Alam Guru Profesinal Pembangun Karakter Profil Pelajar Pancasila

Mardiah Alkaff

(SMP Negeri 3 Padalarang)

 

A.  Mengapa harus belajar di alam?

     




 

Belajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di dalam kelas atau laboratorium sudah merupakan hal yang biasa sejak lama. Pembelajaran yang dibatasi oleh waktu, dinding dan ruangan  belum maksimal dalam menumbuhkan sikap dan karakter. 

Prestasi siswa saat ini pun masih ditentukan oleh angka dan rangking yang berasal dari ranah kognitif.  Sedangkan sikap dan keterampilan masih terabaikan. Seperti menurut Majid dan Andayani (2011:108), bahwa “Tujuan pendidikan yang selama ini terabaikan  atau mungkin gagal tercapai adalah pembentukan karakter (character building). Karena Pola pendidikan di sekolah terlalu berfokus pada penguasaan aspek kognitif, sementara pembentukan karakter kurang diperhatikan.”

Dengan demikian, sebagai guru yang kreatif  harus mencari metoda dan strategi belajar yang dapat membangkitkan sikap dan karakter siswa dengan maksimal,  agar seluruh potensi yang terpendam  dapat muncul. Terutama sikap peduli lingkungan dan masyarakat sebagai bekal untuk masa dewasa jika mereka kelak menjadi pemimpin.

Belajar dengan pendekatan lingkungan melalui perjalanan (Field Trip) secara berkelompok dengan memilih waktu di luar jam pelajaran,  merupakan kegiatan yang sangat digemari peserta didik. Terlihat, saat kegiatan di luar sekolah,  muncul berbagai karakter secara alamiah.

Ada dua objek yang biasa  kami kunjungi yaitu Gua Pawon dan Stone Garden. Keduanya merupakan tempat wisata bersejarah yang dekat dengan lokasi sekolah.

Gua Pawon   merupakan sebuah  gua asli peninggalan zaman purba yang  di dalamnya  ditemukan fosil manusia. Sedangkan Stone Garden   merupakan sebuah sebuah bukit yang dikenal dengan taman batu purba.  Keduanya,   merupakan  objek wisata tempat istirahat dan berfoto karena pemandangannya sangat indah yang mudah dijangkau dengan jalan kaki.

 

B.  Ekskul Petualang Sciece Club  Field Trips dengan Hiking.

 belajar langsung  di lingkungan alam terdekat dengan observasi  melalui perjalanan (Field Trip) yang dilakukan secara berkelompok di luar jam pelajaran. Kegiatan ini merupakan penjelajahan rutin yang dilakukan oleh Siswa  SMP Negeri 3 Padalarang dalam ekstrakurikuler Sciecen Club sejak tahun 2005.

      Gua Pawon dan Stone Garden merupakan lokasi yang cukup dekat dengan sekolah dan tempat tinggal siswa.  Di Gua Pawon terdapat  peninggalan sejarah purba.  Sebagai buktinya, telah  ditemukan situs manusia purba dan batuan  kapur yang berfosil.  Di dinding gua  terdapat  stalagtit dan stalagmit. Di dalamnya, ditemukan juga perkakas dapur batu yang sudah dikelola oleh Dinas Pariwisata dan Kepurbakalaan Kabupaten Bandung Barat. Belajar  dalam gua dipandu oleh guide setempat.

Objek kedua yang dikunjungi adalah  Wisata Taman Batu Purba Stone Garden. Menuju lokasi ini dilakukan dengan hiking, yaitu berjalan kaki  melalui bukit dengan kemiringan sekitar 90 derajat. Perjalanan hanya sekitar satu jam,

Di Stone Garden, semua peserta mengamati lingkungan sekitar yang sangat jelas adanya polusi, pengrusakan alam, penambangan juga dapat menikmati indahnya alam.  

                   Belajar di alam melalui field trip  mudah  dilaksanakan dan sangat   membahagiakan.   Banyak gambaran indah yang bisa  dilihat langsung. Alam juga  menyediakan  tantanngan yang menyenangkan yang dilakukan dalam kebersamaan.

Alam   menyediakan  sumber belajar langsung  dalam pembelajaran   keanekaragaman mahluk hidup, sejarah, pencemaran, pemeliharaan dan pelestarian lingkungan hidup serta pengrusakan lingkungan karena  penggalian bukit kapur.

               

 

C.  Alam membangun  berbagai karakter dan sikap positif

      Berdasarkan pengalaman,  belajar di alam melalui perjalanan (field Trip)  dapat menumbuhkan berbagai sikap positif hingga mampu membentuk karakter siswa.

Karakter   Profil Pelajar Pancasila yang diharapkan muncul dapat tercapai dengan kegiatan ini.    Berketuhanan dan berkalaq mulia, Berkebhinekaan global, mandiri, bergotong royong, berpikir kritis dan kreatif dapat terbangun. Apalagi dilakukan secara rutin dan berkala, hasilnya akan lebih maksimal.

Alam  menjadi sumber belajar yang lengkap dan menyenangkan,  karena dapat menambah pengetahuan dan mampu menumbuhkan banyak karakter untuk mencapai siswa yang berkualitas. Ilmu yang didapat ,  berupa gambaran nyata yang mudah dipahami karena disimpan di otak kiri.  Dan  alam dapat  memberi  tantangan yang  menyenangkan dalam kebersamaan yang mampu membangkitkan rasa ketagihan untuk mengulang kembali belajar melalui field trip.

Persiapan di sekolah yang dilakukan secara kelompok, membawa perlatan,  dapat membangun karakter kerja sama dan gotong roryong serta tanggung jawab. Karena hal ini akan digunakan dan kepentingan sendiri, maka biasanya siswa akan penuh tanggung jawab mengerjakannya. Secara tidak disadari oleh  siswa, guru sudah membangun karakter.

Saat field trip dengan hiking, siswa akan menyusuri perkampungan, desa, batu-batuan purba dan  bukit. Sekitar satu atau dua jam mereka berjalan. Kegiatan ini mampu membangun  banyak karakter alami. Guru tidak perlu berceramah atau menjelaskan, namun siswa sendiri yang akan mengalami dan merasakannya bagaimana alam membangun karakter.

Di Gua Pawon terdapat situs manusia purba, batu berfosil, stalagmit dan stalagtit. Inilah bukti-bukti sejarah yang akan menambah wawasan dan pengetahuan siswa. Sehingga belajar langsung. akan mudah diingat sampai mereka dewasa,

Saat mendaki bukit menuju puncak dari Gua Pawon menuju Taman Batu Purba Stone Garden mereka akan merasakan lelah perjalan dalam keadaan panas atau hujan. Namun karena dilakukan bersama teman,  mereka terlihat Bahagia. Bercanda dan tertawa lepas biasanya muncul selama pendakian. Padahal perjalanan penuh tantangan. Inilah saatnya membangun karakter kuat dan tannguh, mandiri dan berani menghadapi tantangan.

Siswa berada  dalam kelompok, biasanya sekitar 7 sampai 10 orang. Selama perjalanan tidak jarang ada yang kelelahan atau kehabisan makanan. Di sinilah guru sebagai pembimbing mengarahkan untuk menjaga kekompakkan dan kebersamaan walau kemampuan anggota berbeda-beda.  Sehingga siswa akan menunggu teman yang terlambat atau kelelahan, bahkan akan berbagi minum atau makanan jika ada  yang tidak membawa atau kehabiasan. Inilah saatnya  membangun karakter gotong royong, peduli teman dan menghargai perbedaan.

Karena perjalanan di bawa ke alam berupa  gunung, bukit dengan pemandangan yang sangat indah. Langit terbentang dengan sangat jelas dilihat dari puncak bukit. Maka saat istirahat, guru bisa menjelaskan kalau alam yang sangat indah adalah ciptaaan Tuhan.   Manusia harus mensyukurinya,  menjaga dan melestarikannya. Disinilah sangat tepat, mengajarkan siswa Berketuhanan Yang Maha Esa dan beraklaq mulia dalam mencitai alam agar lestari.

Dari lokasi  puncak bukit Stone Garden,  terlihat  adanya penambangan batu kapur dan pabrik pengolahannya. Sehingga siswa dapat mengamati dengan sangat jelas,  banyak bukit kapur yang rusak, tinggal sepotong, atau hancur. Dari pabrik pengolahan batu,  terlihat  debu kapur putih dan asap hitam mengepul dari pembakaran.

Kondisi alam rusak dan polusi udara ini, merupakan sumber belajar yang sangat sempurna. Guru tidak perlu menanyangkan foto dan gambar, guru tidak perlu berceramah, siswa tidak perlu membaca buku. Namun mereka tetap harus membaca alam yang nyata dan ada dihadapan mereka.  

Sambil istirahat berkumpul saatnya guru bercerita dan banyak bertanya untuk bisa berpikir.  Mengapa bukit kapur yang penuh sejarah purba  bisa rusak? Apa dampak negatif jika lebih banyak lagi bukit di sekitar tempat tinggal kita rusak? Apa dampak asap putih bagi kesehatan manusia dan alam sekitar, terutama pegawai pabrik?  Apa dampak asap hitam dari pembakaran batu kapur  bagi alam dan pemanasan global? Dan masih banyak lagi pertanyaan guru yang diajukan tentang pengrusakan alam.

Semua pertanyaan ini sangat nyata akan membangun karakter berpikir kritis. Akhirnya guru mengarahkan pentingnya untuk  mencitai dan peduli terhadap alam. Kita harapkan, 20 atau 30 tahun yang akan datang saat mereka menjadi pemimpin, merekalah yang akan melindungi alam dekat tempat tinggalnya dari pengrusakan. 

Saat perjalanan  pulang, guru bisa mengecek dan mengevaluasi bagaimana perasaan dan tanggapan perjalanan yang sudah dilakukan. Pertanyaan diajukan sambil berjalan dan suasana santai agar mereka tidak meyadari kalau guru sedang menggali apa yang mereka rasakan dan alami.

Jika kita melakukan hal ini, biasanya  siswa akan menjawab bahwa perjalan di alam sangat menyenangkan, membuat bahagia, seru dan pasti mereka akan menanyakan. “Kapan akan perjalanan lagi?”

Nah, dengan demikian, dari pengalaman ini nyata benar, bahwa belajar di alam, dapat membangun karakter yang sangat banyak secara alamiah. Siswa tidak menyadari kalau guru sedang membangun karakter. Yang mereka sadari adalah sedang diajak bermain, rekreasi, menikmati alam. Jadi sangat terbukti alam guru profesinal yang mampu membangun karakter secara utuh dalam suasana menyenangkan.

Berdasarkan pengalaman yang sudah kami lakukan selama 15 tahun, , sejak tahun 2005, agar karakter yang terbentuk pada siswa akan maksimal. Kegiatan berpetualang di alam sebaiknya  dilakukan secara rutin. Minimal 3 bulan satu kali.  Dicari  lokasi yang berbeda agar bervariasi dan pengalaman bertambah. Namun   jarak  tidak terlalu jauh dari sekolah sehingga mudah dijangkau. Sesekali kegiatan bisa digabung dengan sekolah lain yang terdekat agar wawasan lebih berkembang dan  membuat motivasi yang lebih kuat.     

Dengan demikian,  Pembelajaran di alam dengan hiking merupakan  pembelajaran  alternatif wisata edukasi yang murah, terjangkau dan menyenangkan namun karakter yang terbangun sangat banyak. Jadi memang Alam guru professional pembangun karakter sesuai Profil Pelajar Pancasila.     

 

Padalarang, 25 April 2021

 

Tidak ada komentar:

Tulisan Menginspirasi

BEST PRACTISE KALISA (Katrol Lift dengan STEM) Pengalaman terbaik dalam implementasi Pembelejaran Mendalam Oleh: Mardiah SMP Negeri 3 Padala...