APA DAMPAK SISWA DAN ANAK YANG DIVONIS NAKAL DAN PEMBUAT MASALAH
HINDARI PREDIKAT NAKAL DAN
SIFAT NEGATIF PADA ANAK
Satu pemandangan yang sangat mudah didapatkan di sekolah, guru mengatakan kalau siswanya nakal, tidak sopan, bodoh. karena memang di depan semua orang siswa itu menunjukan sifat negatif, tidak bisa mengerjakan soal, sering bolos sekolah, tidak mengerjakan PR, berantem dengan teman Semua sifat negatif tersebut memang dapat terlihat jelas oleh gur dan teman.
Guru akan mengatakan siswanya malas dan nakal, karena memang siswa tersebut malas dan nakal sering memuat masalh di sekolah. sehingga persepsi negatif siswa tersebut akan menyebar dibeberapa guru dan teman-temannya. sehingga siswa mengatakan dan memvonis dirinya malas dan nakal.
Kalau sudah banyak orang dan dirinya sendiri mengatakan siswa nakal dan malas, maka apakah siswa ini akan semangat belajar dan memiliki motivasi untuk maju?
Tentu tidak, siswa yang sudah divonis nakal dan bandel ini akan sulit memangkitkan semangat belajar. lalu bagaimana tujuan pembelajaran akan tercapai secara maksimal? Dan sudah jelas,
mudah memvonis sifat negatif siswa ini akan sangat merugikan masa depan dan karakter siswa, malah akan termasuk pembunuhan karakter.
Predikat-predikat buruk memang cenderung memiliki dampak yang buruk pula. Nakal adalah predikat yang tak diinginkan oleh guru, orang tua, bahkan oleh si anak sendiri. Namun, seringkali lingkungan telah memberikan predikat itu kepada si anak: kamu anak nakal, kamu anak kurang ajar, kamu anak susah diatur, dan sebagainya. Akibatnya, si anak merasa divonis.
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/09/24/23024/jangan-sebut-anak-anda-nakal/#ixzz3KKPzUPVm
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook
Lalu bagaimana seharusnya jika disekolah menghadapi siswa naka. males. sombong. cuek, dan sejumlah predikat negatif lainnya..?
Cara pertama adalah dengan aturan disiplin yag diterapkan di sekolah, jika cara ini tidak berhasil bisa dilakukan yang lebih efektif yaitu dengan Bimbingan dan Konseling
Inilah cara yang sama sekali tidak menggunakan bentuk sanksi apa pun, tetapi lebih mengandalkan pada terjadinya kualitas hubungan interpersonal yang saling percaya di antara konselor dan siswa yang bermasalah, sehingga setahap demi setahap siswa tersebut dapat memahami dan menerima diri dan lingkungannya, serta dapat mengarahkan diri guna tercapainya penyesuaian diri yang lebih baik.
jadi..yang leih pentng dan lebih aman untuk perkembangan pribadi dan karakter siswa, Guru tidak mudah menfonis dan menjudmen siswa memiliki sifat negatif. tapi lakukanlah cara yang paling bijak sana, Pendekatan personal yang yang saling percaya, saling memahami, jauh daripenekanan, seperti pada; (https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/07/08/penanganan-siswa-bermasalah-di-sekolah/)
Hindari Sebutan Nakal, sombong, egois dan sifat Negatif lainnya
Jika tuduhan nakal itu diberikan berulang-ulang oleh banyak orang, akan menjadikan anak yakin bahwa ia memang nakal. Bagaimanapun nakalnya si anak, pada mulanya tuduhan itu tidak menyenangkan bagi dirinya. Apalagi, jika sudah sampai menjadi bahan tertawaan, cemoohan, dan ejekan, akan sangat menggores relung hatinya yang paling dalam. Hatinya luka. Ia akan berusaha melawan tuduhan itu, namun justru dengan tindak kenakalannya yang lebih lanjut.
Hendaknya orang tua dan guru menyadari bahwa mengingatkan kesalahan anak tidak identik dengan memberikan predikat “nakal” kepadanya. Nakal itu —di telinga siapa pun yang masih waras— senantiasa berkesan negatif. Siapa tahu, anak menjadi nakal justru lantaran diberi predikat “nakal” oleh orang tua, guru, atau lingkungannya!
Mengingatkan kesalahan anak hendaknya dengan bijak dan kasih sayang. Bagaimanapun, mereka masih kecil. Sangat mungkin melakukan kesalahan karena ketidaktahuan, atau karena sebab-sebab yang lain. Namun, apa pun bentuk kenakalan anak, biasanya ada penyebab yang bisa dilacak sebagai sebuah bahan evaluasi diri bagi para pendidik dan orang tua.
Sekali lagi, jangan cepat memberi predikat negatif. Hal itu akan membawa dampak psikologis yang traumatik bagi anak. Belum tentu anak yang sulit diatur itu nakal, bisa jadi justru itulah tanda-tanda kecerdasan dan kelebihannya dibandingkan anak lain. Hanya saja, orang tua biasanya tidak sabar dengan kondisi ini.
Ungkapan bijak Dorothy Law Nolte dalam syair Children Learn What They Live berikut bisa dijadikan sebagai bahan perenungan,
Bila anak sering dikritik, ia belajar mengumpat
Bila anak sering dikasari, ia belajar berkelahi
Bila anak sering diejek, ia belajar menjadi pemalu
Bila anak sering dipermalukan, ia belajar merasa bersalah
Bila anak sering dimaklumi, ia belajar menjadi sabar
Bila anak sering disemangati, ia belajar menghargai
Bila anak mendapatkan haknya, ia belajar bertindak adil
Bila anak merasa aman, ia belajar percaya
Bila anak mendapat pengakuan, ia belajar menyukai dirinya
Bila anak diterima dan diakrabi, ia akan menemukan cinta.
Cara Pandang Positif
Hendaknya guru dan orang tua selalu memiliki cara pandang positif terhadap anak. Jika anak sulit diatur, maka ia berpikir bahwa anaknya kelebihan energi potensial yang belum tersalurkan. Maka orang tua berusaha untuk memberikan saluran bagi energi potensial anaknya yang melimpah ruah itu, dengan berbagai kegiatan yang positif. Selama ini anaknya belum mendapatkan alternatif kegiatan yang memadai untuk menyalurkan berbagai potensinya.
Dengan cara pandang positif seperti itu, orang tua tidak akan emosional dalam menghadapi ketidaktertiban anak. Orang tua akan cenderung introspeksi dalam dirinya, bukan sekadar menyalahkan anak dan memberikan klaim negatif seperti kata nakal. Orang tua akan lebih lembut dalam berinteraksi dengan anak-anak, dan berusaha untuk mencari jalan keluar terbaik. Bukan dengan kemarahan, bukan dengan kata-kata kasar, bukan dengan pemberian predikat nakal, sombong, susah diatur
“Kamu anak baik dan shalih. Tolong lebih mendengar pesan ibu ya Nak”, ungkapan ini sangat indah dan positif.
“Bapak bangga punya anak kamu. Ibu bangga punya murid seprti kamu. Banyak potensi kamu miliki. Jangan ulangi lagi perbuatanmu ini ya Nak”, ungkap seorang bapak atau guru ketika ketahuan anaknya atau siswanya memiliki sifat negatif
Semoga kita mampu menjadi orang tua dan guru yang bijak dalam membimbing, mendidik dan mengarahkan tumbuh kembang anak-anak kita. Hentikan sebutan nakal untuk mendidik anak-anak.
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/09/24/23024/jangan-sebut-anak-anda-nakal/#ixzz3KKQPqi00
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook
Semoga, orang tua dan Guru dapat mendapingi anak dan siswanya dengan penuh bijaksana dan tanggung jawab, tanpa emosi dan permushan, namun dengan menananmkan rasa CINTA dan PERSAHABATAN yang tulus dan sejati, penuh Nurani yang pastinya akan menghasilkan bunga indah yang erseri yang dapt memberi harum dan menghasilkan buah yang sangat manis,
Semoga...
Salam
Salam
Greetings of love and friendship
Mardiah Alkaff. 28 Nop 2014
1 komentar:
Kebiasaan negtif yang sering dilakukan menjadi terbiasa, dan tak disadari berdampak negatif pada perkembangan karakter siswa. Hindari Predikat Negatif pada Anak dan siswa...Muli dari sekarang....
Posting Komentar