Lebaran Corona
Selamat Iedul Fitri.
Kebiasaan warga perumahan, mudik lebaran setiap tahun. Karena umumnya, pendatang dari berbagai kota di tanah air. Tapi karena PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) hampir semua, stay at home.
Tegal, Cilacap, Cirebon, Jakarta, Bekasi, Pontianak dan masih banyak lagi. Hampir semua daerah itu masih zona kuning atau merah. Ya, mau maksa bagaimana?
Beberapa orang, berurai air mata mengingat kumpul keluarga dan orang tua di kampung. Mata berkaca-kaca sambil menceritakan anaknya yang kerja atau kuliah di luar kota. Tidak bisa pulang lebaran karena tertahan wabah dan karantina.
Dengan masker dan jaga jarak, kami mengusakan tetap bertemu tetangga. Hanya untuk saling memberi semangat dan menghibur agar lebaran tetap bahagia.
Tradisi membuat kue lebaran masih bisa dilaksanakan. Biasanya kue dibawa ke kampungnya. Kini, hanya untuk dinikmati sendiri atau berbagi dengan tetangga saja.
Suasana komplek menjadi ramai. Biasanya, seminggu menjelang lebaran, jalanan bagai kuburan. Hanya dua atau tiga rumah yang tetap ada. Kini, hampir setiap malam warga berkumpul di saung mengisi bulan Ramadhan dan PSBB.
Yaps, kini kami punya saung bambu yang baru. "Kalau gak ada wabah corona, gak akan punya saung sebagus ini" celoteh seorang Ibu dengan bangganya.
Yaaah, begitulah .... Selama Pandemi Corona warga banyak yang dirumahkan, berhenti bekerja, orderan sepi. "Diam di rumah saja, pasti jenuh, malah sakit", jelas seorang Bapak yang biasa kerja. Akhirnya mereka tetap menghibur dengan kerja bakti.
Akhirnya selama tiga bulan mengisi Covid 19, kami punya balai riung yang diberi nama "Saung Cinta." Gazebo tempat mengikat dan menumpahkan kasih sayang dengan tetangga. Jalanan yang asalnya berlubang dan berbatu, kini rapih dan bersih. Bahkan taman pun yang asalnya rumput kini tertata rapih dengan bebagai tanaman.
Seminggu sebelum lebaran, warga mencari janur untuk ketupat. Cukup jauh pesannya, dari Cianjur lho ....
Sambil menghibur kerinduan kampung dan keluarga, setiap hari warga bekerjasama membuat kulit ketupat. Seribu buah, cukup banyak. Hasilnya dijual ke warga lagi dengan online pakai whattapss. Sehingga, pesanan membludak. Tak sulit memasarkannya, bahkan kurang. Keuntungan tetap untuk warga. Masuk ke uang kas pengajian.
Rasa menjadi saudara karena kulit ketupat, makin erat. Ada bagian produsen, produksi, pemasasan ada konsumsumen. Ehmmm .... Kerjasama yang kompak dalam bertetangga. "Tapi, lebaran tahun depan, belum tentu kita bikin ketupat bersama lagi," seorang Bapak sambil melipat janur kelapa.
Saat tiba lebaran, semampunya kita saling memberi semangat untuk tetap bahagia. Tetap shalat Ied dengan jaga jarak, bermasker dan jumlah yang dibatasi.
Hanya keingianan, suasana seperti biasa, tapi tetap saja. Shalat lebaran kali ini ada yang hilang. Setelah doa, tradisi salam-salaman sambil bershalawat, tidak ada lagi.
"Sekarang pulanglah ke rumah masing-masing. Kami meminta maaf, dan kami sudah memaafkan. Kita semuanya sudah saling memaafkan," suara bergetar khatib menjelaskan setelah selesai doa.
Dengan hambar dan tak bersuara, semua berpencar. Tak ada yang bergerombol. Berjalan masing-masing. Tertawa dan tersenyumpum seperti yang dipaksakan. Kalau pun harus bersalaman, dari jarak jauh. Semua wajah, tak ada yang ceria seperti biasanya. Mungkin pikiran masing-masing menerawang pada kebahagian lebaran tahun lalu.
Ya, memang hati kosong dan inginya meronta. Lebaran tak biasa, Iedul fitri dalam pandemi virus. Sepertinya, setiap rumah hanya menikmati ketupat, rendang, opor kue di rumah masing-masing. Tak ada kumpul seperti biasa. Mungkin setiap rumah sedamg menerawang kampung halamannya. Mungkin di setiap rumah sedamg video call dengan keluarga di desa. Dan saung pun, kosong. Jalanan kembali sepi. Semua kembali masuk rumah masing-masing. Hiks, Lebaran tanpa sanak keluarga.
Seminggu kemudian dapatlah kabar, kalau daerah kami sudah zona biru. Maka berlaku new normal. Ahaaa ... Agak sedikit bersorak walau tetap waspada.
Hari minggu pagi, Pak RT mengajak warga senam depan saung. Kebahagiaan sedikit hadir karena kita bisa tertawa dan bercanda.
Setelahnya, ibu-ibu merencanakan untuk makan bersama (botram) se-RT di Saung Cinta. Inilah kumpul pertama bersama setelah berlaku new normal.
Karedok lenca, sambel, goreng tempe, tahu, ikan asin, goreng ikan mas, daun singkong dan pastinya kue lebaran. Semua warga menyambut gembira. Makan bersama pasca lebaran. Saung yang berukuran cukup luas, tak ada yang kosong.
"Saya baru sekarang bisa kumpul, bisa keluar rumah lagi dengan tenang, bisa makan bersama," ungkap seorang ibu dengan wajah berbibar dan bibir merekah. "Ya, ya, saya juga, baru sekarang bisa bebas di luar rumah" Ibu-ibu lainnya serentak menimpali.
Baru kali ini kami bisa kumpul bersama tetangga. Walau lebaran tak bertemu keluarga besar di kampung, namun kini tetanggalah yang menjadi keluarga besar kami.
Setelah makan, dilajutkan dengan cerita dan curhat pengalaman wabah corona. Setiap orang memiliki cerita masing-masing. Umumnya kepanikan, kecemasan dan ketakuan wabah covid saat zona merah. Namun semua cerita itu menjadi pengalaman yang membuat semua tertawa.
Saling menertawakan yang tertawa karena pengalamanya. Ada yang selalu mules ketika ambulan covid lewat rumah, ada yang sampai masuk rumah sakit karena cemas covid. Ada yang berantem dan sakit hati karena dipaksa memakai masker dan jaga jarak. Ada yang terus-terusan pakai hand sanitager, ada yang yang setiap sudut rumah disemprot disinfektan. Semuanya menjadi cerita lucu dan pengalaman unik.
Lebaran dalam wabah Covid 19, telah menyisakan sejarah berharga yang tak mungkin bisa diulang. Lebaran tak mudik, tetap bahagia. Lebaran dalam pandemi tetap suka cita karena kekuatan tetangga. Semua tersadar. Bertetangga sumber energi untuk tetap kuat dalam situasi yang mencekam.
Salam Bahagia
Selamat Lebaran menjelang New Normal
(Mardiah Alkaff, Padalarang 4 Juni 2020 pukul 15.30)




























