ALAM KRITIS DAN GERSANG
MEMBUAT SISWA KUAT DAN TANGGUH
(Mardiah Alkaff)
Kelas 9 sebagai panitia dengan ketua panitia Steven Yehelsken Gultom. Seksi acara Pamela Ratu Kintan membimbing merapihkan anggota baru menjadi 7 kelompok. Sedangkan kelas 8 (SC angkatan 10) berbagris seusai penjaga pos menjadi 5 kelompok. Di depan anggota baru, berbaris anggota senior mulai angkatan 1 sampai 8 yang saat ini suduh bersekolah di SMA, Kuliah ataupun bekerja,
Ya inilah gambaran kepemimpinan dengan pembagian tugas dan peran di Ektrakurikuler Scienc club. dalam kegiatan Pelantikan dan pengesahan anggota baru SC yang dilaksanakan satu tahun sau kali yang bertempat di alam. Untuk kali ini berlokasi di Gunung Hawu Padalarang yang termasuk batuan kapur, kawasan Kars Citatah.
Kami sebagai pembina bersama alumni memberangkatkan satu persatu kelompok dengan berseling 10 menit.
Pukul 08.00 semua peserta udah meninggalkan sekolah untuk menuju alam dengan hiking menuju Cipadang Manah. sawah kering, lumpur, tanah retak yang fininshnya di tebing Hawu Padalarang.
Ya bukit sedang luka, mengangang daging dan kulitnya yang sudah terkelupas.
Inilah pemandangan yang membuat kamipun merintih sedih karena harus menikmati alam yang rusak, mengering dan tandus.
Semua anggota Science Club beserta Team Rescue, bisa istirahat sejenak di pos. Sambil menunngu, kami berbincang melepas kangen dengan alumni yang sudah 8 tahun yang lalu meninggalkan SMP yang baru saja Lulus dari Politeknik Bandung Jurusan Energi yaitu Hani Aprianti. Dia anggota SC pertama yang sepuluh tahun lalu tahun 2005 merintis eskul SC dengan penuh perjuangan dan tantangan.
Tentu kami mengizinkan, karena ini adalah perjalannan menguji mental yang akan berbeda dengan sebelumnya yang tanpa bentakan, tanpa marah-marah, tanpa penekanan. dan tanpa bulying.
Ya.. biarkan alam yang megujinya.
Biarkan alam yang akan memberi pelajaran kekuatan jiwa dan fisik anggota SC.
Saat ini, uji mental tidak perlu lagi oleh kakak kelas.
Dengan nada wajar halus dan canda di pos 3 anggota baru menyusuri sawah berlumpur sehingga celana dan sepatu kotor.
Ya inilah pembelajaran berharga untuk remaja yang tidak boleh rewel dan cengeng jika kena kotor.
inilah latihan kalau anggota SC berani kotor
Tapi nampak pada anggota baru wajah berseri tanpa dendam pada kakak kelasnya.
"ayo.. SC berani kotor, SC tidak takut kotor" semakin tampak wajah berseri di wajahnya.
Saya kembali melanjutkan perjalanan menyusul kelompok 3 dan 4 yang sudah duluan menuju pos 4.
Jalan yang harus harus kami lalui adalah sawah yang sudah mengering dan retak. Inilah akibat dari kemarau panjang.
Coba apa yang menyebabkan bumi semakin panas an kemarau lama?
Disela istirahat saya mengajukan pertanyaan pada anggota SC.
Ini akibat ulah manusia. Pemanasn Global (Global warming), suhu bumi meningkat tinggi, kemarau cukup lama. ini adalah dampak dari Green House Efect karena asap kendaraan bermotor, pabrik, kebakaran hutan sehingga di atmosfeer gas rumah kaca semaki menumpuk.
Perjalanan kami lanjutnya dengan cepat untuk menyusul kelompok 2.
di akhir Pos 5, jalanan mulai menanjak, bukit kecil disampingnya ada selokan.
Sungguh berbeda dengan satu tahun yang lalu.
Selokan tanpa air, pohon di bukit mengering, rumput dijalanan tidak nampak.
Jalan menaik di bukit kapur, cukup melelahkan karena panas terik
Hanya 5 menit kami harus mendaki, tibalah kami di puncak bukit kapur.
Sungguh aneh pemandangan disini, seperti tempat asing yang baru kami singgahi,
padahala kami sering ke sini. Hanya dinding batu yang berlubang di tengah sebagai tanda bahwa ini adalah tempat biasa kami kunjungi, Tebing Hawu kars Citatah
Ya.Sangat berbeda.
Pohon dan tumbuhan sekitar tempat kami berteduh telah menghilang karena mengering, hanya ranting dan pohon mengering yang tersisa
Sehingga pemandangan tampak luas.
pohon bambu hanya batangnya saja..
Sehinga tidak ada tempat berteduh untuk kami.
Hanya beberapa pohon yang bisa kami duduk di bawahnya padahal jumlah kami hampir 200 orang. Padahal ini adalah tempat tujuan akhir kami.
Sungguh.aneh dan berbeda karena kemarau yag sangat panjang.
Namun agak ke atas dibawag tebing.nampak ada saung bambu..
Dimanakah pemuda Citatah pemandu kami yang sedang menunggu untuk membimbing.
ya. di saung itulah mereka menunngu kami.
Agak sulit mendaki bukit untuk menuju saung namun untunglah tidak tinggi.
Saya bersama pembina lainnya ibu Rini Wulan menju saung.
Dengan ngobrol beserta pemuda penunggu tebing Hawu yang banyak diantaranya mantan muridku di SMP. Kami bisa bercerita tentang kawasan Gunung Hawu, panjat tebing dan akibat kemarau di daerah ini. Kami juga merencakana mengifus tanaman untuk memberi air agar mengurangi kekeringan.
Dari atas tanpak pemandangan lebih luas lagi, namun tetap saja tanaman mengering.
Rumput menghilang dan cuaca sangat panas, sehingga kami sangat kekurangan air minum..
Dengan makanan cemilan yang ada kami bisa berbagi.
Cuaca semakin panas dan waktu sudah menunjukan pukul 12.00.
Sungguh menyengat, maka acara yang sudah kami jadwalkan dipersingkat. Dengan menghilangkan permainan dan game.
Acara inti adalah adalah pelantikan dan pengesahan anngota baru Science Club angkatan 11.
diawali dengan menyayikan lagu Indonesia Raya.
Di Bawah terik matahari bersama-sama, inilah pembelajaran keadilan untuk kuat dan tangguh terhadap cuaca ektrim dan sulit. Semua dalam kebersamaan merasakan terik panas matahari sampai ke ubun-ubun. Dalam kebersamaan semua merasakan kehausan.
inilah pemeblajaran kebersamaman dala kesulitan..
Namun suasana ini kita bisa nikmati dan lalui dengan senang dan gembira..
Ya memang, karena jika kami bersama akan selalu gembira walau dalam kesulitan.
Kegembiraan kami ditambah dengan menyanyiikan lagu Halo-halo Bandung, Tepuk Sc dan selfi..
Perjalanan pulang mengambil jalan berbeda. menyuri jalan besar lurus.
Namun lagi-lagi, ini adalah uji mental dan fisik untuk kami semua.
Jalan yang dilalui memang datar namun debu dan panas nya itu membuat kami harus menahan haus namu lagi-lagi kami dalam suasa gembira.
Jalan yang dilalui tampak bukit kapur yang sudah rusak tinggal sepotong lagi.
Dinding bukit itu satu tahun yg lalu masih tebal dan sekarang sudah menipis.
Nampak truk pengangkut batu dan traktor pengeruk bukit untuk mengikis batuan kapur.
lagi-lagi kami kami mengusap dada dan berkata...
"Haruskah ini terus terjadi sampai bukit datar dengan tanah ?".
"Haruskah kami biarkan terjadi sampai bukit menghilang ? "
Karena kami hanya seorang guru, karena kami hanya siswa, karena kami hanya remaja yang masih sekolah
Apa yang bisa kami lakukan dan apa yang bisa kami perbuat?
Tidak ada, tidak bisa berbuat banyak
Untuk saat ini hanya bisa memandang dan menyaksikan alam dan bukit dirusak oleh
belalang besi raksasa.
oh..alam sedang merintih kesakitan namun kami hanya diam dan terpaku
Maafkan mereka yang tidak memahamimu
maafkan kami yang tidak bisa membantumu
Kaki melangkah di jalan yang berdebu tebal sehinnga membuat kami harus terpeleset berjatuhan karena licin.
Inipun pembelajaran sikap dan karakter karena kami harus melewati alam yang tidak sulit namun penuh tantangan terhadap panas, debu , licin dan tanpa air minum
Ini adalah uji metal dan fisik buat kami semua,
Perjalanan ini telah memberi pelajaran berharga yang tidak didapatkan di kelas
Kegiatan ini penuh tantanan namun siswa merasa seru dan menyenangkan
Mengapa alam menjadi gersang dan krtis..?
ya... ini adalah ulah manusia jangan pernah menyalahkan Tuhan..
Terlalu banyak asap pabrik, asap kendaraan bermotor, kebakaran hutan dan asap rokok
yang menyebabkan bumi semakin panas.
Namun banyak manusia tidak menyadarinya.
Pemanasan global, apa akibatya..?
Ya es di kutub utara dan selatan mencair.
Permukakan air laut naik.cuaca berubah, iklim berubah
dan kemarau menjadi panjang waktunya
Kemarau yang sangat panjang membuat sawah kekeringan, tanah retak, pohon mengering,
tinggal ranting,. cuaca yang sangat panas menyengat.
Harus kami lalui dan nikmati..
Kami harus bersahabat dengan alam yamg kritis dan merintih
Kami harus merasakan jalanan sawah yang kering yang retak.
Kami harus menikmati sengatan matahari yg menusuk sampai ke ubun-ubun
Haus dan dahaga harus kami tahan karena tubuh kami cepat mengering
Jalan yang menurun penuh debu tebal, kering yang membuat kami harus berjatuhan terpeleset
Sepatu dan baju kami harus berbekal debu.
Semua kami jalani dengan senang dan gembira
karena...
kami adalah Eskul yang siap menghadapi tantangan, kuat dan tangguh.
Karena Kami telah diajarkan oleh alam.
Alam adalah guru kami..
Alam telah mengajarkan kami arti kesabaran dan keikhlsan
Alam telah mengajarkan kami arti kebersamaan dalam kesulitan
Alam telah mengajarkan kami untuk peduli pada lingkungan yang rusak dan kritis.
Alam telah mengajarkan kami Cinta pada PenciptaNya
Salam Lestari
Science Club SMP Negeri 3 Padalarang
Kuat dan tangguh karena Alam
Padalarang 1 Nopember 2015
Mardiah Alkaff
Mardisyakir@Gmail,com
08122240604
Tidak ada komentar:
Posting Komentar