KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.3
Tulisan Reflektif
Pengelolalan Program yang
Berdampak Positif Kepada Murid
CGP Rekognisi Angkatan 11
Mardiah
A. PEMIKIRAN REFLEKTIF TERKAIT PENGALAMAN BELAJAR
1.Pengalaman
Belajar dari Modul 3.3
Dengan mempelajari Modul 3.3 kami mendapat gambaran jelas tentang sebuah program
yang dibuat untuk kepentingan murid sangat perlu dilakukan dengan perencaan
yang sangat matang dan terstruktur. Program yang dibuat perlu memperhatikan
kepentingan murid yaitu dapat memunculkan Student Agency yang didalamnya
muncul voice, choice dan ownership. Dan guru memiliki tanggung jawab
besar dalam memunculkan kepemimpinan murid dengan merancang program mulai perencanan,
pelaksanaan hingga evaluasi.
Dalam melibatkan murid sebagai kepemimpinan, guru
bisa mengajak murid mulai dari perencanaa.
Bisa sebagai panitia, mengajak diskusi bentuk program, memilih kegiatan, sampai
menyiapkan kebutuhan kegiatan.
Pada tahap pelaksanaan, guru dapat berperan sebagai motivator,
konsultan dan fasilitator kegiatan. Guru
bisa menilai karakter yang muncul pada setiap individua tau kelompok. Begitupun
dalam evaluasi dan refleksi, murid bisa
dilibatkan karena merekalah sebagai peran utama maka harus mengetahui bagaimana
peristiwa yang terjadi, apa yang dirasakan, pelajaran apa yang didapatkan, kendala
dan solusi yang dihadapi, dan bagaimana
penerapannya untuk kegiatan berikutnya agar lebih baik.
Dalam modul ini guru perlu
menyiapkan berbagai lingkungan yang mendukung terciptanya kepeminpinan murid.
Terdapat 7 lingkungan yang perlu disipakan oleh guru.
Yaitu
2. Perasaan setelah Mempelajari modul 3.3 ini
Setelah mempelajari modul ini saya menjadi semakin
yakin, semakin kuat dan semakin bahagia karena sekarang memliki sandaran teori
yang jelas bagaimana membangun karakter murid di sekolah. Mengapa saya bahagia?
Karena sudah saatnya guru merubah
paradigma lama. Yaitu prestasi murid ditentukan oleh prestasi
akademik, dengan rangking dan nilai yang didapat dari proses belajar. Pemikiran
ini harus segera dirubah.
Maka dengan mempelajari modul ini, yaitu pengelolaan
program yang berdampak positif bagi murid merupakan sebuah materi untuk
mendorong guru mencapai langkah dalam membangun karakter. Guru dengan
menciptakan lingkungan yang mendukung untuk munculnya karakter sudah saatnya
dilakukan setiap pembelejaran di kelas dan sekolah.
Saya bangga dan bahagia dengan adanya modul ini
karena memberikan keyakin kuat tentang sebuah proses untuk membangun kepemimpinan
murid (Student agency). Lebih menyadari lagi kalau di dalam kepemimpinan murid
terdapat 3 point yang sedang dicapai. Dimana sebelumnya saya belum menyadari.
Ketiga point tersebut adalah suara (voice), pilihan (choice) dan
kepemilikan (ownweship). Mungkin sebelum mempelajari modul ini saya
pernah melakukan ketiga hal ini, hanya tidak menyadarinya, tidak mngetahui nama
dan konsepnya. Semua kegiatan dilakukan secara alami saja. Sehingga tidak
menjadi pokok perhatin. Namun kini setelah mempelajari modul 3.3 saya semakin
kuat dan termotivasi untuk memperdalam tentang lingkungan-lingkungan yang harus
diciptakan guru agar tumbuhnya student agency di kelas dan sekolah,
3. Apa yang sudah baik berkaitan dengan keterlibatan
dirinya dalam proses belajar.
Hal yang sudah baik dalam mempelajari modul ini
adalah bekaitan erat dengan saya yang keseharian di sekolah selain mengajar
tapi menjadi perintis dan Pembina ekstrakurikulr Science Club sejak 2005. Dalam program tersebut banyak sekali kegiatan yang mampu memunculkan
berbagai karekter murid secara positif dan memanfaatkan asset yang ada di
lingkungan sekolah. Seperti memanfaatkan laboratorium, halaman sekolah, sawah,
kebun, tempat wisata, lahan kritis, pabrik, pusat Iptek sains dan sebagainya. Juga melibatkan
banyak guru lainnya. Dan mampu memunculkan kepemimpinan murid.
Sebelum mempelajari modul ini, semua kegiatan
berjalan dengan perencaan sewajarnya tanpa mengetahui apa maksud, tujuan dan teorinya.
Kini setelah mempelajari modul, saya
serasa mendapatkan dukungan besar dan support yang sangat kuat dari pemerintah.
Karena apa yang kami lakukan dalam kegiatan Ekstrakurikuler Science Club
tersebut semua ada nama, tujuan, maksudnya.
Kini saya mampu menguraikan dan menggambarkan
semua kegiatan yang biasa dilakukan sesuai teori yang ada di dalam modul. Yaitu
adanya istilah Student Agency (kepmimpinan murid). Kini sayapun sudah mengetahui bahwa dalam program ada kegiatan yang harus memunculkan voice, choice dan ownweship.
Dan kini sudah mengetahui bahwa lingkungan yang digunakan untuk belajar merupakan
sebagian besar dari 7 lingkungan yang harus diciptakan oleh guru dalam menyusun program yang berdampak positif bagi murid. Sehingga dengan
mempelajari modul ini akhirnya saya lebih yakin dan lebih kuat bahwa murid membutuhkan
program kegiatan belajar yangs sesuai dengan kebutuhannya. Hal ini agar muncul
kepemimpin murid yang mengandung suara, pilihan dan kepemlikan demi tercapai
murid yang cerdas berkarter sesuai
Dimensi Profil Pelajar Pancasila,
4. Apa yang perlu diperbaiki terkait dengan keterlibatan
diri dalam proses belajar.
Yang perlu saya perbaiki setelah
memahami
dan mempelajari materi di modul 3.3 tentang
Pengelolalan Program yang Berdampak Positif bagi Murid adalah menciptakan program baru lainnya selain Science Camp yang sudah
dilaksanakan. Karena ternyata murid sangat bahagia, senang dan puas dengan
program yang sudah dibuat yang melibatkan munculnya voice, choise dan ownership. Sehingga saya perlu mengamati kegiatan baru yang
inovatif dari sekolah lain untuk diterapkan di sekolah sendiri. Kemudian saya
perlu merancang juga kegiatan belajar bukan hanya untuk ekstrakurikuler tapi
perlu merancang program kegiatan yang memunculkan kepemimpinan murid pada pembelajaran intra dan Kokurukuler.
5. Keterkaitan terhadap kompetensi dan kematangan diri
pribadi.
Dari modul 3.3 yang dipelajari maka kami memliki
wawasan dan pengalaman baru bahwa dalam
setiap program yang dibuat untuk kepentingan murid perlu memunculkan kepemmpinan
murid. Karena hal ini sangat penting sebagai sebuah strategi dalam memunculkan
berbagai karakter yang dimiliki murid. Karena potensi murid tidak akan muncul tanpa
adanya sebuah kegiatan belajar yang tepat untuk kebutuhan murid.
Dan kini saya memiliki alasan yang
kuat untuk memberikan jawaban kepada rekan lain yang selalu menyalahkan
Kurikulum Merdeka yang menganggap tidak
memberikan pelajaran kepada murid, tidak menggali pengetahuan yang lebih banyak
seperti kurikulum sebelumnya. Kini saya bisa menjawab bahwa kepemimpinan murid
sama pentingnya dengan memberikan ilmu pengetahuan kepada murid bahkan
membangun karakter lebih utama daripada memberikan ilmu. Jika memberikan ilmu
bisa dilakukan dengan waktu yang cepat, bahkan murid bisa mencari sendiri dari gadgetnya. Akan tetapi untuk membangun karakter membutuhkan program yang
terencana dan membutuhkan waktu lama, bahkan membutuhkan peran serta banyak pihak.
Dengan demikian, setelah mempelajari modul ini,
saya lebih percaya diri untuk tampil sebagai guru, sebagai pembina ekstrakurikuler Science Club. Karena kini
memiliki modal terori yang kuat untuk membuat program-program berikutnya yang
dapat membangun kepemimpinan murid baik intra, ko atau ekstrakurikuler.
B. ANALISIS UNTUK IMPLEMENTASI
1.
Pertanyaan kritis
Dari modul ini banyak
pertanyaan kritis yang muncul yaitu
a. Mengapa masih banyak guru yang
tidak setuju dengan program kegiatan yang dirancang
berdampak positif
bagi murid
b. Bagaiman agar lebih banyak
lagi guru yang memahami dan menyadari bahwa program yang berdampak positif
bagi murid harus diciptakan oleh guru baik di kelas atau disekolah?
c. Bagiamana cara menciptakan program kegiatan lain,
selain yang
saya rancang
terbaru ini yaitu Science Camp agar
murid memiliki
banyak kegiatan
yang bisa membangkitkan
karakter.
d. Bagaimna cara melakukan
penilaian yang efektif untuk
mengukur keberhasilan
program yang kita buat yang melibatkan murid dalam perencanaan, kegiatan dan evaluasi?
2.
Intisari yang saya
dapatkan dari modul 3.3
a. Dalam mengayomi murid,
mendampingi murid dalam belajar guru perlu menyediakan lingkungan belajar
yang mendukung untuk mengembangkan semua potensinya. Termasuk perkembangan
wawasan, berpikir dan karakternya.
b. Untuk mengembangkan karakter
tersebut dapat ditempuh dengan menyediakan lingkungan belajar yang positif agar muncul kepemimpinan
murid. Sedangkan kepemimpinan murid tersebut dikatakan berhasil jika dapat mengembangkan
tiga hal yaitu suara, pilihan dan kepemilikan.
c. Karakter yang muncul pada
murid karena adanya proses penumbuhan kepemimpinan dapat diidenfikasi dengan
tercinci. Kini dari modul tersebut mengatakan bahwa terdapat 6 dimensi yang
bisa muncul dari karakter Profil Pelajar
Pancasila. Yaitu Beriman bertaqwa dan
berakhlak mulia, mandiri, gotong
royong, kreatif, bernalar kritis dan kreatif.
3.
Tantangan yang
dihadapi
Selama mempelajari modul
kemudian merancang program maka tantangan yang dihadapi adalah:
a. Menyusun dan mencari waktu
yang tepat yang harus disesuaikan dengan waktu belajar.
b. Melibatkan banyak guru dalam
program yang dibuat.
c. Mencari sumber biaya karena
kegiatan yang maksimal dalam kepemimpinan murid sangat beragam.
d. Menyusun waktu yang efektif agar murid benar-benar terlibat
dalam perencanaan, kegiatan dan evaluasi.
4. Sebagai Solusi dari Tantangan
yang dihadapi
a. Melihat jadwal belajar,
kalender kegiatan sekolah sebagai acauan dalam mengatur waktu kegiatan.
b. Terus mendekati guru lain, memberikan
pemahaman secara personal bagaimana pentingnya sebuah program yang berdampak
kepada murid untuk memunculkan kepemimpinanya.
c. Dalam mencari sumber biaya
bisa bekerja sama dengan sekolah dan orang tua sebagai pendukung utama.
d. Membuat jawal yang terinci
yang sesuai dengan kegiatan belajar dan mengajar agar murid
dapat terlibat dalam perencanaan, kegiatan dan evalusi secara efektif.
C. KETERKAITAN ANTARA MODUL 3.3 DENGAN MODUL SEBELUMNYA
Pengelolaan program yang berdampak positif pada murid dapat terwujud dengan lancar dan
efektif di sekolah tentunya perlu dirancang dengan tepat. Salah satunya dengan
menggunakan pendekatan Inquiry BAGJA. Dalam mewujudkan tujuan belajar yang
berdampak positif kepada muridnya tentunya perlu mendapat dukungan dari banyak
pihak. Termasuk dukungan dalam konsep. Oleh sebab itu keterkaitan modul 3.3 ini dengan modul-modul sebelumnya saling
mendukung.
Berikut keterkaitan Modul 3.3 dengan modul sebelumnya.
1.
Modul 1.1 Filosofi Ki Hajar Dewantara.
Guru layaknya sebagai petani yang menjaga
tanah agar tetap subur sehingga tanaman akan tumbuh dengan baik hingga
menghasilkan buah yang berkualitas. Sehingga petani menjaga agar tidak ada hama
pengaggu, diberi pupuk, disirami dan dipagari. Begitupun seorang guru terhadap
muridnya. Mendampingi, menjga, memberikan lingkungan terbaik agar murid bisa
tumbuh dan berkembang sesuai kodrat, bakat dan minatnya. Karena guru mempunyai
peran strategis untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak sehingga
mereka dapat bahagia dan selamat sebagai individu masyarakat. Begitupun dalam mengelola program sekolah yang
berdampak positif pada murid hendaknya
melibatkan murid dan memperhatikan pengembangan potensi atau kodrat murid.
Dalam modul ini juga dibahas bahwa murid adalah pribadi yang unik dan utuh,
sehingga guru sebaiknya dapat menuntun murid sesuai dengan kodratnya.
2.
Modul 1.2 Nilai dan peran guru penggerak.
Nilai-nilai dari seorang guru penggerak yaitu mandiri, reflektif,
kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid. Sehingga peran guru sangat besar
bagi tumbuh kembang murid. Guru bereparan besar bagi terwujudnya mimpi dan
cita-cita murid. Dan yangterpenting guru berperan dalam menyiapkan
lingkungan positif yang sangat
dibutuhkan oleh murid untuk bisa mewujudkan karakter Profil Pelajar Pancasila dan merdeka
belajar. Sehingga peran guru salah satunya bisa merancang dan mewujudkan
program pembelejaran baik intrakurikuler, kokurikuler dan ektrakurikuler yang
dapat munculnya student agency. Yiatu munculnya kepemimpinan murid yang
didalamnya terdapat suara, pilihan dan kepemilikan.
3. Modul 1.3 Visi Guru Penggerak.
Sebagai ujung
tombak Pendidikan, sebagai pemimpin pembelajaran guru harus memiliki visi yang mengarah
kepada perubahan, baik perubahan di kelas atau perubahan di sekolah. Untuk mencapai
perubahan tersebut guru perlu mengenal pendekatan manajemen perubahan.
Manajemen pendekatan perubahan disebut Inkuiri Apresiatif (IA). Sehingg dalam
merencanakan dan mengelola program yang berdampak positif pada murid perlu dirancang dengan maksimal
sesuai dengan kebutuhan murid, dapat memanfaatkan asset yang dimiliki, maka
dapat dilakukan dengan menggunakan
pendekatan inkuiri apresiatif model BAGJA, dengan terlebih dahulu memetakan
aset atau sumber daya sekolah, dan mengembangkan aset atau potensi yang bisa
dikembangkan untuk merencanakan program sekolah yang berdampak pada murid.
4.
Modul 1.4. Budaya Positif.
Lingkungan positif perlu diciptakan dengan sebuah pembiasaan positif.
Inilah salah satu peran guru untuk merancang dan menciptakannya. Pembiasaan
positif jika terus dilakukan secara konsisten dengan pengawasan guru maka akan
terbentuk budaya positif. Karena Lingkungan
positif merupakan lingkungan yang
mendukung perkembangan potensi, minat dan profil belajar murid terutama
kekuatan kodrat pada anak-anak. Budaya positif juga dapat ditempuh dengan
menciptakan Lingkungan yang
menyediakan kesempatan untuk murid menggunakan pola pikir positif dan merasakan
emosi yang positif. Lingkungan yang seperti ini akan membuat murid mampu dan
berkeinginan untuk melakukan hal-hal secara positif untuk dirinya sendiri serta
memberikan pengaruh positif kepada kehidupan orang lain dan sekelilingnya. Pola
pikir positif ini didapatkan oleh murid melalui pengalaman emosi positif dalam
konteks sekolah, di mana murid bukan hanya merasa aman, nyaman, dan merasa
menjadi bagian dari komunitas sekolah. Hal ini dapat terwujud bukan hanya
keinginan saja namun guru perlu menciptakan
sebuah program kegiatan yang didalamnya terdapat pendekatan dapat memunculkan kepemimpinan murid dengan
memanfaatkan asset dan kekuatan yang dimiliki sekolah.
5.
Modul 2.1 Pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan
belajar murid.
Perlu disepakati Bersama bahwa murid memiliki ciri khas dan keunikan
masing-masing, sehingga dalam pembelajaran tidak mungkin semua murid mendapat perlakuan yang sama. Namun
guru perlu mmeberikan pembelajaran sesuai minat, bakat dan profil murid. Maka guru
dapat menggunakan pembelajaran berdiferensiasi untuk memberikan layanan
pembelajaran yang berpihak pada murid. Karena Pembelajaran berdiferensiasi ini
merupakan solusi atas beragamnya karakteristik dan kecerdasan murid. Sebelum
merencanakan pembelajaran berdiferensiasi, seorang guru hendaknya melakukan
pemetaan terhadap kebutuhan belajar, minat dan profil belajar murid. Hal ini
dilakukan untuk mengetahui aset atau kekuatan yang dimiliki oleh murid. Maka
dengan gambaran ini, dengan merancang dan mewujudkan program kegiatan yang
berdampak positif bagi murid akan mudah diwujudkan. Sehingga bisa dikatakan
program kegiatan baik kokurikler atau ektarkurikuler merupaka sebuah
pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan murid.
6.
Modul 2.2 Pembelajaran Emosional dan Sosial.
Keterampilan emosional dan social merupakan dasar yang harus dimiliki oleh
pendidik ataupun oleh murid. Sebelum disampaikan kepada murid gur terlebih
dahulu perlu menguasai 5 kompetensi social emosional (KSE). Yaitu kesadaran diri,
management diri. Kesadaran social, manegement social dan pengambilan keputusan
yang bertanggung jawab. Untuk mendapatkan komptensi ini guru perlu berlatih dan
terus merefleksi diri. Salah satu teknik kesadaran diri (mindfulness)
menjadi strategi pengembangan lima kompetensi sosial emosional yang didasarkan
pada program yang berpihak pada murid dan mewujudkan merdeka belajar dan budaya
positif di sekolah. Jika guru sudah memiliki KSE dengan maksimal maka sudah
pasti guru akan memiliki kesadaran penuh dalam merencanakan, melaksanakan dan melakukan evaluasi dan refleksi dalam menyusun program kegiatan yang berpihak kepada kepentingan murid. Guru akan
memliki kesadaran penuh untuk menjadi Pembina ekstrakurikuler atau mampu
merancang kegiatan kokurikuler yang didalamnya memunculkan kepemimpinan murid (student
agency) yang akan memunculkan voice, choice dan ownership.
7.
Modul 2.3, Coaching untuk Supervisi Akademik.
Proses Coaching merupakan sebuah keterampilan yang sangat penting dimiliki
oleh guru untuk meningkatkan kompetensi. Karena Coaching sebagai teknik atau
strategi seorang pemimpin pembelajaran yang dapat menuntun anak dan menggali potensi yang
dimiliki oleh anak. Coaching juga memberikan keleluasaan anak-anak untuk berkembang dan menggali proses berpikir. Coaching
juga dapat dimanfaatkan guru untuk berbagi dan membantu rekan sejawat dalam
menemukan potensi yang terpendam. Dengan alur TIRTA (Tujuan, Identifikasi,
Rencana aksi dan Tanggung jawab) guru dapat menerapkan proses coaching baik untuk
murid atau rekan sejawat. Sehingga dalam
pengelolaan program yang berdampak pada murid, coaching dapat digunakan sebagai
strategi untuk mengembangkan sumber daya murid, mengembangkan kepemimpinan
murid, menggali potensi murid untuk mencapai tujuan pendidikan yaitu
keselamatan dan kebahagiaan anak setinggi-tingginya.
8.
Modul 3.1 Pengambilan keputusan berdasarkan nilai-nilai
kebajikan seorang pemimpin.
Guru sebagai seorang pemimpin pembelajaran dapat mengambil keputusan secara
bijak, yaitu keputusan yang berpihak pada murid. Dasar, prinsip, paradigma atau
nilai dalam pengambilan keputusan harus konsisten, terutama berkaitan dengan
dilema etika atau bujukan moral. Di dalam merencanakan, melakukan aktivitas dan
evaluasi sebuah program kegiatan baik intrakurikuler, Kokurikuler atau
ekstrakurikuler keputusan yang bernilai dan bijak sangat dibutuhkan dari
seorang guru. Guru sebagai pemimpin Pendidikan akan menjadi leader dalam sebuah
program yang berdanpak kepada murid. Karena keputusan yang memiliki nilai dan
kebajikan sangat dibutuhkan demi keberhasilan sebuah program di sekolah. Inilah
saatnya guru yang memliki kompetensi harus tampil menjadi bagian penting dalam
mewujudkan program yang mampu menggali kepemimpinan murid. Karena Program student
agency yang dapat tercapainya suara, memlilih dan memiliki pastinya membutuhkan pengalaman dan keberanian
seorang guru. Sehingga guru dituntut untuk terus meningkatkan keberanian dalam
membuat keputusan yang bijak dan berpihak kepada kepentingan murid.
9.
Modul 3.2 Pemimpin dalam pengelolaan sumber daya.
Dalam berbagai kegiatan pembelejaran di sekolah sudah pasti akan
membutuhkan dari banyak hal. Karena keberhasil tidak mungkin dicapai tanpa
adanya kolaborasi atau dukungan sumber daya yang ada. Sumber daya yang ada di sekolah pastinya
tidak akan sama, namun memiliki perbedaan. Disinilah guru perlu memiliki
keterampilan untuk dapat memanfaatkannya dengan maksimal. Sehingga Guru
sebagai pemimpin pembelajaran maupun pengelola program sekolah harus dapat
memetakan dan mengidentifikasi aset-aset yang ada di sekolah, baik aset fisik
maupun non fisik. Pendekatan berbasis aset/kekuatan (asset based thinking)
akan lebih dapat mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh sekolah sebagai
komunitas belajar, dibandingkan dengan pendekatan berbasis masalah/kekurangan (deficit
based thinking). Paradigma berpikir harus melihat sisi positif yang
dimiliki oleh sekolah. Maka dengan
pemahaman ini, program yang berdampak positif bagi murid akan mudah terlaksana
dalam mencapai tujuannya. Karena setiap
program yang memunculkan kepemimpinan murid perlu dirancang dengan maksimal
sehingga karakter Profil Pelajar Pancasila yang diharapkan muncul dapat terealisasi
dengan mudah. Sehingga sangat jelas, guru perlu memahami 7 aset yang dimiliki
sekolah dan mampu merancangnya sehingga menjadi sebuah asset yang akan mendukung terwujudknya program yang
berdampak bagi kepentingan murid.
D. BAGAIMANA
SEHARUSNYA PROGRAM DIRENCANAKAN,
DILAKSANAKAN DAN DIEVALUASI AGAR BERDAMPAK POSITIF BAGI MURID
Program yang
berdampak positif pada murid merupakan sebuah visi yang harus dimiliki guru
sebagai pemimpin Pendidikan. Setekah adanya Pendidikan Guru Penggerak, kini
guru Indonesia perlu memahami filosofi dasar Ki Hajar Dewantara, karena dengan
memahaminya kemudian mewujudkannya maka guru berusaha untuk memiliki nilai-nilai kebajikan, memiliki 5 Keterampilan
Sosisal Emosional, keterampilan Coaching. Sehingga mampu
menciptakan pembiasaan positif, lingkungan positf hingga terwujudnya bidaya
positif di sekolah.
Dari Pendidikan guru
Penggerak ini, guru mampu menciptakan pembelajaran yang berpihak kepada kepentingan
murid di kelas dengan memperhatikan minat,
potensi dan profil murid dengan
melahirkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas. Akhirnya guru Indonesia akan
muncul sebagai pemimpin pembelajaran dengan terampil mengambilan keputusan
berdasarkan nilai-nilai kebajikan. Dan guru Indonesia akan tampil menjadi
pemimpin pembelajaran yang mampu mengelola
semua asset yang dimiliki sekolah. Dengan demikian, akan mudahlah guru bergerak
dan menggerakan dengan menyusun program
yang berdampak positif kepada kepentingan murid. Dan pada akhirnya muncullah
murid yang memiliki kecerdasan dan karakter Profil Pelajar Pancasila
yang diharapkan untuk mengisi Indonesia Emas di tahun 2045.
Dengan kemampuan guru yang lengkap ini, maka akan dengan mudah terwujud
program yang memunculkan kepemimpinan
murid (student agency) dengan memberikan ruang dan mempromosikan suara,
pilihan dan kepemilikan. Akhirnya terwujudkan rasa bahagia dan sejahtera (well-being)
dan budaya positif di sekolah. Kodrat anak yang memiliki ragam potensi dan
bakat dapat tergali dan dituntun menuju kepada kebahagian yang setinggi-tingginya.
Adapun program
atau kegiatan sekolah baik intrakurikuler,
kokurikuler atau ekstrakurikuler yang membutuhkan perencanaan, pelaksanaan dan refleksi evaluasi
harus dilakukan secara kolaboratif. Artinya semua komponen yang ada di sekolah
berperan aktif dan saling berinteraksi layaknya sebuah ekosistem yang seimbang.
Sehingga semua asset yang dimiliki sekolah dapat berperan dengan baik dan
akhirnya murid akan merasakan dampak positifnya seperti yang diharapkan oleh
tujuan Pendidikan.
Untuk lebih
rinci mengenai Perencaan, pelaksanaan dan evaluasi agar program bisa berdampak
positif bagi murid adalah sebagai berikut:
1. Perencaan Program.
Pada
mulanya, bisa saja ide program muncul dari inisiatif guru. Karena program perlu
berkolaborasi maka harus membentuk tim kecil dengan sesama guru dalam merumuskan program secara global. Kemudian untuk
tercapai tujuan kepemimpinan murid dalam hal suara, pilihan dan kepemilikan,
maka perencanaan yang lebih mendetail perlu melibatkan murid. Dan agar kita dapat menjadikan
murid sebagai pemimpin bagi proses pembelajarannya sendiri, maka kita perlu
memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan kapasitasnya dalam
mengelola pembelajaran mereka sendiri, sehingga potensi kepemimpinannya
dapat berkembang dengan baik.
a. Perencanaan Program untuk Memunculkan Voice (Suara)
Voice (suara) adalah pandangan,
perhatian, gagasan yang diekspresikan oleh murid melalui partisipasi aktif
mereka di kelas, sekolah, komunitas, dan sistem pendidikan mereka, yang
berkontribusi pada proses pengambilan keputusan dan secara kolektif
mempengaruhi hasilnya.
Mempertimbangkan suara murid adalah tentang
bagaimana kita memberdayakan murid kita agar memiliki kekuatan untuk
mempengaruhi perubahan. Suara murid yang otentik memberikan kesempatan bagi
murid untuk berkolaborasi dan membuat keputusan dengan orang dewasa seputar apa
dan bagaimana mereka belajar dan bagaimana pembelajaran mereka dinilai.
Mempromosikan suara murid dalam proses pembelajaran
dapat dilakukan dalam banyak cara. Suara murid dapat ditumbuhkan melalui
diskusi, membuka ruang ekspresi kreatif, memberi pendapat, merelevansikan
pembelajaran secara pribadi, dan sebagainya. Berikut ini adalah beberapa contoh
bagaimana sekolah atau guru dapat mempromosikan “suara murid”:
Dalam memunculkan suara murid dalam
sebuah perencanaan program dapat melibatkan murid untuk memberikan saran tentang program
kegiatan apa yang diharapkan. Mengajak murid untuk mendiskusikan bentuk program. dan dapat mengajak mereka untuk menjadi panitia pelaksana teknis. Serta melibatkan
murid dalam menghadapi kendala yang dihadapi saat perencaan dan dilibatkan dalam membuat poster kegiatan.
b. Dalam Perencanaan untuk Memunculkan Pilihan (Choice).
Mengapa hal ini penting karena Pilihan (choice) adalah peluang yang diberikan
kepada murid untuk memilih kesempatan-kesempatan dalam ranah sosial,
lingkungan, dan pembelajar. Dalam ranah sosial, murid dapat diberikan
kesempatan untuk berada dalam kelompok yang sesuai dengan tujuan atau minatnya;
dalam ranah lingkungan, murid dapat diberikan kesempatan untuk memilih atau
mengatur tempat belajar yang sesuai untuk mereka. Dalam ranah lingkungan, murid
diberikan kesempatan untuk memilih lingkungan belajar yang paling mendukung
untuk mereka belajar secara maksimal. Sementara dalam ranah pembelajaran, murid
diberikan pilihan-pilihan untuk mengakses, berlatih, atau membuktikan
penguasaan pengetahuan atau keterampilan dalam kurikulum.
Karena menurut Bandura
(1997) juga menegaskan bahwa memberikan murid pilihan juga akan meningkatkan
motivasi dan otonomi murid, yang dapat memberikan dampak positif pada efikasi
diri dan motivasi murid (dalam Thibodeaux et al, 2019).
c. Dalam perencanaan juga murid dilibatkan agar muncul
rasa kepemilikan. (Ownership)
Untuk menumbuhkan kepemimpinan murid dalam
proses belajar, ketiga aspek tersebut tentunya perlu didorong oleh guru.
Pilihan dan suara murid menjadi penting agar murid mempunyai rasa ‘memiliki’
proses pembelajaran mereka sendiri. Di sisi lain, melalui pilihan dan dengan
rasa memiliki yang kuat, suara mereka kemudian dapat diwujudkan.
Perlu diperhatikan bahwa ketiga aspek ini
tidak dapat berada di lingkungan yang tidak terstruktur. Ketiga aspek ini
harus disematkan dengan hati-hati dalam lingkungan belajar yang
menumbuhkembangkan elemen-elemen tersebut secara otentik. Lingkungan belajar
yang seperti ini akan mensyaratkan seluruh anggota komunitas untuk ikut
terlibat dalam prosesnya..
2.
Pelaksanaan
Program
Dalam Pelaksaan Program guru membiarkan murid untuk
mampu belajar dengan pembelajaran yang dirancangnya. Guru tetap mendampingi
sebagai fasilitator dan motivator. Karena
dalam perencanaan yang sudah disiapkan
dengan baik dan terstruktur maka dalam pelaksaannya guru bisa mengamati apa
yang dilakukan oleh setiap murid sesuai dengan pilihannya.
3.
Evaluasi
dan Refleksi
Pada
evaluasi dan refleksi perlu dilakukan dengan waktu khusus yang tujuannya untuk
melihat apa peristiwa yang sudah dialami oleh murid, bagaimana perasaan murid,
apa pelajaran yang sudah didapatkan, apa kendala yang dihadapi dan solusinya
seperti apa. Hingga mereka mampu merancang perbaikan untuk di kegiatan
berikutnya.
Semua
proses dan tahapan dalam evaluasi sangat penting melibatkan murid secara
keseluruhan. Karena merekalah peran utama dalam setiap kegiatan yang dirancang,
sehingga mereka pula yang akan menemukan hal positif atau hal negatifnya
sehingga dimasa yang akan datang baik murid atau program akan memiliki kemajuan
yang siginifikan. Bahkan program akan bisa menjadi inspirasi untuk sekolah lain
dalam lingkup yang lebih luas.
Begitupun
kesimpulan keberhasilan dari kegiatan, guru membiarkan murid untuk bisa
menyimpulkan sendiri dari pembelejaran yang dilakukannya. Akhirnya guru terus
berperan sebagai Fasilitator dan Motivator bagi terwujudkan program yang
memunculkan kepemimpina murid.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar