Pembaruan Pemikiran Islam:

Menjawab Tantangan Global dan Modernitas

 

Oleh: Muhammad Syakir baabud

Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

                                       


Sejak lahirnya, Islam telah menunjukkan fleksibilitasnya sebagai agama yang mampu menjawab berbagai persoalan zaman. Dalam sejarah, Islam tidak hanya menjadi pedoman spiritual, tetapi juga menawarkan solusi atas tantangan sosial, politik, dan budaya. Namun, setiap zaman membawa tantangan yang berbeda, dan umat Islam dituntut untuk terus memperbarui cara berpikir dan bertindak agar ajaran agama tetap relevan.

 Pembaruan pemikiran dalam Islam bukanlah konsep baru. Dalam berbagai periode sejarah, pembaruan muncul sebagai respons terhadap stagnasi intelektual dan perubahan zaman. Di masa klasik, para ulama seperti Imam Syafi’i berusaha menyusun metode hukum Islam yang sistematis, sementara pada abad pertengahan, Ibn Khaldun memperkenalkan pendekatan sosiologis untuk memahami masyarakat.

Di era modern, pembaruan semakin relevan seiring dengan hadirnya tantangan global seperti kolonialisme, modernisasi, dan globalisasi. Pemikiran Islam perlu merespons perubahan ini, baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, maupun hukum. Dalam konteks ini, ijtihad—proses penafsiran ajaran agama secara mendalam—menjadi alat penting untuk menjembatani tradisi dan modernitas.

 

Tantangan Global dan Modernitas

Modernitas membawa berbagai tantangan, seperti disrupsi teknologi, pluralisme budaya, hingga perubahan nilai-nilai sosial. Teknologi, misalnya, memunculkan persoalan baru dalam hukum Islam, seperti bagaimana memandang transaksi keuangan digital, kebijakan data pribadi, atau kecerdasan buatan. Pluralisme agama juga menuntut umat Islam untuk menemukan cara baru dalam membangun dialog dengan komunitas lain, tanpa kehilangan identitas keislamannya.

 Pembaruan pemikiran Islam juga penting untuk menghadapi tantangan internal. Di beberapa tempat, umat Islam masih berhadapan dengan stagnasi intelektual yang menghambat kemajuan. Misalnya, sikap taklid buta terhadap tradisi masa lalu sering kali menghalangi umat dari upaya memahami Islam secara kontekstual. Di sisi lain, ada pula ancaman dari kelompok-kelompok yang menggunakan agama untuk kepentingan politik, sehingga menciptakan citra Islam yang intoleran dan eksklusif.

 

Relevansi Pembaruan Islam

Pembaruan pemikiran tidak berarti meninggalkan ajaran agama. Sebaliknya, ini adalah upaya untuk menghidupkan kembali semangat Islam sebagai agama yang memberikan solusi atas masalah manusia. Proses ini melibatkan reinterpretasi teks-teks keagamaan agar sesuai dengan konteks modern, dengan tetap berpegang pada nilai-nilai utama seperti keadilan, keseimbangan, dan kemaslahatan.

 Dalam pendidikan, misalnya, pembaruan bisa dilakukan dengan mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu pengetahuan modern. Dengan pendekatan ini, lembaga-lembaga pendidikan Islam dapat menghasilkan generasi yang tidak hanya kuat dalam spiritualitas, tetapi juga mampu berkontribusi dalam pembangunan sosial dan ekonomi.

 Di bidang hukum, pendekatan maqasid syariah—tujuan syariah—dapat menjadi landasan untuk menjawab persoalan-persoalan baru. Prinsip seperti melindungi jiwa, akal, dan harta memungkinkan hukum Islam tetap relevan tanpa kehilangan esensi utamanya.

 

Masa Depan Islam di Era Modern

Sejarah telah membuktikan bahwa Islam selalu mampu beradaptasi dan memberikan solusi atas tantangan zaman. Di era modern ini, umat Islam memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan tradisi pembaruan tersebut. Dengan pemikiran yang terbuka dan inovatif, umat dapat menjadikan Islam sebagai agama yang tidak hanya relevan, tetapi juga menjadi inspirasi bagi kemajuan dunia.

Pembaruan pemikiran Islam adalah perjalanan tanpa akhir. Selama umat Islam memiliki keberanian untuk terus berpikir kritis dan kreatif, Islam akan tetap menjadi cahaya bagi peradaban manusia di masa kini dan masa depan.

 

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.3

 

Tulisan Reflektif

Pengelolalan Program yang Berdampak Positif Kepada Murid

CGP Rekognisi Angkatan 11

Mardiah


 


A.  PEMIKIRAN REFLEKTIF TERKAIT PENGALAMAN BELAJAR

1.Pengalaman Belajar dari Modul 3.3

Dengan mempelajari Modul 3.3 kami  mendapat gambaran jelas tentang sebuah program yang dibuat untuk kepentingan murid sangat perlu dilakukan dengan perencaan yang sangat matang dan terstruktur.  Program yang dibuat perlu memperhatikan kepentingan murid yaitu dapat memunculkan Student Agency yang didalamnya muncul voice, choice dan ownership. Dan guru memiliki tanggung jawab besar dalam memunculkan kepemimpinan murid dengan merancang program mulai perencanan,  pelaksanaan hingga evaluasi.

Dalam melibatkan murid sebagai kepemimpinan, guru bisa mengajak  murid mulai dari perencanaa. Bisa sebagai panitia, mengajak diskusi bentuk program, memilih kegiatan, sampai menyiapkan kebutuhan kegiatan.

Pada tahap pelaksanaan,  guru dapat berperan sebagai motivator, konsultan dan fasilitator kegiatan.  Guru bisa menilai karakter yang muncul pada setiap individua tau kelompok. Begitupun dalam evaluasi dan refleksi,  murid bisa dilibatkan karena merekalah sebagai peran utama maka harus mengetahui bagaimana peristiwa yang terjadi, apa yang dirasakan, pelajaran apa yang didapatkan, kendala dan solusi yang dihadapi,  dan bagaimana penerapannya untuk kegiatan berikutnya agar lebih baik.

Dalam modul ini guru perlu menyiapkan berbagai lingkungan yang mendukung terciptanya kepeminpinan murid. Terdapat   7 lingkungan yang perlu disipakan oleh guru. Yaitu

 

 2. Perasaan setelah Mempelajari modul 3.3 ini

Setelah mempelajari modul ini saya menjadi semakin yakin, semakin kuat dan semakin bahagia karena sekarang memliki sandaran teori yang jelas bagaimana membangun karakter murid di sekolah. Mengapa saya bahagia? Karena  sudah saatnya guru merubah paradigma lama. Yaitu   prestasi murid ditentukan oleh prestasi akademik, dengan rangking dan nilai yang didapat dari proses belajar. Pemikiran ini harus segera dirubah.

Maka dengan mempelajari modul ini, yaitu pengelolaan program yang berdampak positif bagi murid merupakan sebuah materi untuk mendorong guru mencapai langkah dalam membangun karakter. Guru dengan menciptakan lingkungan yang mendukung untuk munculnya karakter sudah saatnya dilakukan setiap pembelejaran di kelas dan sekolah.

Saya bangga dan bahagia dengan adanya modul ini karena memberikan keyakin kuat tentang sebuah proses untuk membangun kepemimpinan murid (Student agency). Lebih menyadari lagi kalau di dalam kepemimpinan murid terdapat 3 point yang sedang dicapai. Dimana sebelumnya saya belum menyadari. Ketiga point tersebut adalah suara (voice), pilihan (choice) dan kepemilikan (ownweship). Mungkin sebelum mempelajari modul ini saya pernah melakukan ketiga hal ini, hanya tidak menyadarinya, tidak mngetahui nama dan konsepnya. Semua kegiatan dilakukan secara alami saja. Sehingga tidak menjadi pokok perhatin. Namun kini setelah mempelajari modul 3.3 saya semakin kuat dan termotivasi untuk memperdalam tentang lingkungan-lingkungan yang harus diciptakan guru agar tumbuhnya student agency di kelas dan sekolah,

3. Apa yang sudah baik berkaitan dengan keterlibatan dirinya dalam proses belajar.

Hal yang sudah baik dalam mempelajari modul ini adalah bekaitan erat dengan saya yang keseharian di sekolah selain mengajar tapi menjadi perintis dan Pembina ekstrakurikulr Science Club  sejak 2005. Dalam program tersebut  banyak sekali kegiatan yang mampu memunculkan berbagai karekter murid secara positif dan memanfaatkan asset yang ada di lingkungan sekolah. Seperti memanfaatkan laboratorium, halaman sekolah, sawah, kebun, tempat wisata, lahan kritis, pabrik,  pusat Iptek sains dan sebagainya. Juga melibatkan banyak guru lainnya. Dan mampu memunculkan kepemimpinan murid.  

Sebelum mempelajari modul ini, semua kegiatan berjalan dengan perencaan sewajarnya tanpa mengetahui apa maksud, tujuan dan teorinya. Kini setelah mempelajari modul,  saya serasa mendapatkan dukungan besar dan support yang sangat kuat dari pemerintah. Karena apa yang kami lakukan dalam kegiatan Ekstrakurikuler Science Club tersebut semua ada nama, tujuan, maksudnya.

Kini saya mampu menguraikan dan menggambarkan semua kegiatan yang biasa dilakukan sesuai teori yang ada di dalam modul. Yaitu adanya istilah Student Agency (kepmimpinan murid). Kini sayapun sudah  mengetahui bahwa dalam program  ada kegiatan yang harus  memunculkan voice, choice dan ownweship. Dan kini sudah mengetahui  bahwa  lingkungan yang digunakan untuk belajar merupakan sebagian besar dari 7 lingkungan yang harus diciptakan oleh guru dalam  menyusun program yang  berdampak positif bagi murid. Sehingga dengan mempelajari modul ini akhirnya saya lebih yakin dan lebih kuat bahwa murid membutuhkan program kegiatan belajar yangs sesuai dengan kebutuhannya. Hal ini agar muncul kepemimpin murid yang mengandung suara, pilihan dan kepemlikan demi tercapai murid yang cerdas berkarter sesuai  Dimensi  Profil Pelajar Pancasila,

4.     Apa yang perlu diperbaiki terkait dengan keterlibatan diri dalam proses belajar.

Yang perlu saya perbaiki setelah memahami dan  mempelajari materi di modul 3.3 tentang Pengelolalan Program yang Berdampak Positif bagi Murid adalah menciptakan program baru lainnya selain Science Camp yang sudah dilaksanakan. Karena ternyata murid sangat bahagia, senang dan puas dengan program yang sudah dibuat yang melibatkan munculnya voice, choise dan ownership. Sehingga saya perlu mengamati kegiatan baru yang inovatif dari sekolah lain untuk diterapkan di sekolah sendiri. Kemudian saya perlu merancang juga kegiatan belajar bukan hanya untuk ekstrakurikuler tapi perlu merancang program kegiatan yang memunculkan kepemimpinan  murid pada pembelajaran intra dan Kokurukuler.

 

5.     Keterkaitan terhadap kompetensi dan kematangan diri pribadi.

Dari modul 3.3 yang dipelajari maka kami memliki wawasan  dan pengalaman baru bahwa dalam setiap program yang dibuat untuk kepentingan murid perlu memunculkan kepemmpinan murid. Karena hal ini sangat penting sebagai sebuah strategi dalam memunculkan berbagai karakter yang dimiliki murid. Karena potensi murid tidak akan muncul tanpa adanya sebuah kegiatan belajar yang tepat untuk kebutuhan murid.

Dan kini saya memiliki alasan yang kuat untuk memberikan jawaban kepada rekan  lain yang selalu menyalahkan Kurikulum Merdeka yang menganggap tidak memberikan pelajaran kepada murid, tidak menggali pengetahuan yang lebih banyak seperti kurikulum sebelumnya. Kini saya bisa menjawab bahwa kepemimpinan murid sama pentingnya dengan memberikan ilmu pengetahuan kepada murid bahkan membangun karakter lebih utama daripada memberikan ilmu. Jika memberikan ilmu bisa dilakukan dengan waktu yang cepat, bahkan murid bisa mencari sendiri dari gadgetnya.  Akan tetapi untuk  membangun karakter membutuhkan program yang terencana dan membutuhkan waktu lama, bahkan membutuhkan peran serta banyak pihak.

Dengan demikian, setelah mempelajari modul ini, saya lebih percaya diri untuk tampil sebagai guru, sebagai pembina ekstrakurikuler Science Club. Karena kini memiliki modal terori yang kuat untuk membuat program-program berikutnya yang dapat membangun kepemimpinan murid baik intra, ko atau ekstrakurikuler.

 

B.  ANALISIS UNTUK IMPLEMENTASI

1.     Pertanyaan kritis

                  Dari modul ini banyak pertanyaan kritis yang muncul yaitu

a.       Mengapa masih banyak guru yang tidak setuju dengan program kegiatan yang dirancang

                          berdampak positif bagi murid

b.       Bagaiman agar lebih banyak lagi guru yang memahami dan menyadari bahwa program yang berdampak positif bagi murid harus diciptakan oleh guru baik di kelas atau disekolah?

c.       Bagiamana cara menciptakan program kegiatan lain, selain yang saya rancang terbaru ini yaitu   Science Camp agar murid memiliki banyak kegiatan yang bisa membangkitkan  karakter.

d.       Bagaimna cara melakukan penilaian yang efektif untuk mengukur keberhasilan program yang kita buat yang melibatkan murid dalam perencanaan, kegiatan dan evaluasi?

 

 

2.     Intisari yang saya dapatkan dari modul 3.3

a.       Dalam mengayomi murid, mendampingi murid dalam belajar guru perlu menyediakan lingkungan belajar yang mendukung untuk mengembangkan semua potensinya. Termasuk perkembangan wawasan, berpikir dan karakternya.

b.      Untuk mengembangkan karakter tersebut dapat ditempuh dengan menyediakan lingkungan belajar yang positif agar muncul kepemimpinan murid. Sedangkan kepemimpinan murid tersebut dikatakan berhasil jika dapat mengembangkan tiga hal yaitu suara, pilihan dan kepemilikan.

c.       Karakter yang muncul pada murid karena adanya proses penumbuhan kepemimpinan dapat diidenfikasi dengan tercinci. Kini dari modul tersebut mengatakan bahwa terdapat 6 dimensi yang bisa muncul dari karakter  Profil Pelajar Pancasila. Yaitu Beriman  bertaqwa dan berakhlak mulia, mandiri, gotong royong, kreatif, bernalar kritis dan kreatif.

 

3.     Tantangan yang dihadapi

Selama mempelajari modul kemudian merancang program maka tantangan yang dihadapi adalah:

a.       Menyusun dan mencari waktu yang tepat yang harus disesuaikan dengan waktu belajar.

b.      Melibatkan banyak guru dalam program yang dibuat.

c.       Mencari sumber biaya karena kegiatan yang maksimal dalam kepemimpinan murid sangat  beragam.

d.      Menyusun waktu  yang efektif agar murid benar-benar terlibat dalam perencanaan, kegiatan dan evaluasi.

 

4.     Sebagai Solusi dari Tantangan yang dihadapi

a.       Melihat jadwal belajar, kalender kegiatan sekolah sebagai acauan dalam mengatur waktu kegiatan.

b.      Terus mendekati guru lain, memberikan pemahaman secara personal bagaimana pentingnya sebuah program yang berdampak kepada murid untuk memunculkan kepemimpinanya.

c.       Dalam mencari sumber biaya bisa bekerja sama dengan sekolah dan orang tua sebagai pendukung utama.

d.      Membuat jawal yang terinci yang sesuai dengan kegiatan  belajar dan mengajar agar murid dapat terlibat dalam perencanaan, kegiatan dan evalusi secara efektif.

 

C.  KETERKAITAN ANTARA MODUL 3.3 DENGAN MODUL SEBELUMNYA

Pengelolaan program  yang  berdampak positif  pada murid dapat terwujud dengan lancar dan efektif di sekolah tentunya perlu dirancang dengan tepat. Salah satunya dengan menggunakan pendekatan Inquiry BAGJA. Dalam mewujudkan tujuan belajar yang berdampak positif kepada muridnya tentunya perlu mendapat dukungan dari banyak pihak. Termasuk dukungan dalam konsep. Oleh sebab itu  keterkaitan modul 3.3  ini dengan modul-modul sebelumnya saling mendukung.

Berikut keterkaitan Modul 3.3 dengan modul sebelumnya.

1.      Modul 1.1 Filosofi Ki Hajar Dewantara.

Guru layaknya sebagai petani yang menjaga  tanah agar tetap subur sehingga tanaman akan tumbuh dengan baik hingga menghasilkan buah yang berkualitas. Sehingga petani menjaga agar tidak ada hama pengaggu, diberi pupuk, disirami dan dipagari. Begitupun seorang guru terhadap muridnya. Mendampingi, menjga, memberikan lingkungan terbaik agar murid bisa tumbuh dan berkembang sesuai kodrat, bakat dan minatnya. Karena guru mempunyai peran strategis untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak sehingga mereka dapat bahagia dan selamat sebagai individu masyarakat.  Begitupun dalam mengelola program sekolah yang berdampak positif  pada murid hendaknya melibatkan murid dan memperhatikan pengembangan potensi atau kodrat murid. Dalam modul ini juga dibahas bahwa murid adalah pribadi yang unik dan utuh, sehingga guru sebaiknya dapat menuntun murid sesuai dengan kodratnya.

 

2.      Modul 1.2 Nilai dan peran guru penggerak.

Nilai-nilai dari seorang guru penggerak yaitu mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid. Sehingga peran guru sangat besar bagi tumbuh kembang murid. Guru bereparan besar bagi terwujudnya mimpi dan cita-cita murid. Dan yangterpenting guru berperan dalam menyiapkan lingkungan  positif yang sangat dibutuhkan oleh murid untuk bisa    mewujudkan  karakter Profil Pelajar Pancasila dan merdeka belajar. Sehingga peran guru salah satunya bisa merancang dan mewujudkan program pembelejaran baik intrakurikuler, kokurikuler dan ektrakurikuler yang dapat munculnya student agency. Yiatu munculnya kepemimpinan murid yang didalamnya terdapat suara, pilihan dan kepemilikan.

 

 

 

3.      Modul 1.3 Visi  Guru Penggerak. 

Sebagai  ujung tombak Pendidikan, sebagai pemimpin pembelajaran guru harus memiliki visi yang mengarah kepada perubahan, baik perubahan di kelas atau perubahan di sekolah. Untuk mencapai perubahan tersebut guru perlu mengenal pendekatan manajemen perubahan. Manajemen pendekatan perubahan disebut Inkuiri Apresiatif (IA). Sehingg dalam merencanakan dan mengelola program yang berdampak positif  pada murid perlu dirancang dengan maksimal sesuai dengan kebutuhan murid, dapat memanfaatkan asset yang dimiliki, maka dapat  dilakukan dengan menggunakan pendekatan inkuiri apresiatif model BAGJA, dengan terlebih dahulu memetakan aset atau sumber daya sekolah, dan mengembangkan aset atau potensi yang bisa dikembangkan untuk merencanakan program sekolah yang berdampak pada murid.

 

4.      Modul 1.4. Budaya Positif.

Lingkungan positif perlu diciptakan dengan sebuah pembiasaan positif. Inilah salah satu peran guru untuk merancang dan menciptakannya. Pembiasaan positif jika terus dilakukan secara konsisten dengan pengawasan guru maka akan terbentuk budaya positif.  Karena Lingkungan positif merupakan lingkungan  yang mendukung perkembangan potensi, minat dan profil belajar murid terutama kekuatan kodrat pada anak-anak. Budaya positif juga dapat ditempuh dengan menciptakan Lingkungan yang menyediakan kesempatan untuk murid menggunakan pola pikir positif dan merasakan emosi yang positif. Lingkungan yang seperti ini akan membuat murid mampu dan berkeinginan untuk melakukan hal-hal secara positif untuk dirinya sendiri serta memberikan pengaruh positif kepada kehidupan orang lain dan sekelilingnya. Pola pikir positif ini didapatkan oleh murid melalui pengalaman emosi positif dalam konteks sekolah, di mana murid bukan hanya merasa aman, nyaman, dan merasa menjadi bagian dari komunitas sekolah. Hal ini dapat terwujud bukan hanya keinginan saja namun guru perlu menciptakan sebuah program kegiatan yang didalamnya terdapat pendekatan    dapat memunculkan kepemimpinan murid dengan memanfaatkan asset dan kekuatan yang dimiliki sekolah.

 

 

5.      Modul 2.1 Pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid.

Perlu disepakati Bersama bahwa murid memiliki ciri khas dan keunikan masing-masing, sehingga dalam pembelajaran tidak mungkin  semua murid mendapat perlakuan yang sama. Namun guru perlu mmeberikan pembelajaran sesuai minat, bakat dan profil murid. Maka guru dapat menggunakan pembelajaran berdiferensiasi untuk memberikan layanan pembelajaran yang berpihak pada murid. Karena Pembelajaran berdiferensiasi ini merupakan solusi atas beragamnya karakteristik dan kecerdasan murid. Sebelum merencanakan pembelajaran berdiferensiasi, seorang guru hendaknya melakukan pemetaan terhadap kebutuhan belajar, minat dan profil belajar murid. Hal ini dilakukan untuk mengetahui aset atau kekuatan yang dimiliki oleh murid. Maka dengan gambaran ini, dengan merancang dan mewujudkan program kegiatan yang berdampak positif bagi murid akan mudah diwujudkan. Sehingga bisa dikatakan program kegiatan baik kokurikler atau ektarkurikuler merupaka sebuah pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan murid.

 

6.      Modul 2.2 Pembelajaran Emosional dan Sosial.

Keterampilan emosional dan social merupakan dasar yang harus dimiliki oleh pendidik ataupun oleh murid. Sebelum disampaikan kepada murid gur terlebih dahulu perlu menguasai 5 kompetensi social emosional (KSE). Yaitu kesadaran diri, management diri. Kesadaran social, manegement social dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Untuk mendapatkan komptensi ini guru perlu berlatih dan terus merefleksi diri.  Salah satu  teknik kesadaran diri (mindfulness) menjadi strategi pengembangan lima kompetensi sosial emosional yang didasarkan pada program yang berpihak pada murid dan mewujudkan merdeka belajar dan budaya positif di sekolah. Jika guru sudah memiliki KSE dengan maksimal maka sudah pasti guru akan memiliki kesadaran penuh dalam merencanakan, melaksanakan dan melakukan evaluasi dan refleksi dalam menyusun program kegiatan yang berpihak kepada kepentingan murid. Guru akan memliki kesadaran penuh untuk menjadi Pembina ekstrakurikuler atau mampu merancang kegiatan kokurikuler yang didalamnya memunculkan kepemimpinan murid (student agency) yang akan memunculkan voice, choice dan ownership.

 

 

7.      Modul 2.3, Coaching untuk Supervisi Akademik.

Proses Coaching merupakan sebuah keterampilan yang sangat penting dimiliki oleh guru untuk meningkatkan kompetensi. Karena Coaching sebagai teknik atau strategi seorang pemimpin pembelajaran yang dapat  menuntun anak dan menggali potensi yang dimiliki oleh anak. Coaching juga memberikan keleluasaan anak-anak untuk  berkembang dan menggali proses berpikir. Coaching juga dapat dimanfaatkan guru untuk berbagi dan membantu rekan sejawat dalam menemukan potensi yang terpendam. Dengan alur TIRTA (Tujuan, Identifikasi, Rencana aksi dan Tanggung jawab) guru dapat menerapkan proses coaching baik untuk murid atau rekan sejawat.  Sehingga dalam pengelolaan program yang berdampak pada murid, coaching dapat digunakan sebagai strategi untuk mengembangkan sumber daya murid, mengembangkan kepemimpinan murid, menggali potensi murid untuk mencapai tujuan pendidikan yaitu keselamatan dan kebahagiaan anak setinggi-tingginya.

 

 

 

8.      Modul 3.1 Pengambilan keputusan berdasarkan nilai-nilai kebajikan seorang pemimpin.  

Guru sebagai seorang pemimpin pembelajaran dapat mengambil keputusan secara bijak, yaitu keputusan yang berpihak pada murid. Dasar, prinsip, paradigma atau nilai dalam pengambilan keputusan harus konsisten, terutama berkaitan dengan dilema etika atau bujukan moral. Di dalam merencanakan, melakukan aktivitas dan evaluasi sebuah program kegiatan baik intrakurikuler, Kokurikuler atau ekstrakurikuler keputusan yang bernilai dan bijak sangat dibutuhkan dari seorang guru. Guru sebagai pemimpin Pendidikan akan menjadi leader dalam sebuah program yang berdanpak kepada murid. Karena keputusan yang memiliki nilai dan kebajikan sangat dibutuhkan demi keberhasilan sebuah program di sekolah. Inilah saatnya guru yang memliki kompetensi harus tampil menjadi bagian penting dalam mewujudkan program yang mampu menggali kepemimpinan murid. Karena Program student agency yang dapat tercapainya suara, memlilih dan memiliki  pastinya membutuhkan pengalaman dan keberanian seorang guru. Sehingga guru dituntut untuk terus meningkatkan keberanian dalam membuat keputusan yang bijak dan berpihak kepada kepentingan murid.

 

9.      Modul 3.2 Pemimpin dalam pengelolaan sumber daya.

Dalam berbagai kegiatan pembelejaran di sekolah sudah pasti akan membutuhkan dari banyak hal. Karena keberhasil tidak mungkin dicapai tanpa adanya kolaborasi atau dukungan sumber daya yang ada.  Sumber daya yang ada di sekolah pastinya tidak akan sama, namun memiliki perbedaan. Disinilah guru perlu memiliki keterampilan untuk dapat memanfaatkannya dengan maksimal. Sehingga  Guru sebagai pemimpin pembelajaran maupun pengelola program sekolah harus dapat memetakan dan mengidentifikasi aset-aset yang ada di sekolah, baik aset fisik maupun non fisik. Pendekatan berbasis aset/kekuatan (asset based thinking) akan lebih dapat mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh sekolah sebagai komunitas belajar, dibandingkan dengan pendekatan berbasis masalah/kekurangan (deficit based thinking). Paradigma berpikir harus melihat sisi positif yang dimiliki oleh sekolah.  Maka dengan pemahaman ini, program yang berdampak positif bagi murid akan mudah terlaksana dalam mencapai tujuannya.  Karena setiap program yang memunculkan kepemimpinan murid perlu dirancang dengan maksimal sehingga karakter Profil Pelajar Pancasila yang diharapkan muncul dapat terealisasi dengan mudah. Sehingga sangat jelas, guru perlu memahami 7 aset yang dimiliki sekolah dan mampu merancangnya sehingga menjadi sebuah asset yang akan mendukung terwujudknya program yang berdampak bagi kepentingan murid.

 

 

D.  BAGAIMANA SEHARUSNYA PROGRAM  DIRENCANAKAN, DILAKSANAKAN DAN DIEVALUASI AGAR BERDAMPAK POSITIF BAGI MURID

Program yang berdampak positif pada murid merupakan sebuah visi yang harus dimiliki guru sebagai pemimpin Pendidikan. Setekah adanya Pendidikan Guru Penggerak, kini guru Indonesia perlu memahami filosofi dasar Ki Hajar Dewantara, karena dengan memahaminya kemudian mewujudkannya maka guru berusaha untuk memiliki nilai-nilai kebajikan, memiliki 5 Keterampilan Sosisal Emosional, keterampilan Coaching. Sehingga mampu menciptakan pembiasaan positif, lingkungan positf hingga terwujudnya bidaya positif di sekolah.

Dari Pendidikan guru Penggerak ini, guru mampu menciptakan pembelajaran yang berpihak kepada kepentingan murid di kelas dengan memperhatikan minat, potensi dan  profil murid dengan melahirkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas. Akhirnya guru Indonesia akan muncul sebagai pemimpin pembelajaran dengan terampil  mengambilan keputusan berdasarkan nilai-nilai kebajikan. Dan guru Indonesia akan tampil menjadi pemimpin pembelajaran yang  mampu mengelola semua asset yang dimiliki sekolah. Dengan demikian, akan mudahlah guru bergerak dan menggerakan dengan menyusun program yang berdampak positif kepada kepentingan murid. Dan pada akhirnya muncullah murid yang memiliki kecerdasan dan karakter Profil Pelajar Pancasila yang diharapkan untuk mengisi Indonesia Emas di tahun 2045.

Dengan kemampuan guru yang lengkap ini, maka akan dengan mudah terwujud program yang memunculkan  kepemimpinan murid (student agency) dengan memberikan ruang dan mempromosikan suara, pilihan dan kepemilikan. Akhirnya terwujudkan rasa bahagia dan sejahtera (well-being) dan budaya positif di sekolah. Kodrat anak yang memiliki ragam potensi dan bakat dapat tergali dan dituntun menuju kepada kebahagian yang setinggi-tingginya.

Adapun program atau kegiatan sekolah baik intrakurikuler, kokurikuler atau ekstrakurikuler yang membutuhkan   perencanaan, pelaksanaan dan refleksi evaluasi harus dilakukan secara kolaboratif. Artinya semua komponen yang ada di sekolah berperan aktif dan saling berinteraksi layaknya sebuah ekosistem yang seimbang. Sehingga semua asset yang dimiliki sekolah dapat berperan dengan baik dan akhirnya murid akan merasakan dampak positifnya seperti yang diharapkan oleh tujuan Pendidikan.

Untuk lebih rinci mengenai Perencaan, pelaksanaan dan evaluasi agar program bisa berdampak positif bagi murid adalah sebagai berikut:

 

1.     Perencaan Program.

Pada mulanya, bisa saja ide program muncul dari inisiatif guru. Karena program perlu berkolaborasi maka harus membentuk tim kecil dengan sesama guru dalam merumuskan program secara global. Kemudian untuk tercapai tujuan kepemimpinan murid dalam hal suara, pilihan dan kepemilikan, maka perencanaan yang lebih mendetail perlu melibatkan murid. Dan agar kita dapat menjadikan murid sebagai pemimpin bagi proses pembelajarannya sendiri, maka kita perlu memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan kapasitasnya dalam mengelola pembelajaran mereka sendiri, sehingga  potensi kepemimpinannya dapat berkembang dengan baik.

 

a.       Perencanaan Program untuk Memunculkan Voice (Suara)

Voice (suara) adalah pandangan, perhatian, gagasan yang diekspresikan oleh murid melalui partisipasi aktif mereka di kelas, sekolah, komunitas, dan sistem pendidikan mereka, yang berkontribusi pada proses pengambilan keputusan dan secara kolektif mempengaruhi hasilnya.

 

Mempertimbangkan suara murid adalah tentang bagaimana kita memberdayakan murid kita agar memiliki kekuatan untuk mempengaruhi perubahan. Suara murid yang otentik memberikan kesempatan bagi murid untuk berkolaborasi dan membuat keputusan dengan orang dewasa seputar apa dan bagaimana mereka belajar dan bagaimana pembelajaran mereka dinilai.

 

Mempromosikan suara murid dalam proses pembelajaran dapat dilakukan dalam banyak cara.  Suara murid dapat ditumbuhkan melalui diskusi, membuka ruang ekspresi kreatif, memberi pendapat, merelevansikan pembelajaran secara pribadi, dan sebagainya. Berikut ini adalah beberapa contoh bagaimana sekolah atau guru dapat mempromosikan “suara murid”:

 

Dalam memunculkan suara murid dalam sebuah perencanaan program dapat  melibatkan murid untuk memberikan saran tentang program kegiatan apa yang diharapkan.  Mengajak  murid untuk mendiskusikan bentuk program.  dan dapat mengajak  mereka untuk menjadi panitia pelaksana teknis. Serta melibatkan murid dalam menghadapi kendala yang dihadapi saat perencaan dan  dilibatkan dalam membuat poster kegiatan.

 

b.      Dalam Perencanaan  untuk Memunculkan Pilihan (Choice).

Mengapa hal ini penting karena  Pilihan (choice) adalah peluang yang diberikan kepada murid untuk memilih kesempatan-kesempatan dalam ranah sosial, lingkungan, dan pembelajar. Dalam ranah sosial, murid dapat diberikan kesempatan untuk berada dalam kelompok yang sesuai dengan tujuan atau minatnya; dalam ranah lingkungan, murid dapat diberikan kesempatan untuk memilih atau mengatur tempat belajar yang sesuai untuk mereka. Dalam ranah lingkungan, murid diberikan kesempatan untuk memilih lingkungan belajar yang paling mendukung untuk mereka belajar secara maksimal. Sementara dalam ranah pembelajaran, murid diberikan pilihan-pilihan untuk mengakses, berlatih, atau membuktikan penguasaan pengetahuan atau keterampilan dalam kurikulum.

Karena menurut Bandura (1997) juga menegaskan bahwa memberikan murid pilihan juga akan meningkatkan motivasi dan otonomi murid, yang dapat memberikan dampak positif pada efikasi diri dan motivasi murid (dalam Thibodeaux et al, 2019).

c.       Dalam perencanaan juga murid dilibatkan agar muncul rasa kepemilikan. (Ownership)

 

Untuk menumbuhkan kepemimpinan murid dalam proses belajar, ketiga aspek tersebut tentunya perlu didorong oleh guru.  Pilihan dan suara murid menjadi penting agar murid mempunyai rasa ‘memiliki’ proses pembelajaran mereka sendiri. Di sisi lain, melalui pilihan dan dengan rasa memiliki yang kuat, suara mereka kemudian dapat diwujudkan. 

 

Perlu diperhatikan bahwa ketiga aspek ini tidak dapat berada di lingkungan yang tidak terstruktur.  Ketiga aspek ini harus disematkan dengan hati-hati dalam lingkungan belajar yang menumbuhkembangkan elemen-elemen tersebut secara otentik. Lingkungan belajar yang seperti ini akan mensyaratkan seluruh anggota komunitas untuk ikut terlibat dalam prosesnya..

 

2.     Pelaksanaan Program

Dalam Pelaksaan Program guru membiarkan murid untuk mampu belajar dengan pembelajaran yang dirancangnya. Guru tetap mendampingi sebagai fasilitator dan motivator.  Karena dalam perencanaan yang  sudah disiapkan dengan baik dan terstruktur maka dalam pelaksaannya guru bisa mengamati apa yang dilakukan oleh setiap murid sesuai dengan pilihannya.

 Di dalam kegiatan guru akan mudah melihar berbagai karakter yang muncul,  yaitu 6 dimensi Profil Pelajar Pancasila yang bisa muncul pada setiap murid. Guru bisa membuat catatan penting tentang kemajuan dan karakter setiap murid sebagai bahan masukan untuk perkembangan pada kegiatan berikutnya.

 

 

3.     Evaluasi dan Refleksi

Pada evaluasi dan refleksi perlu dilakukan dengan waktu khusus yang tujuannya untuk melihat apa peristiwa yang sudah dialami oleh murid, bagaimana perasaan murid, apa pelajaran yang sudah didapatkan, apa kendala yang dihadapi dan solusinya seperti apa. Hingga mereka mampu merancang perbaikan untuk di kegiatan berikutnya.  

Semua proses dan tahapan dalam evaluasi sangat penting melibatkan murid secara keseluruhan. Karena merekalah peran utama dalam setiap kegiatan yang dirancang, sehingga mereka pula yang akan menemukan hal positif atau hal negatifnya sehingga dimasa yang akan datang baik murid atau program akan memiliki kemajuan yang siginifikan. Bahkan program akan bisa menjadi inspirasi untuk sekolah lain dalam lingkup yang lebih luas.  

Begitupun kesimpulan keberhasilan dari kegiatan, guru membiarkan murid untuk bisa menyimpulkan sendiri dari pembelejaran yang dilakukannya. Akhirnya guru terus berperan sebagai Fasilitator dan Motivator bagi terwujudkan program yang memunculkan kepemimpina murid.  


Salam 
Tergerak, Bergerak dan Menggerakkan
 

 

Tulisan Menginspirasi

BEST PRACTISE KALISA (Katrol Lift dengan STEM) Pengalaman terbaik dalam implementasi Pembelejaran Mendalam Oleh: Mardiah SMP Negeri 3 Padala...