KONEKSI ANTAR MATERI

       COCHING DALAM SUPERVISI AKADEMIK

(MODUL 2.3)

Oleh: Mardiah

Calon Guru Penggerak Recognisi Angkatan 11


A. Coaching Secara Umum



   Selain menyiapkan  diri kita sebagai pemimpin pembelajaran, program Pendidikan Guru Penggerak juga menyiapkan kita untuk menjadi seorang kepala sekolah. Sebagai kepala sekolah, tentunya tidak akan terlepas dengan tugas supervisi akademik. Supervisi akademik ini dilakukan untuk memastikan  pembelajaran yang berpihak pada murid sebagaimana tertuang dalam standar proses pada Standar Nasional Pendidikan Pasal 12 yaitu:

Pelaksanaan pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) huruf b diselenggarakan dalam suasana belajar yang: 

  1. interaktif;
  2. inspiratif; 
  3. menyenangkan; 
  4. menantang; 
  5. memotivasi Peserta Didik untuk berpartisipasi aktif; dan 
  6. memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik, serta psikologis Peserta Didik. 

Oleh karena itu, penting kiranya bagi kita memastikan bahwa supervisi akademik yang kita jalankan benar-benar berfokus pada proses pembelajaran sebagaimana yang tertuang dalam standar proses tersebut.

Selain bertujuan untuk memastikan pembelajaran yang berpihak pada murid, supervisi akademik juga bertujuan untuk pengembangan kompetensi diri dalam setiap pendidik di sekolah sebagaimana tertuang dalam standar tenaga kependidikan pada Standar Nasional Pendidikan pasal 20 ayat 2:

Kriteria minimal kompetensi pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.

Rangkaian supervisi akademik ini digunakan kepala sekolah untuk mendorong ruang perbaikan dan pengembangan diri guru di sekolahnya.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, kepala sekolah seperti apakah yang dapat mendorong kita sebagai warga sekolah untuk selalu mengembangkan kompetensi diri dan senantiasa memiliki growth mindset, serta keberpihakan pada murid? Jawabannya adalah pemimpin sekolah yang dapat mengidentifikasi kebutuhan pengembangan kompetensi diri dan orang lain dengan menggunakan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan tersebut.

Dalam hal ini, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan yang diawali dengan paradigma berpikir yang memberdayakan. Pendekatan dengan paradigma berpikir yang memberdayakan mutlak diperlukan agar pengembangan diri dapat berjalan secara berkelanjutan dan terarah. Salah satu pendekatan yang memberdayakan adalah coaching sebagaimana Whitmore (2003) ungkapkan bahwa coaching adalah kunci pembuka potensi seseorang untuk memaksimalkan kinerjanya. 

Sejalan dengan hal ini, dengan adanya program Pendidikan Guru Penggerak ini, kita diharapkan menjadi supervisor atau kepala sekolah yang memiliki paradigma berpikir dan keterampilan coaching dalam rangka pengembangan diri dan rekan sejawat. Untuk lebih jelasnya, mari simak penjelasan mengenai konsep coaching secara umum dan konsep coaching dalam konteks sekolah pada dan kaitannya dengan peran kita sebagai kepala sekolah atau supervisor.


1.  Sejarah Coaching.

Coaching  berasal dari kata "Coach" yang  artinya kendaraan besar yang mengantarkan barang. Sehingga Coaching diartikan sebagai sebuah proses yang mengantarkan orang untuk mencapai tujuan.  Pada tahun 1830: Seorang dosen di OXford Univercity disebut sebagai Coach karena berhasil mengantarkan mahasiswa pada prestasi tertentu. Tahun 1980: Coach berkembang di dunia olah raga yang mengantarkan orang pada sebuah prestasi yang dicapai. 

     Sedangkan pada  tahun 1995: Terbentuk komunitas Coaching dunia yang disebut ICF. Saat inilah Coaching berkembang . Sehingga Coaching diartikan sebagai sebuah kemitraan anttara Coacah dengan kliennya.  Prinsip coaching saat ini adalah sebagai sebuah kemitraan antara Coach dan coachee, dimana berjalan proses yang kreatif, membangun ide-ide, eksplorasi untuk meningkatkan / memaksimalkan potensi personal atau profesional seorang coachee. 


2. Pengertian Coaching secara umum

Coaching didefinisikan sebagai sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999). Sedangkan Whitmore (2003) mendefinisikan coaching sebagai kunci pembuka potensi seseorang untuk untuk memaksimalkan kinerjanya.

Coaching lebih kepada membantu seseorang untuk belajar daripada mengajarinya. Sejalan dengan pendapat para ahli tersebut, International Coach Federation mendefinisikan coaching sebagai“…bentuk kemitraan bersama klien (coachee) untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional yang dimilikinya melalui proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif.”


3. Paradigma Berpikir Coaching

Untuk dapat membantu rekan sejawat kita untuk mengembangkan kompetensi diri mereka dan menjadi otonom, kita perlu memiliki paradigma berpikir coaching terlebih dahulu. Paradigma tersebut adalah: Fokus pada coachee/rekan yang akan dikembangka, Bersikap terbuka dan ingin tahu, Memiliki kesadaran diri yang kuat dan Mampu melihat peluang baru dan masa depan. Untuk lebih rincinya adalah sebagai brikut: 


a. Fokus pada coachee atau rekan sejawat yang akan kita kembangkan. 
  Pada saat kita mengembangkan kompetensi rekan sejawat kita, kita memusatkan perhatian kita pada rekan yang kita kembangkan, bukan pada "situasi" yang dibawanya dalam percakapan. Fokus diletakkan pada topik apa pun yang dibawa oleh rekan tersebut, dapat membawa kemajuan pada mereka, sesuai keinginan mereka. Berikut adalah percakapan yang menggambarkan bagaimana kita berfokus pada rekan sejawat kita bukan pada "situasi" yang disampaikan dalam percakapan.

b. Bersifat terbuka dan ingin tahu. 

      Kita perlu berpikiran terbuka terhadap pemikiran-pemikiran rekan sejawat yang kita kembangkan. Ciri-ciri dari sikap terbuka dan ingin tahu ini adalah:

  • Berusaha untuk tidak menghakimi, melabel, berasumsi, atau menganalisis pemikiran orang lain;
  • Mampu menerima pemikiran orang lain dengan tenang, dan tidak menjadi emosional;
  • Tetap menunjukkan rasa ingin tahu (curiosity) yang besar terhadap apa yang membuat orang lain memiliki pemikiran tertentu.

    Agar kita dapat bersikap terbuka, kita perlu selalu berpikir netral terhadap apa pun yang dikatakan atau dilakukan rekan kita. Jika ada penghakiman atau asumsi yang muncul di pikiran kita atas jawaban rekan kita, maka kita mengubah pikiran tersebut dalam bentuk pertanyaan untuk mengonfirmasi penghakiman atau asumsi itu secara hati-hati. Contoh kalimat yang bisa diucapkan adalah “Pada saat saya mendengarkan apa-apa yang Ibu ceritakan, saya menangkap adanya keinginan Ibu untuk terus berusaha sebisa Ibu. Apakah betul seperti itu Bu?”

Memelihara rasa ingin tahu membantu rekan kita dan diri kita untuk memahami situasi rekan kita. Contoh kalimat yang bisa diucapkan adalah “Tadi Ibu mengatakan ya sudah saya menurut saja apa yang dikatakan oleh kepala sekolah, dari mana datangnya pikiran itu?”


c. Memiliki kesadaran diri yang kuat. 

     Kesadaran diri yang kuat membantu kita untuk bisa menangkap adanya perubahan yang terjadi selama pembicaraan dengan rekan sejawat. Kita perlu mampu menangkap adanya emosi/energi yang timbul dan mempengaruhi percakapan, baik dari dalam diri sendiri maupun dari rekan kita. Kompetensi yang merupakan perwujudan dari paradigma berpikir ini akan kita pelajari lebih lanjut di bagian Kompetensi Coaching.

d. Mampu melihat peluang baru dan masa depan. 

      Kita harus mampu melihat peluang perkembangan yang ada dan juga bisa membawa rekan kita melihat masa depan. Coaching mendorong seseorang untuk fokus pada masa depan, karena apapun situasinya saat ini, yang masih bisa diubah adalah masa depan. Coaching juga mendorong seseorang untuk fokus pada solusi, bukan pada masalah, karena pada saat kita berfokus pada solusi, kita menjadi lebih bersemangat dibandingkan jika kita berfokus pada masalah.

Agar rekan sejawat kita bisa melihat peluang baru dan fokus pada masa depan, kita dapat mengajukan pertanyaan berikut kepada mereka:

  1. Tadi Bapak/Ibu sudah ceritakan situasi Bapak/Ibu saat ini, lantas situasi ideal apa yang Bapak/Ibu inginkan di masa depan?
  2. Tadi Bapak/Ibu sudah ceritakan tantangan/masalah yang Bapak/Ibu hadapi saat ini, lantas idealnya situasinya seperti apa?
  3. Apa saja yang bisa dijadikan pilihan untuk dapat mewujudkan situasi ideal tersebut?
  4.  Ada peluang apa saja yang dimiliki?
  5.  Apa yang perlu dilakukan untuk dapat memiliki peluang-peluang baru?
4.  Prinsip Coaching


      “ICF defines coaching as partnering with clients in a thought-provoking and creative process that inspires them to maximize their personal and professional potential.” 
 (Links to an external site.) (Links to an external site.)

International Coaching Federation (ICF) mendefinisikan coaching sebagai kemitraan dengan klien dalam suatu proses kreatif dan menggugah pikiran untuk menginspirasi klien agar dapat memaksimalkan potensi pribadi dan profesional coachee.

Prinsip coaching dikembangkan dari tiga kata/frasa kunci pada definisi coaching, yaitu “kemitraan, proses kreatif, dan memaksimalkan potensi”. Dalam berinteraksi dengan rekan sejawat atau siapa saja, kita dapat menggunakan ketiga prinsip coaching tersebut dalam rangka memberdayakan orang yang sedang kita ajak berinteraksi. Berikut adalah penjelasan ketiga prinsip tersebut.


a. Kemitraan'

       Prinsip coaching yang pertama adalah kemitraan. Dalam coaching, posisi coach terhadap coachee-nya adalah mitra. Itu berarti setara, tidak ada yang lebih tinggi maupun lebih rendah. Coachee adalah sumber belajar bagi dirinya sendiri. Coach merupakan rekan berpikir bagi coachee-nya dalam membantu coachee belajar dari dirinya sendiri. Coach bisa berbagi mengenai pengalamannya yang terkait dengan topik pengembangan coachee, jika diminta oleh coachee, sebagai salah satu sumber belajar bagi coachee.

Kemitraan ini diwujudkan dengan cara kita membangun kesetaraan dengan orang yang akan kita kembangkan, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah di antara keduanya. Kesetaraan dapat dibangun dengan cara menumbuhkan rasa percaya diri kita, pada saat kita akan mengembangkan rekan sejawat yang lebih tua, lebih senior, dan atau lebih berpengalaman. Sebaliknya, kita perlu menumbuhkan rasa rendah hati pada saat rekan sejawat yang akan kita kembangkan adalah rekan yang lebih muda, lebih junior, dan atau memiliki pengalaman yang lebih sedikit dari kita.

Kemitraan dalam mengembangkan rekan sejawat, juga ditunjukkan dengan cara mengedepankan tujuan rekan yang akan kita kembangkan. Tujuan pengembangan ditetapkan oleh rekan yang yang akan dikembangkan, bukan oleh kita, yang akan membantu pengembangan tersebut. Mengapa? Dengan demikian, harapannya rekan yang kita kembangkan akan lebih merasa termotivasi dan berkomitmen dalam prosesnya.

Pertanyaan yang bisa dilontarkan oleh kita kepada rekan sejawat kita untuk membangun kemitraan ini adalah sebagai berikut:

  1. Apa yang ingin Bapak/Ibu kembangkan dalam enam bulan ke depan?

  2. Apa yang ingin Bapak/Ibu capai di akhir semester/tahun pelajaran ini?

  3. Di antara standar proses pembelajaran yang kita miliki, bagian mana yang menurut Bapak/Ibu paling perlu Bapak/Ibu tingkatkan/kembangkan?

b. Proses Kreatif

Coaching adalah proses mengantarkan seseorang dari situasi dia saat ini ke situasi ideal yang diinginkan di masa depan. Hal ini tergambar dalam prinsip coaching yang kedua, yaitu proses kreatif. Proses kreatif ini dilakukan melalui percakapan, yang:

  1. dua arah 
  2. memicu proses berpikir coachee
  3. memetakan dan menggali situasi coachee untuk menghasilkan ide-ide baru

Pada saat kita menggunakan prinsip coaching dalam mengembangkan kompetensi diri rekan sejawat, maka percakapan yang berlangsung adalah dua arah. Yang kita lakukan adalah mendengarkan rekan kita dan kemudian melontarkan pertanyaan untuk membantu rekan kita untuk lebih memahami situasi dirinya, situasi ideal yang dia inginkan, serta langkah-langkah untuk membawa dia dari situasi dia saat ini ke situasi ideal yang dia inginkan. 

Prinsip ini dapat membantu seseorang untuk menjadi otonom karena dalam prosesnya orang yang dikembangkan perlu untuk berpikir ke dalam dirinya untuk mendapat kesadaran diri akan situasinya dan kemudian menemukan langkah-langkah apa yang perlu dilakukan untuk mengembangkan kompetensi dirinya. Berikut adalah percakapan yang menggambarkan proses kreatif antara seorang guru yang membantu rekan sejawatnya dalam mengembangkan kompetensi dirinya.

Coach : Di antara standar proses pembelajaran yang kita miliki, bagian mana yang menurut Ibu paling perlu Ibu tingkatkan atau kembangkan?
Coachee : Saya ingin mengembangkan bagaimana saya bisa memenuhi kebutuhan belajar murid-murid saya yang berbeda-beda, Pak.
Coach : O … jadi Ibu ingin mengembangkan bagaimana Ibu bisa memenuhi kebutuhan belajar murid-murid Ibu yang berbeda-beda. Apa indikator dari Ibu sudah bisa memenuhi kebutuhan belajar murid-murid Ibu yang berbeda-beda tersebut?
Coachee : Indikatornya, semua murid saya bisa memahami konsep yang saya ajarkan dengan lebih mudah. Mereka bisa menikmati proses belajar mereka karena sesuai dengan gaya dan kecepatan belajar mereka masing-masing.
Coach : Baik, jadi indikatornya adalah semua murid Ibu bisa memahami konsep yang Ibu ajarkan dengan lebih mudah dan mereka bisa menikmati proses belajar karena sesuai dengan gaya dan kecepatan belajar mereka masing-masing ya …. Sehubungan dengan tujuan tersebut, skala 1-10, jika 10 Ibu sudah dapat memenuhi kebutuhan belajar murid-murid seperti yang Ibu sampaikan tadi, dan 0 belum memenuhi, Ibu ada di angka berapa saat ini?
Coachee : Sepertinya saya masih di angka 6 deh Pak.
Coach : Di angka 6 ya. Seperti apa itu angka 6 nya Bu? Bisa dijelaskan?
Coachee : Di angka 6 karena saat ini proses belajar saya baru mengakomodir tiga tingkatan pemahaman, mudah, sedang, dan sulit. Saya belum mempertimbangkan gaya belajar dan kecepatan belajar murid sama sekali.
Coach : Baik … Ibu ingin meningkatkannya menjadi angka berapa dalam beberapa minggu ke depan?
Coachee : Ditingkatkan ke angka 8 deh Pak.
Coach : 8 nya seperti apa itu Bu?
Coachee : Saya akan mencoba menyiapkan proses belajar yang mengakomodir gaya belajar murid-murid saya Pak.
Coach : Untuk bisa menyiapkan proses belajar yang mengakomodir gaya belajar murid-murid Ibu, apa saja yang sudah Ibu lakukan?
Coachee : (bercerita hal-hal yang sudah dilakukan)
Coach : Jadi Ibu sudah melakukan itu semua ya …. Apa lagi yang perlu ditambahkan dilakukan berbeda, supaya murid Ibu ini bisa fokus menyimak penjelasan Ibu pada saat Ibu mengajar?
Coachee : (berpikir dan mengatakan hal-hal yang perlu ditambahkan dan dilakukan berbeda)
Coach : Apa lagi?

 Perhatikan contoh percakapan di atas. Guru yang menjadi coach hanya melontarkan pertanyaan untuk membantu rekan sejawatnya memetakan situasi dia saat ini dan situasi yang dia inginkan di masa depan. Dua pertanyaan terakhir adalah contoh pertanyaan untuk menghasilkan ide-ide baru. Cara-cara bertanya seperti di atas akan kita pelajari lagi di bagian Kompetensi Coaching dan Alur Percakapan Coaching TIRTA.

c. Memaksimalkan potensi.

 Untuk memaksimalkan potensi dan memberdayakan rekan sejawat, percakapan perlu diakhiri dengan suatu rencana tindak lanjut yang diputuskan oleh rekan yang dikembangkan, yang paling mungkin dilakukan dan paling besar kemungkinan berhasilnya. Selain itu juga, percakapan ditutup dengan kesimpulan yang dinyatakan oleh rekan yang sedang dikembangkan.

Pertanyaan yang bisa dilontarkan oleh kita kepada rekan sejawat kita untuk bergerak maju adalah sebagai berikut:

  • Jadi apa yang akan Bapak/Ibu lakukan setelah sesi ini dari alternatif-alternatif tadi?
  • Kapan Bapak/Ibu akan melakukannya?
  • Bagaimana Bapak/Ibu memastikan ini bisa berjalan?
  • Siapa yang perlu dimintai dukungan?

Pertanyaan yang bisa dilontarkan oleh kita kepada rekan sejawat kita untuk meminta mereka menyimpulkan adalah sebagai berikut:

  • Apa yang bisa Bapak/Ibu simpulkan dari percakapan kita barusan?
  • Apa yang menjadi pandangan baru dari percakapan kita barusan?


 

5. Kompetensi Coaching

Berdasarkan ICF (International Coaching Federation) ada 8 kompetensi inti namun untuk kebutuhan Pendidikan Guru Penggerak, kita mempelajari 3 kompetensi inti yang penting dipahami, diterapkan, dan dilatih secara terus menerus saat melakukan percakapan coaching kepada teman sejawat di sekolah.
Berikut ini adalah kompetensi inti coaching: 

1.  Kehadiran Penuh/Presence
Kehadiran penuh/presence adalah kemampuan untuk bisa hadir utuh bagi coachee, atau di dalam coaching disebut sebagai coaching presence sehingga badan, pikiran, hati selaras saat sedang melakukan percakapan coaching. Kehadiran penuh ini adalah bagian dari kesadaran diri yang akan membantu munculnya paradigma berpikir dan kompetensi lain saat kita melakukan percakapan coaching.

 2. Mendengarkan Aktif
Salah satu keterampilan utama dalam coaching adalah keterampilan mendengarkan dengan aktif atau sering kita sebut dengan menyimak. Seorang coach yang baik akan mendengarkan lebih banyak dan lebih sedikit berbicara. Dalam percakapan coaching, fokus dan pusat komunikasi adalah pada diri coachee, yakni mitra
bicara. Dalam hal ini, seorang coach harus dapat mengesampingkan agenda pribadi atau apa yang ada di pikirannya termasuk penilaian terhadap coachee.

Kemampuan mendengarkan aktif atau menyimak perlu dilatih untuk fokus pada apa yang dikatakan oleh coachee dan memahami keseluruhan makna yang bahkan tidak terucapkan. Ada tiga hal yang biasanya menghambat kita mendengarkan aktif, yaitu:

a. Asumsi, sudah mempunyai anggapan tertentu tentang suatu situasi yang belum tentu benar.

b. Melabel/Judgment, memberi label/penilaian pada seseorang dalam situasi tertentu. Memberi label/penilaian bisa terjadi sebelum dan pada saat coaching dilakukan. 

c.  Asosiasi: mengaitkan dengan pengalaman pribadi. Pada saat coachee menceritakan sebuah kejadian yang dia alami, kemudian kita teringat dengan kejadian yang kita alami, pada saat itu potensi asosiasi muncul. Potensi tersebut dapat menjadi asosiasi pada saat kita mulai mengaitkannya dengan pengalaman pribadi kita. Pada saat kita terbawa pada asosiasi kita, percakapan kita dengan coachee akan berpotensi mengacu kepada pengalaman kita. Perilaku yang muncul pada kita bisa jadi dalam bentuk pertanyaan yang mengarahkan atau kecenderungan untuk menasehati.

3.. Mengajukan Pertanyaan Berbobot
Dalam melakukan percakapan coaching ketrampilan kunci lainnya adalah mengajukan pertanyaan dengan tujuan tertentu atau pertanyaan berbobot. Pertanyaan yang diajukan seorang coach diharapkan menggugah orang untuk berpikir dan dapat menstimulasi pemikiran coachee, memunculkan hal-hal yang mungkin belum terpikirkan sebelumnya, mengungkapkan emosi atau nilai dalam diri dan yang dapat mendorong coachee untuk membuat sebuah aksi bagi pengembangan diri dan kompetensi.


Pertanyaan berbobot memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Hasil mendengarkan aktif: Menggunakan kata kunci yang didapat dari
mendengarkan
b. Membantu coachee: Membuat coachee mengingat, merenung, dan merangkai
fakta sehingga dapat memahami apa yang terjadi pada dirinya
d. Bersifat terbuka dan eksploratif: Struktur kalimat terbuka, membuat coachee
harus menjawab sambal berpikir
d. Diajukan di momen yang tepat: Tidak terburu-buru dalam mengajukan pertanyaan dan ditanyakan di waktu yang coachee sudah siap memprosesnya.

 

6. RASA
     Setelah mempelajari bagaimana mendengarkan aktif, berikut ini adalah salah satu referensi yang dapat kita gunakan untuk mengajukan pertanyaan berbobot hasil dari mendengarkan aktif yaitu RASA yang diperkenalkan oleh Julian Treasure.

RASA merupakan akronim dari Receive, Appreciate, Summarize, dan Ask yang akan dijelaskan sebagai berikut:
a. R (Receive/Terima), yang berarti menerima/mendengarkan semAskua informasi yang disampaikan coachee. Perhatikan kata kunci yang diucapkan. 

b. A (Appreciate/Apresiasi), yaitu memberikan apresiasi dengan merespon atau memberikan tanda bahwa kita mendengarkan coachee. Respon yang diberikan bisa dengan anggukan, dengan kontak mata atau melontarkan “oh…” “ya…”. Bentuk apresiasi akan muncul saat kita memberikan perhatian dan hadir sepenuhnya pada coachee tidak terganggu dengan situasi lain atau sibuk mencatat.


c. S (Summarize/Merangkum), saat coachee selesai bercerita rangkum untuk memastikan pemahaman kita sama. Perhatikan dan gunakan kata kunci yang diucapkan coachee. Saat merangkum bisa gunakan potongan-potongan informasi yang telah didapatkan dari percakapan sebelumnya. Minta coachee untuk konfirmasi apakah rangkuman sudah sesuai Setelah merangkum apa yang disampaikan coachee bagian terakhir adalah


d, A (Ask/Tanya). Sama dengan apa yang sudah disampaikan sebelumnya terkait kiat mengajukan pertanyaan berbobot berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan saat
mengajukan pertanyaan.


 7Perbedaan Coaching dengan pelayanan lainnya.



a. Mentoring

   Menurut kedua ahli mentoring adalah merupakan suatu proses  dimana seorang teman, guru,        pelindung, atau pembimbing yang bijak dan penolong menggunakan pengalamannya untuk membantu seseorang dalam mengatasi kesulitan dan mencegah bahaya. yang didalamnya terdapat kegiatan memindahkan pengetahuan tentang banyak hal, memfasilitasi perkembangan, mendorong pilihan yang bijak dan membantu mentee untuk membuat perubahan.

b. Konseling

menurut ahli Konseling adalah   hubungan bantuan antara konselor dan klien yang difokuskan pada pertumbuhan pribadi dan penyesuaian diri serta pemecahan masalah dan pengambilan keputusan yang didalamnya terdaoat rangkaian-rangkaian kontak atau hubungan secara langsung dengan individu yang tujuannya untuk  memberikan bantuan dalam merubah sikap dan tingkah lakunya.

c. Fasilitasi

Fasilitasi adalah   sebuah proses dimana seseorang yang dapat diterima oleh seluruh anggota kelompok, secara substantif berdiri netral, dan tidak punya otoritas mengambil kebijakan, melakukan intervensi untuk membantu kelompok memperbaiki cara-cara mengidentifikasi dan menyelesaikan berbagai masalah, serta membuat keputusan, agar bisa meningkatkan efektivitas kelompok itu.

d,Training

Training merupakan suatu usaha yang terencana untuk memfasilitasi pembelajaran tentang pekerjaan yang berkaitan dengan pengetahuan, keahlian dan perilaku oleh para pegawas.


 8. Percakapan Berbasis Coaching dengan Alur TIRTA

             


       TIRTA dikembangkan dari satu model umum coaching yang dikenal sangat luas dan telah banyak diaplikasikan, yaitu GROW model. GROW adalah kepanjangan dari Goal, Reality, Options dan Will. Pada tahapan 1) Goal (Tujuan): coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini, 2) Reality (Hal-hal yang nyata): proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee, 3) Options (Pilihan): coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi. Will (Keinginan untuk maju): komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya.

Alur percakapan coaching TIRTA dikembangkan dengan semangat merdeka belajar yang membuat kita memiliki paradigma berpikir, prinsip dan keterampilan coaching untuk memfasilitasi rekan sejawat agar dapat belajar dari situasi yang dihadapi dan membuat keputusan-keputusan bijaksana secara mandiri. Hal ini penting
mengingat tujuan coaching yaitu untuk pengembangan diri dan membangun kemandirian. Melalui alur percakapan coaching TIRTA, kita diharapkan dapat melakukan pendampingan baik kepada rekan sejawat maupun muridnya.

TIRTA dapat dijelaskan sebagai berikut:


Tujuan Umum 

(Tahap awal dimana kedua pihak coach dan coachee menyepakati tujuan pembicaraan yang akan berlangsung. Idealnya tujuan ini datang dari coachee) Dalam tujuan umum, beberapa hal yang dapat coach rancang (dalam pikiran coach) dan yang dapat ditanyakan kepada coachee diantaranya:
a. Apa rencana pertemuan ini?
b. Apa tujuannya?
c. Apa tujuan dari pertemuan ini?
d. Apa definisi tujuan akhir yang diketahui?
e. Apakah ukuran keberhasilan pertemuan ini?
Seorang coach menanyakan kepada coachee tentang sebenarnya tujuan yang ingin
diraih coachee.


Identifikasi 

(Coach melakukan penggalian dan pemetaan situasi yang sedang dibicarakan, dan menghubungkan dengan fakta-fakta yang ada pada saat sesi)
Beberapa hal yang dapat ditanyakan dalam tahap identifikasi ini diantaranya adalah:
a. Kesempatan apa yang Bapak/Ibu miliki sekarang?
b. Dari skala 1 hingga 10, dimana posisi Bapak/Ibu sekarang dalam pencapaian
tujuan Anda?
c. Apa kekuatan Bapak/Ibu dalam mencapai tujuan tersebut?
d. Peluang/kemungkinan apa yang bisa Bapak/Ibu ambil?
e. Apa hambatan atau gangguan yang dapat menghalangi Bapak/Ibu dalam meraih
tujuan?
f. Apa solusinya?


Rencana Aksi

(Pengembangan ide atau alternatif solusi untuk rencana yang akan dibuat)
a. Apa rencana Ibu/bapak dalam mencapai tujuan?

b. Adakah prioritas?
c. Apa strategi untuk itu?
d. Bagaimana jangka waktunya?
e. Apa ukuran keberhasilan rencana aksi Bapak/Ibu?
f. Bagaimana cara Bapak/Ibu mengantisipasi gangguan?

Tanggung jawab

 (Membuat komitmen atas hasil yang dicapai dan untuk langkah
selanjutnya)
a. Apa komitmen Bapak/Ibu terhadap rencana aksi?
b. Siapa dan apa yang dapat membantu Bapak/Ibu dalam menjaga komitmen?
c. Bagaimana dengan tindak lanjut dari sesi coaching ini?

 

9. Umpan Balik berbasis Coaching

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya bahwa prinsip dan paradigma berpikir coaching dapat membuat proses supervisi akademik fokus kepada pemberdayaan untuk mengembangkan kompetensi diri dan kemandirian. Sementara pemahaman umum terhadap supervisi akademik adalah sebuah proses evaluasi yang sering kali bersifat satu arah tanpa ada ruang untuk dialog apalagi menyepakati hasil supervisi akademik bersama dengan pimpinan.

Kita akan membahas lebih jauh proses supervisi akademik yang sesuai dengan paradigma berpikir dan prinsip coaching di pembelajaran selanjutnya. Saat ini kita akan membahas salah satu proses penting yang dilakukan saat supervisi akademik yaitu pemberian umpan balik. Apa yang perlu diperhatikan untuk membuat pemberian umpan balik yang efektif dan memberdayakan sesuai prinsip dan paradigma berpikir coaching? 

Berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan saat memberikan umpan balik dengan prinsip
coaching:
a. Tujuan pemberian umpan balik adalah untuk membantu pengembangan diri coachee
b. Tanpa umpan balik, orang tidak akan mudah untuk berubah
c. Sesuai prinsip coaching, pemberian umpan balik tetap menjaga prinsip kemitraan
d. Selalu mulai dengan memahami pandangan/pendapat coachee


Menurut Costa dan Garmston (2016) dalam Cognitive Coaching: Developing Self-directed Leaders and Learners, ada beberapa jenis umpan balik balik yang mendukung kemandirian untuk penerima umpan balik.:

a. Umpan Balik dengan Pertanyaan Reflektif
      Pertanyaan reflektif akan membuat coachee menggunakan data sendiri hasil dari observasi internal dan eksternal. Menjawab pertanyaan-pertanyaan reflektif akan mendorong coachee untuk mengembangkan kemandirian karena membangun kesadaran coachee untuk menggunakan data yang akan memvalidasi evaluasi dirinya, untuk memproses umpan balik, untuk mendapatkan pembelajaran dari umpan balik, dan menentukan capaian yang perlu diselaraskan di kemudian hari. 

b. Umpan Balik menggunakan data yang valid

       Tujuan umpan balik dengan prinsip dan paradigma berpikir coaching yang artinya bebas dari penilaian akan mendorong coachee untuk melakukan identifikasi, observasidan mengumpulkan dari datanya sendiri. Peran coach bisa membantu coachee untuk memberikan umpan balik berdasarkan data sesuai yang dibutuhkan coachee untuk pengembangan dirinya. Percakapan untuk mendapatkan data yang perlu diobservasi dilakukan saat melakukan perencanaan observasi. Saat memberikan umpan balik, coachee menggunakan data sesuai kebutuhan coachee untuk mengajak coachee mendapatkan pembelajaran dari melakukan pengukuran, menganalisis, menarik kesimpulan secara mandiri untuk dijadikan landasan perbaikan dan melakukan modifikasi yang dibutuhkan untuk performa yang lebih baik. 

Coaching bukan untuk menyelesaikan permasalah layaknya konseling, namun proses coaching dibutuhkan untuk menyelesaikan kondisi saat ini agar lebih baik untuk masa yang akan datang. Coach berperan dalam mengarahkan proses berjalan pikiran dan ide yang muncul dari Coachee. Sehingga Coach sangat harus memiliki pengalaman dan keterampilan yang luas dan melakukan prinsif dan paradigma Coaching. yaitu harus benar-benar fokus pada kondisi coachee, bersifat terbuka dan memliki rasa ingin tahu, memiliki kesadaran diri yang kuat dan mampu melihat peluang. Untuk mencapai hal ini, posisi sebagai coach perlu sering berlatih. 

Dan seorang Coach juga sangat penting untuk memliki kompetensi Coaching yaitu terampil dalam dan fokus pada kehadiran penuh untuk coachee, sangat penting memiliki keterampilan mendengarkan aktif dan mengajukan pertanyaan berbobot agar proses coaching dapat berjalan sesuai tujuan yang diharapkan. 

Intinya,  proses coaching dapat berjalan lancar dalam mencapai tujuan yang ingin dicapai coachee sangat tergantung kepada  kemampuan seorang  Coach. Sehingga untuk mencapai Coach yang baik maka perlu banyak berlatih dengan memperhatian kompetensi dan prinsip coaching. 

 

 

B.   Coaching dalam Konteks Pendidikan 

Ki Hadjar Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan itu ‘menuntun’ tumbuhnya atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. oleh sebab itu keterampilan coaching perlu dimiliki para pendidik untuk menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Proses coaching sebagai komunikasi pembelajaran antara guru dan murid, murid diberikan ruang kebebasan untuk menemukan kekuatan dirinya dan peran pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan memberdayakan potensi yang ada agar murid tidak kehilangan arah dan menemukan kekuatan dirinya tanpa membahayakan dirinya

Sistem Among, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, menjadi semangat yang menguatkan keterampilan komunikasi guru dan murid dengan menggunakan pendekatan coaching. Tut Wuri Handayani menjadi kekuatan dalam pendekatan proses coaching dengan memberdayakan (andayani/handayani) semua kekuatan diri pada murid. Sebagai seorang Guru (pendidik/pamong) dengan semangat Tut Wuri Handayani, maka perlulah kita menghayati dan memaknai cara berpikir atau paradigma berpikir Ki Hajar Dewantara

Sebelum melakukan pendampingan dengan pendekatan coaching sebagai salah pendekatan komunikasi dengan semangat among (menuntun). Dalam relasi guru dengan guru, seorang coach juga dapat membantu seorang coachee untuk menemukan kekuatan dirinya dalam pembelajaran. Pendekatan komunikasi dengan proses coaching merupakan sebuah dialog antara seorang coach dan coachee yang terjadi secara emansipatif dalam sebuah ruang perjumpaan yang penuh kasih dan persaudaraan. Oleh sebab itu, empat (4) cara berpikir ini dapat melatih guru (coach/pamong) dalam menciptakan semangat Tut Wuri Handayani dalam setiap perjumpaan pada setiap proses komunikasi dan pembelajaran.

Terdapat 4 hal hubungan sistem among dengan coaching yaitu: 

  • Coach & Coachee adalah Mitra Belajar
  • Emansipatif
  • Kasih dan Persaudaraan
  • Ruang Perjumpaan Pribadi  

Dalam ruang kemerdekaan belajar, proses coaching juga merupakan proses untuk mengaktivasi kerja otak coach dan coachee. Pertanyaan-pertanyaan reflektif dalam dapat membuat coachee melakukan metakognisi. Selain itu, pertanyaan-pertanyaan dalam proses coaching juga mendorong coachee berpikir secara kritis dan mendalam yang bermuara pada coachee dapat menemukan kekuatan diri dan potensinya untuk terus dikembangkan secara berkesinambungan atau menjadi seorang pembelajar sepanjang hayat

Pengembangan kekuatan dan potensi diri inilah yang menjadi tugas seorang coach (pendidik/pamong). Apakah pengembangan diri seorang coachee cepat, perlahanlahan atau bahkan berhenti adalah tanggung jawab seorang coachee. Pengembangan diri baik seorang coach atau coachee dapat dimaksimalkan dengan proses coaching. Coaching, sebagaimana telah dijelaskan pengertiannya dari awal memiliki peran yang sangat penting karena dapat digunakan untuk menggali potensi diri sekaligus mengembangkannya dengan berbagai strategi yang disepakati bersama. Proses coaching yang berhasil akan menghasilkan kekuatan bagi coach dan coachee untuk mengembangkan diri secara berkesinambungan.


 1. Supervisi Akademik  dengan Paradigma Berpikir Coaching

Kita telah mengeksplorasi peran seorang coach dan bagaimana kita membangun  percakapan yang memberdayakan potensi rekan sejawat kita. Dengan memiliki  paradigma berpikir coaching, kita bersama akan meningkatkan peran kita di sekolah  sebagai seorang supervisor. Supervisor yang dimaksud dapat diperankan oleh kepala  sekolah, guru senior dan rekan sejawat.   Bukan hal yang mudah pastinya, karena apa yang selama ini kita alami ketika  sedang disupervisi merupakan pengalaman yang berbeda. Hal yang serupa ini juga  dialami oleh Pak Lukman dalam usahanya mengembangkan kompetensi dirinya sebagai  seorang kepala sekolah yang perlu melakukan supervisi akademik terhadap rekan-rekan gurunya.

 

2. Definsisi Supervisi Akademik

Secara definisi, supervisi akademik merupakan serangkaian aktivitas yang  bertujuan untuk  memberikan dampak secara langsung pada guru dan kegiatan  pembelajaran mereka di kelas. Supervisi akademik perlu dimaknai secara positif sebagai kegiatan berkelanjutan yang meningkatkan kompetensi guru sebagai pemimpin  pembelajaran dalam mencapai tujuan pembelajaran yakni pembelajaran yang berpihak  pada anak. Karenanya kegiatan supervisi akademik hanya memiliki sebuah tujuan yakni 
pemberdayaan dan pengembangan kompetensi diri dalam rangka peningkatan performa  mengajar dan mencapai tujuan pembelajaran (Glickman, 2007, Daresh, 2001).   Hal peningkatan performa pembelajaran tersebut juga tercantum dalam  Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 201 Tentang Standar  Nasional Pendidikan, bagian Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan berikut: 

Pasal 14 ayat (1)   Dalam rangka meningkatkan kualitas proses pembelajaran, penilaian proses  pembelajaran selain dilaksanakan oleh pendidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 
yang dapat dilaksanakan oleh: 
a. sesama pendidik; 
b. kepala Satuan Pendidikan; dan/atau 
c. Peserta Didik. 

Penilaian proses pembelajaran oleh sesama pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat  (1) huruf a merupakan asesmen oleh sesama pendidik atas perencanaan dan pelaksanaan  pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik yang bersangkutan. Sedangkan penilaian  proses pembelajaran oleh kepala Satuan Pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat  1) huruf b merupakan asesmen oleh kepala Satuan Pendidikan pada Satuan Pendidikan  tempat pendidik yang bersangkutan atas perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran  yang dilakukan oleh pendidik yang bersangkutan.

 Memang dalam pelaksanaannya, tidak bisa kita pungkiri bahwa seringkali  supervisi akademik dilihat sebagai sebuah proses yang bersifat satu arah. Apalagi jika  supervisi akademik ini hanya terjadi satu tahun sekali menjelang akhir tahun pelajaran.  Supervisi menjadi sebuah tagihan atau kewajiban para pemimpin sekolah dalam  tanggung jawabnya mengevaluasi para tenaga pendidik.  Saatnya sekarang kita  mengembalikan semangat supervisi akademik mula-mula dengan melihat dan berpikir  dengan menggunakan kacamata dan topi seorang coach: supervisi akademik sebagai  proses berkelanjutan yang memberdayakan. 

Kualitas pengajaran atau akademik guru diharapkan meningkat melalui supervisi  akademik, namun hal ini tidak berarti supervisi akademik hanya berfokus pada  peningkatan keterampilan dan pengetahuan semata. Kualitas guru yang diharapkan  untuk berkembang juga termasuk didalamnya peningkatan motivasi atau komitmen diri.  Kualitas pembelajaran meningkat seiring meningkatnya motivasi kerja para guru.  

Dalam pelaksanaannya ada dua paradigma utama yang menjadi landasan kita  menjalankan proses supervisi akademik yang memberdayakan, yakni paradigma  pengembangan kompetensi yang berkelanjutan dan optimalisasi potensi setiap individu.  Setiap kepala  sekolah dan pemimpin pembelajaran seyogyanya berfokus pada  peningkatan kompetensi pendidik dalam mendesain pembelajaran yang berpihak pada  murid yang bertujuan pada pengembangan sekolah sebagai komunitas praktik  pembelajaran.

Seorang supervisor memahami makna dari tujuan pelaksanaan supervisi  akademik di sekolah (Sergiovanni, dalam Depdiknas, 2007):  
1. Pertumbuhan: setiap individu melihat supervisi sebagai bagian dari daur belajar 
bagi pengembangan performa sebagai seorang guru,  
2. Perkembangan: supervisi mendorong individu dalam mengidentifikasi dan  merencanakan area pengembangan diri,  
3. Pengawasan: sarana dalam monitoring pencapaian tujuan pembelajaran. 

                         


3. Prinsip  Supervisi Akademik

Beberapa prinsip-prinsip supervisi akademik dengan paradigma berpikir  coaching meliputi: 
1. Kemitraan: proses kolaboratif antara supervisor dan guru 
2. Konstruktif: bertujuan mengembangkan kompetensi individu 
3. Terencana 
4. Reflektif 
5. Objektif: data/informasi diambil berdasarkan sasaran yang sudah disepakati  
6. Berkesinambungan 
7. Komprehensif: mencakup tujuan dari proses supervisi akademik

Pada umumnya pelaksanaan supervisi akademik didasarkan pada kebutuhan dan  tujuan sekolah dan dilaksanakan dalam tiga tahapan, yakni perencanaan, pelaksanaan  supervisi, dan tindak lanjut. Pada tahap perencanaan, supervisor merumuskan tujuan,  melihat pada kebutuhan pengembangan guru, memilih pendekatan, teknik, dan model,  menetapkan jadwal, dan mempersiapkan ragam instrumen.

 

4. Ciri Supervisi Akademik

Tahap pelaksanaan diisi dengan kegiatan berdasarkan teknik dan model yang  dipersiapkan. Kegiatan bervariasi dari kegiatan individu dan/atau berkelompok. Salah  satu bagian dalam tahapan pelaksanaan supervisi akademik adalah observasi  pembelajaran di kelas atau yang biasanya kita sebut sebagai supervisi klinis. Istilah  supervisi klinis ini diperkenalkan oleh Morris Cogan dari Harvard University. Dalam buku  Supervision for a Better School, Lovell (1980) mendefinisikan supervisi klinis sebagai  rangkaian kegiatan berpikir dan kegiatan praktik yang dirancang oleh guru dan  supervisor dalam rangka meningkatkan performa pembelajaran guru di kelas dengan  mengambil data dari peristiwa yang terjadi, menganalisis data yang didapat, merancang  strategi untuk meningkatkan hasil belajar murid dengan terlebih dulu meningkatkan  performa guru di kelas.

Sebuah kegiatan supervisi klinis bercirikan: 
1. Interaksi yang bersifat kemitraan 
2. Sasaran supervisi berpusat pada strategi pembelajaran atau aspek  pengajaran yang hendak         dikembangkan oleh guru dan  disepakati bersama  antara guru dan supervisor 

3. Siklus supervisi klinis: pra-observasi, observasi kelas, dan pasca-observasi 
4. Instrumen observasi disesuaikan dengan kebutuhan 
5. Objektivitas dalam data observasi, analisis dan umpan balik 
6. Analisis dan interpretasi data observasi dilakukan bersama-sama melalui 
percakapan guru dan supervisor 
7. Menghasilkan rencana perbaikan pengembangan diri  
8. Merupakan kegiatan yang berkelanjutan 

 

5. Siklus Supervisi Akademik

Siklus dalam supervisi klinis pada umumnya meliputi 3 tahap yakni  Pra-observasi, Observasi dan Pasca-observasi.

a. Percakapan Pra-observasi 
         Ada alasan penting mengapa percakapan dengan guru sebelum kegiatan observasi  kelas dibutuhkan. Pertama, percakapan awal ini membangun kepercayaan dari guru  kepada pimpinan sekolah sebagai supervisor yang profesional karena merencanakan  kegiatan ini dengan baik. Kedua, percakapan awal memberikan perasaan tenang  mengenai tujuan dari rangkaian supervisi klinis. Supervisor menempatkan diri sebagai  mitra atau rekan seperjalanan mereka dalam pengembangan diri. Ketiga, kesepakatan  yang dihasilkan pada tahap ini mengenai aspek-aspek pengembangan yang akan  diobservasi memberikan rasa percaya diri dan motivasi internal karena guru merasakan  keterlibatan aktif dalam proses. Guru diberikan kesempatan untuk menyampaikan rancangan pembelajaran dan apa yang menjadi target pengembangan untuk diobservasi. 

Percakapan pra-observasi ini biasanya berlangsung singkat sekitar 15 sampai 20  menit. Dengan menggunakan percakapan coaching untuk perencanaan, supervisor dapat  mencatat apa yang menjadi sasaran pengembangan guru dan menginformasikan kepada guru prosedur supervisi klinis ini.  

a. Supervisor menyampaikan tujuan besar supervisi dan tujuan dari percakapan  awal. 
b. Guru menyampaikan rancangan pelaksanaan pembelajaran dan  menginformasikan aspek perkembangan yang hendak diobservasi 
c. Supervisor dan guru menyepakati sasaran observasi, waktu kunjungan kelas  dan waktu percakapan pasca-observasi 
d. Supervisor menginformasikan bahwa ia akan mencatat kegiatan 
pembelajaran yang dilakukan guru di kelas.

 

b. Observasi  

     Observasi adalah aktivitas pengamatan oleh supervisor pada saat guru  melaksanakan pembelajaran di kelas. Tujuan utama tahap ini adalah mengambil data  atau informasi secara obyektif mengenai aspek pengembangan yang sudah disepakati.  Motif pelaksanaan observasi kelas ini harus berawal dari kebutuhan pembelajaran murid  dan kebutuhan pengembangan potensi guru serta pemahaman bahwa observasi ini  dilakukan supervisor bersama-sama dengan guru.   Pengamatan oleh supervisor menggunakan instrumen yang telah ditentukan  sebelumnya dan fokus pada sasaran yang sudah disepakati. Namun dapat saja  pada saat 
observasi ada hal-hal menarik di luar hal yang sudah disepakati yang ditemukan oleh  supervisor yang dapat bermanfaat bagi guru dalam pengembangan kompetensi dirinya sebagai pemimpin pembelajaran yang berpihak pada murid. 

 c. Percakapan Pasca-observasi 

     Dalam proses percakapan pasca-observasi ini, supervisor dan guru secara  bersama memahami tujuan percakapan dan saling percaya akan tahapan kegiatan yang  berlangsung.  

Percakapan pasca-observasi idealnya berisikan aktivitas berikut: 
a. Tujuan percakapan: analisis hasil data observasi 
b. Percakapan umpan balik 
c. Percakapan perencanaan area pengembangan 
d.  Rencana aksi pengembangan diri 

Dalam percakapan pasca-observasi, supervisor dapat menggunakan model  percakapan untuk refleksi dan percakapan untuk kalibrasi dengan menggunakan data yang telah diambil pada saat kunjungan kelas sesuai dengan kesepakatan akan aspekaspek yang hendak diperhatikan. Supervisor memberikan ruang bagi guru berefleksi.

Pada saat analisis hasil data observasi dan melalui percakapan coaching, guru dapat  menemukan sendiri area pengembangan selanjutnya. Saat guru, dengan dituntun oleh  pertanyaan berbobot dan proses pemberian umpan balik berbasis coaching, menemukan  area pengembangan dan perbaikan diri yang hendak dilakukan, guru akan merasakan kepemilikan akan proses supervisi yang memberdayakan dirinya dan berkelanjutan.  

 

6. Tindak lanjut Supervisi 

 Tidaklah berhenti saat rangkaian supervisi klinis  selesai. Dengan prinsip berkesinambungan dan memberdayakan, seorang supervisor  meneruskan hasil dari tahapan pelaksanaan supervisi akademis dan klinis sebagai pijakan lanjutan bagi proses tindak lanjut yang meliputi refleksi, perencanaan pengembangan diri dan pengembangan proses pembelajaran. Kegiatan tindak lanjut  dapat berupa kegiatan langsung atau tidak langsung seperti percakapan coaching, kegiatan kelompok kerja guru di sekolah, fasilitasi dan diskusi, serta kegiatan lainnya dimana para guru belajar dan memiliki ruang pengembangan diri lewat berbagai kegiatan. Semua kegiatan ini dapat dilakukan secara berkala sesuai kebutuhan  pengembangan diri untuk meningkatkan kompetensi. 

Seorang supervisor dengan paradigma berpikir seorang Coach akan senantiasa menjadi mitra pengembangan diri para guru dan rekan sejawatnya demi mencapai tujuan pembelajaran yang berpihak pada murid. Percakapan-percakapan antara supervisor dan para guru senantiasa memberdayakan sehingga setiap guru dapat menemukan potensi dan meningkatkan kompetensi yang ada pada setiap  individu. Supervisi akademik menjadi bagian dalam perjalanan seorang pendidik menuju tujuan pembelajaran yang berpihak pada murid  dan membawa setiap murid mencapai keselamatan dan kebahagiaan.  

 

7. Kepala Sekolah sebagai seorang Coach  

       Dalam menjalankan peran sebagai kepala sekolah dan supervisor dilema yang  dialami Pak Lukman sering kali terjadi. Dapatkah seorang pemimpin dapat menjadi  seorang evaluator atau penilai dan coach dalam menjalankan perannya? Jawabannya, Ya.   Carl Glickman (1985) dari Universitas Georgia menemukan jawaban dari dilema  ini. Glickman mengatakan bahwa hal ini mungkin terjadi jika: 
a. Adanya rasa percaya dalam hubungan supervisor dan guru serta dalam  proses supervisi akademik
    ini 
b. Guru menyadari dan memahami peran yang sedang ditunjukkan oleh kepala sekolah  
c.  Peran kepala sekolah tulus dan disesuaikan dengan kebutuhan yang ada. 

Ketika menjadi sedang dalam kebutuhan untuk evaluasi, hanya perilaku sebagai  evaluator yang ditunjukkan. Ketika sedang melakukan percakapan coaching, maka  perilaku seorang coach-lah yang ditampilkan. Begitupula dengan peran lainnya yang  mungkin dibutuhkan seperti konsultan atau trainer. Terlepas dari proses supervisi  akademik, kepala sekolah perlu menginformasikan pada coachee mengenai peran yang  sedang dilakukan. 

Supervisi akademik dengan paradigma berpikir coaching memberikan sebuah  dimensi  pertumbuhan dan pengembangan diri yang seringkali hilang dari sebuah  rangkaian supervisi (Dolcemascolo, Miori- Merola, dan Ellison 2014 dalam Costa, A.  2016).

Percakapan-percakapan coaching membantu para guru berpikir lebih dalam  (metakognisi) dalam menggali potensi yang ada dalam diri dan komunitas sekolahnya  sekaligus menghadirkan motivasi internal sebagai individu pembelajar yang  berkelanjutan yang akan diwujudnyatakan dalam buah pikir dan aksi nyata demi  tercapainya pembelajaran yang berpihak pada murid.


8. Prinsip dan Paradigma Berpikir Coaching dalam Supervisi Akademik

Kita sudah mempelajari paradigma berpikir coaching agar kita bisa memberdayakan rekan sejawat kita. Kita juga sudah mempelajari tiga prinsip coaching yang perlu kita pegang pada saat kita melakukan percakapan dengan rekan sejawat dalam rangka membantu mereka untuk mengembangkan kompetensi diri mereka dan menjadi otonom. Seperti kita ketahui bersama, di sekolah kita melakukan supervisi akademik untuk mengembangkan kompetensi mengajar guru yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas proses belajar di kelas. Prinsip dan paradigma berpikir coaching ini sangat bisa digunakan dalam proses supervisi ini, agar semangat yang lebih mewarnai proses supervisi adalah semangat yang memberdayakan, bukan mengevaluasi.

Kita ketahui bersama bahwa supervisi akademik memiliki tujuan untuk mengevaluasi kompetensi mengajar guru dan proses belajar di kelas. Pertanyaannya, apakah kita bisa mengevaluasi dan juga sekaligus memberdayakan? Costa dan Garmston (2016) menyampaikan bahwa kita bisa memberdayakan guru melalui coaching, kolaborasi, konsultasi, dan evaluasi, yang interaksinya bergantung kepada tujuan dan hasil yang diharapkan. Namun, posisi awal yang kita ambil adalah posisi sebagai seorang coach, sebelum kita mengetahui tujuan dan hasil yang diharapkan oleh guru yang akan kita berdayakan. Oleh sebab itu, prinsip dan paradigma berpikir coaching ini perlu selalu ada sebelum kita memberdayakan seseorang. 


                             



C. Refleksi Coaching
     1. Peristiwa
      Dengan adanya  pembelajaran coaching dan supervis akademik di sekolah, maka saya sudah memahami  tentang konsep Coaching dan mengalami praktik coaching bersama rekan ataupun dengan murid untuk membangaun potensi yang terpendam dan pernah mengalami supervisi akademik oleh kepala sekolah. 
         Pada pembelajaran Modul 2.3 Coaching dalam Supervisi Akademik ini, kami harus melalui belajar di alur mulai dari diri, eksplorasi konsep belejara mandiri dan berdiskusi dalam forum asinkronus juga belajar dalam ruang kolaborasi bersama instruktur dan praktik coaching bersama rekan yang berperan sebagai Coach dan coachee.  Dilanjutkan dengan mengerjakan tugas pada demontrasi kontekstual yang beroeran sebagai Supervisor, Coach dan Coahee. Dan melakukan aksi Nyata dengan melakukan coaching untuk supervisi akademik bersama rekan guru di sekolah. 

        Saat praktik coaching bersama murid dan rekan guru kita harus jeli memilih murid yang membutuhkan untuk digali potensinya. Yang sebelumnya ditayakan dulu tentang kesiapan untuk diajak bicara dan dibangun rasa kepercayaan kepada kita. Untuk mebangun rasa percaya pada diri murid itu lebih membutuhkan kesabaran yang lebih dibanding menghadapi guru. Karena guru yang akan menjadi coachee mudah memahami maksuda dan tujuan coachee sehingga dalam proses alur TIRTA nya mudah berjalan sesuai urutannya. 

Sedangkan pada murid kita membutuhkan gaya bahasa dan kesadaran penuh untuk lebih bersabar. Sepertinya dalam diri murid masih ada ketakutan untuk berbicara sehingga jawaban yang mucul agak ragu dan kurang berkembang. Artinya pada murid proses coaching harus lebih terinci. Sehingga dalam mengembangkan keterampilan coaching yang dialkukan dengan alur TIRTA (tujuan, Identifikasi, Rencana Aksi dan tanggung Jawab) harus mengembangkan kompetensi coaching. Yaitu Presen, kehadiran penuh, mengajukan pertanyaan berbobot dan Mendengarkan  aktif, PPM). Dan juga harus berlndasakan prinsif coaching yaitu kemitraan, kreatif dan memaksimalkan potensi). 

         
     2. Perasaan
       Perasaan saya setekah memahami pengetahuan dan mempraktikan coaching baik sebagai Coach atau sebagai cochee saat disupervisi oleh kepala sekolah, merasa bahagia dan bangga. Karena kini memiliki sebuah metode untuk membantu rekan atau murid dalam menemukan potensi dan menyelesaikan permasalahannya. Bahagia karena kini dengan teknik coaching, kepala sekolah tidak lagi mencari kesalahan tapi kitalah yang menemukan permasalah, dan mencari solusi sendiri. 
      Ketika saya mengerjakan tugas dalam ruang kolaborasi sesi yang mendapat tugas dari fasilitator untuk melakukan praktik coaching bersama rekan yang dialkukan secara on line, saya sangat bahagia dan bangga ternyata saya memiliki pengalaman baru untuk mendapatkan keterampilan melakukan coaching dengan menggunakan alur TIRTA. 
          Ditambah ketika kami melakukan tugas demontrasi kontekstual bersama 3 rekan CGP yang berperan sebagai Supervisor, Coach dan Cochee secara bergantian dalam 3 siklus. Pengalaman ini sangat besar sekali manfaatnya. Kami bertiga dituntut untuk mengeluarkan semua potensi dan kemampuan memiliki kompetensi Coching yaitu kehadiran penuh (presense, mengajukan pertanyaan berbobot dan bertanya aktif). Dan kami berlatih untuk mengembangkan prinsif coaching yaitu kemitraan, kreatif dan memaksimalkan potensi. Saat dan setelah kegiatan ini saya merasa bahagia dan bangga karena potensi saya terus bertambah karena tugas ini memberikan tantangan yang besar.  
      
     3. Pembelajaran
      Pada pembelejaran Modul 2.3 ini Coaching dalam supervisi akademik ini, banyak pembelajaran yang bisa diambil yaitu tentang pengetahuan caoching secara umum, Coaching dalam supervisi Akademik serta praktik coaching untuk mengembangkan potensi dan prinsif Coaching. 
       Pembelajaran yang dapat dipahami dari modul ini yang berupa materi yaitu:
 A.      Coaching secara umum
             1.       Sejarah Coaching
             2. Pengertian Coaching secara umum

3.       Paradigma berpikir Coahing (Fokus pada Coachee, bersifat terbuka dan ingin tahu, memiliki kesadaran diri yang kuat,  Mampu melihat peluang baru dan masa depan)

4.       Prinsip Coaching (kemitraan, proses aktif, memaksimalkan potensi

5.       Kompetensi Coaching ( kehadiran penuh, mendengarkan aktif, mengajukan pertanyaan berbobot dengan Referensi RASA (Terima, apresiasi, Merangkum dan bertanya)

6.       Perbedaan Coaching dengan pelayan lainnya (mentoring, konseling, training, fasilitasi)

7.       Percakapan Coaching dengan Alur Tirta (Tujuan, Identifikasi, Rencana aksi dan Tanggung Jawab)

8.       Umpan balik berbasis coching

 

B.      Coaching dalam konteks Pendidikan

1.       Supervisi Akademik dengan paradigma berpikir caoahing

2.       Definisi Supervisi Akademik

3.       Prinsip Supervisi Akademik

4.       Ciri Supervisi Akademik

5.       Siklus Supervisi Akademik (Pra observasi, Observasi, Percakapan pra observasi)

6.       Tindak Lanjut Supervisi.

7.       Kepala Sekolah sebagai Coach

8.       Prinsip dan Paradigma berpikir Coaching dalam Supervisi

 
     4. Penerapan 
          Setelah mempelajari Modul 2.3 Coching dalam Supervisi akademk maka banyak hal yang bisa diterapkan yaitu:
1. Berbagi pengtahuan dan pengalaman kepada rekan sejawat di sekolah dengan menjadi narasumber dalam forum ilmiah, misalhnya saat In House Training
2. Berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada masyarakat umum yaitu dengan mempublikasikan tulisan atau video melalui media sosial youtube, instagram Facebook atau Tiktok
3. Praktek langsung kepada rekan jika mereka menghadapi permasalahan atau atau ingin mengembangkan potensi yang dimiliki
4. Parktik langsung kepada murid saat mereka menghadapi masalah  dan membutuhkan pengembangkan potensi.



D. Kaitan Coaching Dengan Materi
     lainnya

1. kaitan Coaching Dengan Pembelajaran Berdiferensiasi
    Sebelum melaksanakan pembelejaran berdiferensiasi di kelas proses coaching dapat dilakuakn dan diterapkan kepda murid untuk kebutuhan dalam mengetahui kebutuhan murid. Karena Pembelejaran berdiferensiasi adalah " Sebuah usaha untuk menyesuaikan proses pembelejaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan murid." (Tomlinson 2000).
     Kebutuhan murid yang harus dipenuhi oleh oleh minimal  tiga macam yaitu: kesiapan belajar, minat dan profil murid. Untuk mengetahui ketiga asfek ini guru bisa menggunakan proses coahing kepada murid.     kaitana lainnya antara pembelejaran berdiferensiasia dengan coaching adalah ketika terdapat murid tidak mengetahui potensi yang dimilikinya atau murid yang sedang menghadapi permasalah, maka guru bisa melakukan proses caoching kepada murid. 
    Kaitan Coaching juga bisa dikaitkan dengan rekan guru yang belum mahami bagaimana penerapaan pembelejaran berdiferensiadai dan menghaadpi kendala. maka guru bisa menerapkan praktik coaching/ 


2. Kaitan Coaching dengan PSE

   Banyak hal yang bisa dilakukan dengan Coaching untuk mendukung Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) . Karena pada PSE ini memiliki 5 kompetensi yaitu Kesadaran Diri, manajemen Diri, Kesadaran Sosial, Keterampilan berelasi dan Pengambilan Keputusan yang bertanggung jawab. 

  Misalnya pada Komptensi:   
a. kesadaran Diri dan manajeman diri: Saat murid   sedang mengalami gangguan dalam kesadaran penuh untuk belajar, yang mengakibatkan mengalami penurunan motivasi dalam belajar sehingga tidak mengikuti pembelajaran di kelas, tidak mengerjakan tugas bahkan sampai tidak masuk sekolah. Maka murid yang demikian perlu mendapatkan perlakuan coaching dari gurunya. Atau saat ada guru yang mengalami gangguan dalam kesadaran penuh atau manajemen dirinya, maka guru tersebut perlu melakukan coaching oleh rekan atau kepala sekolah.
b. Kesadaran sosial dan keterampilan berelasi.
    Murid atau guru saat mengalami permasalahan  tentang kesadaran sosialnya dalam menjalin hubungan dengan rekan atau teman, bermasalah dalam pergaulan sehingga mereka membutuhkan berbincang dan mengobrol dengan proses Coaching. 


3. Keterkaiatan Keterampilan Coaching dengan Pengembangan kompetensi sebagai pemimpin pembelajaran. 

   Sebagai pemimpin pembelajaran tentu guru mengharapkan muridnya akan berkembang semua potensinya. Murid perlu didampingi dan dibimbing dengan sistem among seperti yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara. Saat Guru menemukan muridnya yang belum memiliki motivasi diri untuk belajar sehingga kondisi belajarnya sangat rendah maka disinilah guru harus tampil untuk menumbuhkan motivasi murid dengan berbincang secara pribadi. 
    Begitupun saat murid belum muncul potensi, bakat dan kemampuannya, padahal murid tersebut memiliki potensi besar yang terpendam, maka saat inilah guru sebagai pemimpin pembelajaran harus tampil untuk mengajak ngobrol dengan coaching sampai semua potensi dan bakat murid tersebut tumbuh dan berkembang. 
    Apalagi saat situasi kelas yang mengalami kemuduran atau mengalami kondisi yang banyak penyimpangan, maka tidak ada orang lagi yang harus tampil untuk mengembalikan kelas pada kondisi yang diharapkan. Guru sebagai pemimpin pembelajaran harus tampil mendampingi muridnya. Guru harus tampil mengelola kelas dengan perhatian penuh, mengayomi, dengan rutin dan berkesinambungan. Dengan memiliki jadwal rutin untuk melakukan pendekatan kepada murid secara pribadi atau kelompok kecil melakukan ngobrol dan berbincang dengan proses Coaching baik dengan alur TIRTA atau teknik RASA. 
    Saat mendampingi murid tentunya prinsip kemitraan, rasa ingin tahu berpusat kepada murid itu yang harus diutamakan, Hal ini agar tujuan yang diharapkan bisa tercapai. Begitu juga kompetensi Coaching harus diterapkan oleh guru. 



                  Salam Bergerak
                   September 2024

 

 

Tidak ada komentar:

Tulisan Menginspirasi

BEST PRACTISE KALISA (Katrol Lift dengan STEM) Pengalaman terbaik dalam implementasi Pembelejaran Mendalam Oleh: Mardiah SMP Negeri 3 Padala...