ceria seperti biasanya. Mungkin pikiran masing-masing menerawang pada kebahagian lebaran tahun lalu.

Ya,  memang hati kosong dan inginya meronta. Lebaran tak biasa, Iedul fitri dalam pandemi virus. Sepertinya,  setiap rumah hanya menikmati ketupat,  rendang,  opor kue di rumah masing-masing. Tak ada kumpul seperti biasa. Mungkin setiap rumah sedamg menerawang kampung halamannya. Mungkin di setiap rumah sedamg video call dengan keluarga di desa. Dan saung pun,  kosong. Jalanan kembali sepi. Semua kembali masuk rumah masing-masing. Hiks,  Lebaran tanpa sanak keluarga.


Seminggu kemudian dapatlah kabar,  kalau daerah kami sudah zona biru. Maka  berlaku new normal. Ahaaa ... Agak sedikit bersorak walau tetap waspada.

Hari minggu pagi, Pak RT mengajak  warga senam depan saung.  Kebahagiaan sedikit hadir karena kita bisa tertawa dan bercanda.
Setelahnya,  ibu-ibu merencanakan untuk makan bersama (botram) se-RT di Saung Cinta. Inilah kumpul pertama bersama setelah berlaku new normal.

Karedok lenca,  sambel,  goreng tempe, tahu, ikan asin,  goreng ikan mas, daun singkong dan pastinya kue lebaran.  Semua warga menyambut gembira.  Makan bersama pasca lebaran.  Saung yang berukuran cukup luas, tak ada yang kosong.

"Saya baru sekarang bisa kumpul,  bisa keluar rumah lagi dengan tenang,  bisa makan bersama,"  ungkap seorang ibu dengan wajah berbibar dan bibir merekah. "Ya,  ya,  saya juga, baru sekarang bisa bebas di luar rumah" Ibu-ibu lainnya serentak  menimpali.

Baru kali ini kami bisa kumpul bersama tetangga.  Walau lebaran tak bertemu keluarga besar di kampung,  namun kini tetanggalah yang menjadi keluarga besar kami.

Setelah makan, dilajutkan dengan cerita dan curhat pengalaman wabah corona. Setiap orang memiliki cerita masing-masing. Umumnya  kepanikan,  kecemasan dan ketakuan wabah covid saat zona merah. Namun semua cerita itu menjadi pengalaman yang membuat semua tertawa.

Saling menertawakan yang tertawa karena pengalamanya. Ada yang selalu mules ketika ambulan covid lewat rumah,  ada yang sampai masuk rumah sakit karena cemas covid. Ada yang berantem dan sakit hati karena dipaksa memakai masker dan jaga jarak.  Ada yang terus-terusan pakai hand sanitager, ada yang yang setiap sudut rumah disemprot disinfektan. Semuanya menjadi cerita lucu dan pengalaman unik.

Lebaran dalam wabah Covid 19, telah menyisakan sejarah berharga yang tak mungkin bisa diulang. Lebaran tak mudik, tetap bahagia.  Lebaran dalam pandemi tetap suka cita karena kekuatan tetangga.  Semua tersadar. Bertetangga sumber energi untuk tetap kuat dalam situasi yang mencekam.

Salam Bahagia
Selamat Lebaran menjelang New Normal
(Mardiah Alkaff,  Padalarang 4 Juni 2020 pukul 15.30)




      


Tiga Hari 14  Tropi


Wow,  tiga hari berturut-turut.  Kamis, Jumat,  Sabtu ada 14 piala yang telah didapatkan oleh siswa SMP Negeri 3 Padalarang Kabupaten Bandung Barat dalam tiga buah kompetisi yang beruntun.
"Prestasi yang lengkap, membanggakan tentunya diraih dengan proses pembinaan dan latihan. Pastinya disertai  dukungan banyak pihak termasuk orang tua siswa," demikian tanggapan kepala sekolah,  Iwan Ridwan Setiadi, S.Pd,M.Pd

Juara  pertama dan pavorit Short Movie dan juara pertama Musikalisasi Puisi dalam  kegiatan  Fitrah Insani Education Festival 2020 . Kamis 13 Pebruari 2020 SMK IT Fithrah Insani sebagai panitia telah memberikan pula  penghargaan sebagai  juara 3 Story Telling dan juara Favorit Fotografi.

Film pendek karya siswa mengambil judul "Two Sides - IT Club Present."  Sedangkan Musikalisasi Puisi  berjudul "Aku" karya Chairil Anwar.

https://youtu.be/Oz9bN_Bt1qU
(Silahkan Klik ....! Film Pendek Juara Pertama)





Tim guru  yang solid dan kompak berkerja dalam menyiapkan dan melatih siswanya. Arip Budi,  Yudi Cahyadi, Dewi Risniawati, Asti Indiani  dan Nani Yuhaeni  hingga mendapat  lima  buah tropi  dalam satu hari.






Satu hari kemudian,  Jumat 14 Pebruari 2020 Futsal SMP Negeri  3 Padalarang telah meraih juara pertama dalam kompetisi di Cahaya Bangsa Classical School (CBCS)  Kota Baru Parahyangan.  Prestasi yang gemilang ini berkat bimbingan Yulia Daniawati yang juga sebagai pelatih Hoki Kabupaten Bandung Barat.



Hari berikutnya, Sabtu 15 Pebruari 2020 dalam event  LKBB BRISAKHA  tingkat SMP Se-Jawa Barat di SMA Nasional Bandung kejuaran telah diraih.  Sugiarto  Sang Pelatih Brigade Pengibar Bendera (Brigara) SMP Negeri 3 Padalarang,   yang sudah melatih sejak 2002 menjelaskan bahwa   Brigara sudah meraih ratusan tropi dari berbagai angkatan. "Prestasi Brigara  berkat ketekunan para pelatih diantaranya  Irfan Rachmansyah, M.Rady Ramadhan, Agus Gusto, Darusman Soleh," demikian Sugiarto menjelaskan.

Kejuaran kali ini telah mendapatkan 8 buah tropi dengan kriteria sebagai berikut:
1. Juara 2 Utama Lkbb Brisakha Tingkat SMP Se-Jawa Barat
2. Juara 3 Utama Lkbb Brisakha Tingkat SMP Se-Jawa Barat
3. Juara Harapan 3 Utama Lkbb Brisakha Tingkat SMP Se-Jawa Barat
4. Juara Mula 3 Lkbb Brisakha Tingkat SMP Se-Jawa Barat
5. Juara 2 Variasi dan Formasi Lkbb Brisakha Tingkat SMP Se-Jawa Barat
6. Juara 2 Komandan Terbaik ( David ) Lkbb Brisakha Tingkat SMP Se-Jawa Barat
7. Juara 2 Pbb Dasar Terbaik Lkbb Brisakha Tingkat SMP Se-Jawa Barat
8. Juara 3 PBB Dasar Terbaik Lkbb Brisakha Tingkat SMP Se-Jawa B]arat

"Mungkin baru kali ini dalam sejarah. Tiga hari berturut turut SMP Negeri 3 Padalarang menjuarai lomba di bidang dan ajang yang berbeda. Sebanyak 14  tropi dapat diraih dengan keringat motivasi dari kerja keras yang maksimal. Semua tidak terlepas dari hasil proses pembelajaran di sekolah yang signifikan. Maju terus SMP Negeri 3 Padalarang dalam menyiapkan Indonesia maju.  Alhamdulillahirrobbil alamin," demikian kesan Arif Budi,  salah seorang guru TIK dan pelatih Literasi Digital.

Penulis
Mardiah Alkaff
Padalarang 16 Pebruari 2020





SELAMAT DAN SUKSES TERUS 

TIM BRIGARA, FUTSAL, IT CLUB , ENGLISH CLUB, EKSKUL BAHASA 
YANG TERLAH MERAIH PRESTASI


Selamat untuk kalian semuanya:

A.  Musikalisasi Puisi
    1. Ziankha virginia A. (7A) 
    2. Iik Dwi Ima Wirda (8D)
    3. Puspita Agnia Hikwati Asyura (7A)
     4. Rifni Fatimah (7E)
    5. Samuel Trianto Sunardi (8C)

B. Stort Telling
   1. Risma Aulia Putri Susanto

C. Lomba Fotografi
     1. Taufik Mutaqin (9D)

D.  Short Movie
1. Dollarizki  (9C)
2. M. Aditya (9B)
3. Hanny Hartini (9A)
2.  Luqmanul Hakim, (9H)
3. Nazwa Gracelia (9E)
4. Risang Qudrotu Pratama (9D)
5. Muhaemin Nul Aziz (9D)
6. Raina sabila abdullah (8D)
7. Muhammad Alifh    Ramadhan (9D)

E. Futsal

1. M adi
2. Dandi
3. Ikhsan
4. Febrian
5. Aray
6. Dzakwan
7. Gilang
8. M Ridwan
9. Syamsul 
10. Deni
11. Yoga


Petualangan Caya dan Moli 

di  Gua Pawon.


Gambar terkait      Hasil gambar untuk animasi gambar kera   







  Hasil gambar untuk di gua pawon  

“Tunggu Moli, kakiku pegal banget, nih. Jangan tinggalkan aku dong!” pinta Caya pada sahabatnya Moli. Mereka sedang meniti tangga batu   menuju ke sebuah gua di bawah bukit kapur.  “Masa harus aku gendong, sih?” jawab monyet kecil sahabat Caya. “Ya, gak gitu juga dong,” jawab pemuda berkulit sawo matang itu  sambil cemberut.
 “Moli, kamu kentut, ya? Atau jangan-jangan, kamu  buang air besar?” tanya caya  sambil menutup hidungnya. “Walah, sembarangan, kamu menuduh aku, ya? ” seru monyet kecil sambil nyorot  
“Lah, kok ini bau banget,” jelas Caya  sambil terus berjalan ke mulut Gua Purba yang menyeramkan.
  "Makanya, jangan menuduh!  Tuh, lihat ke atas!” Monyet cerdik menunjuk atap gua..
Deg ... deg ... jantung Caya berdetak cepat, mukanya memerah. “Walah apa itu?” teriak Caya sambil mundur tiga langkah. “Weleh ... weleh, dasar manusia, kamu takut, ya?” ejek Moli sambil loncat-loncat. Caya keheranan sambil terus memandang hewan kecil yang berputar-putar di alas kepalanya. “Apa ya, burung? tapi bukan, kok bisa terbang?” bisik Caya.

Hasil gambar untuk di kelelawar dalam gua
Itu sahabat-sahabat aku, Caya.  Mereka kelelawar penghuni gua ini. Mereka baik. Bau menyengat, itu Kotoran mereka. Tapi   bermanfaat lho. Suka dijadikan pupuk.” Jelas moli sok berlagak pinter. “Tapi biasanya mereka aktifnya di malam hari. Kalau gelap mereka mencari makan, kalau siang ya, hanya di sini atau tidur di sela-sela batu itu.” Moli menjelaskan pada sahabatnya.


Puluhan kelelawar berputar-putar mengeliligi tengah gua yang ujungnya berlubang menyerupai cerobong asap.

“Nah, caya. Lubang gua yang banyak kelelawar itu, mirip cerobong asap, makanya disebut gua pawon. Pawon dalam Bahasa Sunda artiya  dapur” Kera kecil berceloteh sambil terus berjalan masuk ke dalam gua.

Ayo, dong cepat jalannya. Pinta Moli pada pemuda tampan yang suka petualang itu.
‘Awww... sakit, apa ini, gelap lagi ?” Caya berteriak. “Makanya hati-hati kawan. Ruangan ini sempit dan licin.” Jelas kera dengan pedenya.

“Awal ditemukan,  di sini banyak ala-alat dapur yang   terbuat dari batu purba. Tapi semuanya sudah disimpan di museum Geologi di Bandung.” Monyet cerdik itu memberi tahu.  

“Ayo sahabatku, kita lanjutkan.   Di dalam lebih segar karena banyak pohon dan atapnya terbuka,” jelas kera.  “Hati-hati, jalannya licin.  Tuh, kan banyak air yang menetes dari atap gua, itu stalagtit.  Karena ini bukit kapur, zaman purba ini dialiri air, karena daerah ini adalah dasar lautan.” Tambah Moli seperti profesor aja.

“Sto, stop ...  istirahat!”  pinta pemuda tampan itu.  “Ya, udah kita duduk  di atas batu yang paling tinngi itu,” Moli menunjuk batu di tengah gua.
Kedua sahabat itu melepas lelah sambil  menikmati buah-buahan.


Hasil gambar untuk animasi gambar monyet

“Batu yang kita duduki ini, tempat pemantauan ketua suku penghuni gua ini. Tapi. Sekarang ini dijaga oleh kawan-kawan ku. Tuh, lihat!  Mereka sedang bahagia melihat kita.”  Moli  menunjuk puluhan monyet yang sedang bercengkrama di atas pohon dalam gua.

Hai,  kawan-kawan. Kalian penunggu gua ini, kan? Teriak Moli.  “Benar Moli, sahut monyet yang paling besar dari atas pohon. “Caya, coba kita jalan sedikit saja. Lihat ke bawah!” pinta  monyet yang bawel.

“Wow..., apa tuh? Seperti   Tulang-tulang?” pemuda berambut sebahu itu keheran.


Hasil gambar untuk di gua pawon

“Ya, benar, itu adalah tulang manusia  yang sudah membatu. Kita menyebutnya fosil manusia purba yang merupakan nenek moyang bangsa manusia. Telah ditemukan oleh   Balai Arkeologi Bandung pada 2002” Kera cerdas itu menjelaskan pada sahabatnya.



“Ah, kamu, Moli, sok tahu lagi. Sejak tadi kamu terus menjelaskan tentang sejarah gua ini,” seru pemuda berbaju pangsi.


Gambar terkait
“Alaah, mak. Kamu ini lupa ya? aku kan, Si Moli, Moyet Literasi.  Aku banyak tahu, karena  suka membaca seperti anak-anak yang lain.  Aku sering masuk perpustakaan kalau lagi sepi. Hi...hi..hi...  Karena aku juga ingin pinter sepeti kalian.” Celoteh kera sambil memegang ekornya yang melambai ke tanah.

“Ha ha ha,” kedua sahabat itu tertawa bahagia.  “Waduh, sudah mendung nih,  Kita pulang yuk!” Ajak Caya  Mereka berdua, kembali masuk dalam gua Pawon. Dengan  hati-hati mereka menyusuri dalam gua yang sangat gelap dipenuhi  stalagtit dan stalagmit. Hingga tiba di mulut gua paling luar. 

Kedua sahabat itu berencana melanjutkan petualangan berikutnya.



Salam Petualangan
Salam Literasi

Mardiah Alkaff
Padalarang 8 januari 2020






























Speech To Text  

Merubah Suara menjadi Tulisan



 Reviu Buku dari "Rumah Belajar" Kemendikbud


Disusun Oleh:
Mardiah, M.Pd
SMP 3 Padalarang




Hasil gambar untuk gambar buku ipa kelas 8 semester 1


Peserta Virtual Conditional Training (VCT)
Bacth  5 Jabar 6.1-3



A. Reviuw Buku Pertama




Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Baiklah Pada kesempatan ini saya Mardiah dari SMP Negeri 3 Padalarang sebagai peserta dari VCT   6.1-5 Jawa Barat  tahun 2019 akan menyajikan sebuah review buku yang diambil dari "Rumah Belajar" Kemendikbud.

Bukunya berjudul Ilmu Pengetahuan Alam semester 1 untuk 8, yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI tahun 2017.

Kelebihan buku ini ada 6 poin. Pertama, dari sampulnya sangat menarik, warnanya jelas dan cerah.  Kedua, konten gambar sudah menandakan isi buku.  Yang ketiga,  isi materi pelajaran sudah sesuai dengan silabus.  Yang keempat,  penyusunan materi sudah menggambarkan adanya IPA terpadu antara teori sains,   manusia hewan dan tumbuhan. Yang kelima, rumus yang disajikan sudah sangat sederhana sehingga siswa mudah memahami isinya.  Yang keenam,  sederhana sehingga siswa mudah mengikuti.

Kekurangan dari buku ini tidak terlalu banyak, hanya  ada 3 poin  yang dapat  saya sampaikan. Pertama, bahasanya masih terlalu sangat baku sehingga siswa perlu berpikir lama untuk memahaminya.  yang kedua, latihan soal masih mengacu secara umum pada pengetahuan saja. yang ketiga, evaluasi sikap dan keterampilan masih kurang.

Sekian review buku yang saya sampaikan. Terima kasih.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh lagu wabarakatuh.

(Untuk lebih jelas bisa dilihat video tutorial bagaimana Merubah Suara menjadi tulisan)






2. Review Buku Kedua


Hasil gambar untuk gambar buku hidup rukun tematik terpadu kurikulum 2013
                                

Baiklah Pada kesempatan ini Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Perkenalkan saya Mardiah dari SMP Negeri 3 Padalarang peserta vCT  5 Jawa Barat 6.1 kelompok tiga.  

kali ini saya memilih sebuah buku untuk di review yang berasal dari rumah belajar Kemendikbud yang berjudul Hidup Rukun. Saya tertarik dengan ini karena judulnya sangat sederhana.  Maknanya dalam buku ini merupakan buku tematik. Buku tematik terpadu kurikulum 2013 untuk guru SD dan MI kelas 2.  Hak cipta dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2017.

Kelebihan buku ini banyak sekali ada beberapa.  Pertama,  buku ini merupakan panduan bagi pendidikan dasar yang harus dimiliki oleh anak-anak di kelas rendah.  Kemudian, kelebihan yang lain ini adalah judulnya sangat sederhana namun maknanya sangat dalam dan sangat penting sehingga ada daya tarik untuk mengetahui isinya.

Kelebihan yang ketiga adalah sampulnya sangat sederhana dan ringan sehingga sangat  menarik untuk dibaca.  Kelebihan yang keempat huruf yang digunakan dalam buku ini tidak kaku namun santai dan tidak resmi, sehingga tenang untuk membacanya. Huruf ini menggunakan jenis komik. 

Kelebihan lainnya, adalah isi buku ini sangat variatif untuk membina hidup rukun disajikan dalam pelajaran yang sangat menarik misalnya bernyanyi bercerita diskusi bermain kegiatan bersama orang tua dan lain-lain. 

Kelebihan lainnya buku ini adalah latihan dan penugasan nya sudah mengarah pada sikap keterampilan, tidak terfokus pada pengetahuan saja. Dari banyaknya kelebihan itu hanya sedikit sekali kekurangan dari buku ini yang saya amati.  Pertama. perpaduan antara kegiatan 1 dan kegiatan lainnya kurang terlihat adanya benang merah tapi hanya sedikit saja kekurangan.  Gambar dan ilustrasinya itu kurang banyak, hanya sedikit . 

Ketiga, bahasa yang digunakan Sudah santai namun masih terdapat kekakuan namun secara umum buku ini sangat menarik baik dari judul isi ataupun pemilihan huruf yang digunakan demikian review yang saya lakukan dari buku ini.

Sekian dan terima kasih.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

  

Untuk leboh jelasya, bisa dilat dlam link ini: 






      







Padalaraang 
11 September 2019

Mardiah Alkaff
08122017090 / mardisyakir@gmail.com



BOTRAM  ITU BELAJAR KARAKTER LHO!



     

"Botram adalah istilah untuk Makan Bersama di Jawa Barat"


"Aku dulu bu, aku yang ini, ah..ibu".  Siswa anggota Science Club, menyodorkan  nasi beralas kertas untuk minta bagian rendang.

 Makan bersama dilapangan sekolah. Walau harus berebut nasi, berbagi ayam,  menarik kerupuk dan sambel. Diakhiri berebut minuman gelas.

 Aku hanya bisa tersenyum haru dan bangga.Mengapa?
 Adik-adik  patungan uang dan beras satu gelas untuk membahagiakan kakak kelasnya. Dikelola oleh ketua angkatan, diam-diam sang adik menyediakan kado istimewa buat sang kakak  yang akan melanjutkan ke SMA.  Artinya, kakak akan meninggalkan adik di SMP. Sedih dong, pastinya sih. Mereka akan kehilangan karena sudah  akrab saat  kakak  membimbing dan melatih   selama dua tahun.

 Aku sebagai pembina,  sangat bahagia walau harus memasak semua makanan untuk mereka.
Berbagi dan makan bersama, yang biasa disebut botram, membuat mereka sangat bahagia.Walau kebagian sedikit. Walau harus satu alas bertiga, walau harus  menarik daging ayam. Namun semua wajah  penuh tawa dan gembira

Hanya beralas kertas nasi, duduk di lantai  melingkar, namun kepuasaan terpancar dari aura wajah yang ceria. Pembelajaran kebersamaan, saling berbagi telah mengajarkan banyak  karakter yang dilalui dengan kebahagian.

  Aku tak pernah merasa bosan dan lelah. Kegiatan ini rutin dilakukan dalam akhir semester. Bahkan siswa  akan menagih botram jika aku lupa.

 Tak perlu merasa lelah, walau aku harus belanja ayam 9 kilo lalu memasak di rumah. Menyiapkan nasi untuk 130 orang. Tidak mengeluh karena terobati  saat melihat mereka makan melingkar di lapang dengan canda tawa. Saat itu timbul kebahagiaan seorang ibu yang melihat anaknya makan lahap.

 Mungkin di rumah masing-masing, menu makanan lebih enak, duduk di meja makan, piring bagus dan menarik. Saat ini,   serba sederhana namun dilakukan bersama teman, adik dan kakak kelas.

 Apalagi para alumni memandu   outbond permainan berkelompok. Satu kelompok diikat dengan rapia yang anggotanya campuran kelas 7, 8 dan 9.

  Kembali aku hanya bisa haru dan bangga. Alumni yang dulu pun  adalah siswa  SMP, kini telah mampu menjadi pemimpin.  Bisa mengarahkan adik-adiknya agar  bekerja sama dalam menyelesaikan permasalahan.

Dari kegiatan ini sangat terlihat  jelas bahwa pembelajaran karakter bisa dilakukan dengan  menyenangkan dalam suasana yang santai.

Patungan, makan bersama, berbagi, bermain kelompok membimbing, mengatur acara  semua dilakukan dengan tanggung jawab dan sesuai kemampuannya.

Perencanaan dan pelaksanaan semua dilakuka oleh siswa. Guru hanya mengarahkan dan membantu.



 Inilah pembelajaran berakter. Sederhana, namun belajar langsung pada satu kegiatan nyata.
Tidaklah sulit menumbuhkan karakter positif bagi siswa. Asalkan guru kreatif mencari bentuk dan strategi, semua akan dicapai dalam kebersamaan dan suasana yang bahagia penuh kesan positif.

 Salam Belajar Berkarakter dalam kebahagiaan.

Padalarang, 27 Mei 2017
Melepaskan Science Club. 010.




SEMAKIN KEBAL


Mereka yang menganggap aku orang lugu tak punya perasaan
dan tidak peka terhadap sekitar.
Mereka yang menganggapku orang ambisi 
dan selalu banyak aksi tak tahu diri.
Mereka yang menganggapku pembuat kesalahan
dan selalu salah.

Biarlah itu pikiran mereka yang hanya mampu
 melihat permukaan laut berombak dan berangin kencang, 
tapi tidak pernah menyelami dalamnya lautan.
Biarlah mereka hanya mampu melihat pucuk daun pohon beringin 
yang akarnya tidak pernah mereka gali.

Biarlah mereka hanya sebagian kecil dari rasa sakitku. 
Sedangkan aku telah melewati rasa sakit yang lebih parah dari itu semua.
Aku mampu tertawa dihadapan mereka.
 Aku sering tersenyum dan bahagia dihadapan banyak orang.
Tapi mereka tidak akan pernah tahu ketika aku sendiri di tengah malam. 
Senjataku hanya tangisan.
Sahabat ku adalah Rintihan .

Biarlah mereka memandangku dengan sudut mata. 
Biarlah hanya noda hitam dan kesalahan yang mereka pandang tentang diriku.
Biarlah mereka sibuk dengan pembicaraan buruk tentang diriku.

Namun tahukah kamu..?
Ternyata pandangan negatif mereka sangat berharga untuk kemandirian jiwaku. 
Mereka telah menguji jati diriku.

Karena mereka kini aku mampu melihat dengan mata batinku.
Karena mereka kini aku mampu melihat dengan hati bukan pakai otak.
Mereka membuat aku peka dengan sorot mata dan gerakan kecil tubuh.

Karena mereka aku mampu merasakan energi negatif dan positif 
yang menyebar dalam ruangan yang pnuh orang
Rasa sakit karena mereka 
membuat aku tahan dan kebal terhadap angin kencang yang lebih dahsyat.

Biarlah topan menerjang dengan ganas
 namun tak akan mampu merobohkan pohon kelapa yang kuat akarnya.

Pohon kelapa akan tetap kuat, 
semakin tinggi dan berbuah lebat yang penuh manfaat.

Saksikan wahai dunia pasti semua akan indah pada saatnya.

Padalarang. 9-9-2016
M.alkaff


Tulisan Menginspirasi

BEST PRACTISE KALISA (Katrol Lift dengan STEM) Pengalaman terbaik dalam implementasi Pembelejaran Mendalam Oleh: Mardiah SMP Negeri 3 Padala...