TAMAN BACA WISATA BATU PURBA

(TBM Stone Garden)





          Taman Baca di bukit kapur bertabur fosil sudah lahir.   Berdiri  1 Januari 2017, atas prakarsa  peraih Guru Inspiratif Jawa Barat  Een Sukaesih Award 2017, Mardiah guru SMP Negeri 3 Padalarang Kabupaten Bandung Barat. Taman Baca Wisata  ini merupakan salah satu inpsiratifnya yang mendapat dukungan dari ketua Pokdarwis Stone Garden, Sukmayadi  Suwerna, SH.

          Taman Baca Wisata Literasi  berdiri di atas lahan  Wisata Stone Garden, berukur 2x3 meter. Masyarakat mengerjakananya secara gotong royong.  Dengan sumbangan dari berbagai kalangan,  kini telah memiliki sekitar 500 buah buku.  Berupa  cerita anak. novel remaja, ensiklopedi dan ilmu pengetahuan. 

Sejak berdiri  tahun 2014, Stone Garden yang berada di Desa Gunung Masigit kecamatan Cipatat Kabupaten Bandung Barat,  banyak dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara. Ratusan batu purba berhias fosil hewan laut membuat bukit kapur bagai taman batu dengan panorama yang sangat indah. Sehingga para pengunjung datang untuk berfoto, prawedding, bahkan sering digunakan untuk shooting iklat atau film.

 Bukit  di atas Gua Pawon yang ditemukan fosil manusia purba,  merupakan  bukti sejarah kalau  daerah ini, 30 juta tahun yang lalu merupakan   dasar lautan. Karena  inisiatif warga RW 09, Karang Taruran dan tokoh masyarakat  maka terbentuklah kelompok Sadar Wisata Stone Garden. Dengan dukungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar)  Kabupaten Bandung Barat, Pokdarwis terus mengembangkan sayapnya hingga September 2017 pernah mendapat penghargaan  sebagai Pokdarwis terbaik Nasional.

          Awal pendirian taman baca ini merupakan  bentuk  pemberdayaan masyarakat dalam membantu SDM yang beralih fungsi. Pada awalnya, anggota Pokdarwis adalah sebagai petani dan penambang kapur, kini memiliki tugas  sebagai pemelihara , pelindung dan tuan rumah yang baik  bagi pengunjung. Sehingga perlu meningkatkan kualitas  dengan  usaha yang sadar dan terencana.

Maka pendidikan luar Sekolah  akan tampil dalam mewujudkannya.  Seperti menurut  Nurul Hayati dalam penelitianya (2015) menjelaskan bahwa Pendidikan nonformal berperan dalam meningkatkan mutu Sumber Daya Manusia, salah satunya yaitu melalui program Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang telah berdiri pada setiap daerah. Taman bacaan masya-rakat hendaknya berupaya untuk mendaya-gunakan sumber-sumber, baik personal maupun material, secara efektif dan efisien guna menunjang tercapainya tujuan pen-didikan Indonesia. Dalam hal ini mencer-daskan bangsa dan negara dan tidak melihat stratifikasi sosial masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan sesungguhnya telah meng-akomodir seluruh masyarakat tanpa meliha statifikasi sosialnya.

Dalam mewujudkan Pemberdayaan Masyarakat (Empowerment), Taman Baca Wisata Stone Garden.  telah  melakukan  tantangan membaca dari pemimpin. Leader`s  Reading Challenge (LRC) yang merupakan adopsi dari kegiatan literasi di Australia Selatan yaitu Premier Reading Challenge (PRC) membaca, membuat reviu, presentasi-diskusi buku dan  menyusun pohon literasi, telah berjalan sejak bulan januari 2018. Dengan penantang dari ketua Pokdawis, kelompok Literasi Stone Garden telah mampu membaca buku minimal  4 buah selama satu bulan. Pada kenyataannya ada yang mampu membaca lebih yaitu 6 atau 32 buku, sehingga sudah 100 buah buku yang telah dibaca oleh Pokdarwis. Sebenarnya buku yang telah dibaca lebih dari itu, karena  banyak masyarakat  secara spontan membaca untuk  mengisi kekosongan waktu dan menghilangkan jenuh saat bekerja.

Pengunjung  pun. telah banyak yang  membaca di kawasan wisata.  Pendidian Anak Usia Dini (PAUD), anak-anak pengelola,  atau  dari desa sekitar,  kini  meminjam buku dari TBM.  Anak-anak desa yang biasanya main tanpa arah, kini bisa menikmati hiburan cerita dari  bacaan.  Hampir setiap hari  selalu ada yang meminjam baik dibawa ke rumah atau membaca di tempat wisata sambul menikmati keindahan bukit bertabur fosil. Banyak anak desa  yang harus berjalan 3KM sengaja datang untuk membaca dan meminjam buku.

Tidak sedikit mahasiswa yang sedang KKN  membantu mengelola TBM ini. Sumbangan buku terus berdatangan, dari mahasiswa, pengarang, simpatisan, ilmuwan bahkan penerbit. Seperti dari  UNPAD,   Badan Geologi Nasional, IKIP Siliwangi Bandunng, Yayasan Litara dan yang lainnya.

Bagimana peluang  TBM   di Wisata taman batu purba ini? Tentu akan lebih berkembang,  karena wisata Stone Garden selain  objek wisata keindahan pesona, berfugsi juga sebagai   laboratorium berbagai keilmuan. Kepurbakalan (arkeolgi), Geologi, Pendidikan luar Sekolah dan  Pemberdayaan Masyarakat.  Sehingga harapan ke depan,  Taman baca  bisa sebagai  tempat  menyimpan berbagai buku ilmiah termasuk sejarah terbentuknnya Cekungan Bandung Purba.

Harapan ke depan,  Taman Baca ini pun,  bisa bermanfat bagi siswa sekolah yang melakukan wisata literasi. Sambil berwisata dan berpetualang di alam, siswa bisa melakukan pembiasaan membaca 15 menit,  membuat tulisan atau puisi  tentang perjalan dan  keindahan alam Stone Garden.

“Hadirnya TBM, sebagai anugerah yang sagat luar biasa.  Membuat  tak jenuh di lokasi wisata.   Kami    mendapat  ilmu pengetahuian dan wawasan yang sagat luas. Kehadiran buku,  telah  memicu saya untuk belajar menulis  alam Stone Garden.” Itulah kebahagian Nida Gandari (52 tahun)  anggotan Pokdawis  yang telah membaca  32 buah selama ada taman bacaan di tempat bekerjanya.

“Sangat bangga di wisata ada buku dan taman baca.  Namun perlu membangun kebiasan membaca yang lebih optimal agar     pemuda dan anak-anak  memiliki budaya baca dan tanggung tanggung-jawab. Sehingga mereka   mampu menjadi penerus untuk mengelola Wisata Pasir Pawon.” Begitu harapan Yadi Sumpena SH sebagai ketua Pokdarwis Stone Garden.

 

 

 

WARNA  NIRWANA






Nirwana katanya sebuah misteri.
Banyak orang yang tak memahami alurnya.
Katanya harus direncakan agar langkah di depan menjadi cemerlang. 
Jika mengalir apa adanya,  asa  tidak akan maksimal. 
Namun orang sangat mengharapkan, di depan akan bertemu  pintu cahaya penuh bunga. 
Itu harapan banyak orang yang memiliki asa.

Siapa pun mereka ....
Tentu inginnya selalu bisa tertawa dan melangkah di jalan aspal  tanpa batu tajam. 
Semua orang selalu menginginkan  yang diharapkan bisa nyata. 
Namun, alam tidak selalu menyetujuinya.
Yang ada, selalu saja di depan mata ada kerikil, bahkan batu  terjal.
Di depan, selalu saja ada awan panas dari kawah gunung. 

Mengapa harus ada?
Padahal ... maunya di jalan setapak itu tidak becek dan tidak berlumpur.
Tapi, hujan tidak bisa ditahan, panas mentari tidak bisa ditiup.
Jalan setapak harus tetap dipijak walau batu gamping  harus diinjak  tanpa sendal.
Inginnya terbang, namun sayang,
sayap sedang dipinjam   burung merpati.

Harapan tetap ingin bisa tertawa dan tersenyum.
Atau bahkan menertawai kera yang meloncat di dahan yang hampir patah.
Ya,  memang bisa tertawa lepas bersama angin  semilir di wajah yang berkilau.
Bisa  satu hari, dua hari atau hanya seminggu saja.
Setelah itu ....? 

Karena tidak harus terlena dalam harum bunga mawar dan melati.
Karena besok, angin kencang akan memeras keringat.
Karena lusa, terik matahari akan menekan air untuk membasahi pipi.

Berapa lama harum kesturi akan menjadi sahabat kalbu?
Tidak ada yang tahu. 
Tapi mungkin cicak yang bersembunyi di balik dinding sedang menertawai.
Jadi, setelah harum melati,
bersiaplah jantung akan berdetak lebih cepat.
Pikiran akan berputar menembus alam khayalan yang hitam kelam.
Hati akan  terpukul genderang perang.
Langkah akan lunglai terkulai di atas tanah berlumpur.
Selimut akan menjadi sahabat yang menghangatkan kegelisahan.
Pipi akan panas oleh tetesan mutiara hati.

Sampai kapan  akan terus  begini?
Untuk apa semua harus beulang tanpa henti?
Entahlah ....
Mungkin hanya nyamuk yang mengintari telinga, 
akan memberikan bisikan misteri alam maya.

Yang jelas .... 
Kaki harus  tetap meninggalkan jejak bijak.
Asa harus tetap melayang mengintari awan.
Sampai kapan?
Sampai huruf bertemu titik.




Mardiah Alkaff
Jum`at 18 Maret 2022
21.40


 




SOSIALISASI PROFIL PELAJAR PANCASILA

MELALUI JABAR MASAGI

Sosialisai Implementasi  Profil Pelajar Melalui Pendekar (Pendidikan Karakter) Jabar Masagi” merupakan tema webinar   yang dilakukan oleh Agen Penguat Karakter (APK) Kemdikbudristek Wilayah Jawa Barat.   Dengan difasilitasi oleh Dinas Pendidikan (Disdik)  Bidang  GTK  Provinsi Jawa Barat,  bekerja sama dengan Tim Jabar Masagi yang  telah dilakukan pada Kamis 2 September 2021.

Kegiatan yang dipandu oleh Moderator Pebi Sukamdani dari Puspeka Kemndikbudristek dan pembawa cara Raden Yulia Ramdani, APK Jabar. Dengan difasilitasi Zoom Meeting oleh Tikomdik Disdik Provinsi Jabar dilakukan pada  pukul 13.00 sampai 16,30. Webinar yang   dihadiri  sekitar 600 peserta yang terdiri dari Kepala Cabang Dinas (KCD) 1 sampai 13, Pengawas Sekolah,  Kepala Sekolah dan Guru yang ada di Jawa Barat.  Peserta   hadir juga dari berbagai provinsi   seperti dari Sumatera utara, Kalimantan, Jawa Tengah dan Provinsi lainnya.  

Diawali dengan Laporan   Pelaksanaan yang  disampaikan oleh  Andayani Ratnawati,S.Pd,M.M Kasie Kesejahkteraan Bidang Guru  dan Tenaga Kependidikan (GTK) Provinsi Jawa Barat. Beliau  menyampaikan bahwa Visi Pendidikan Indonesia adalah mewujudkan Indonesia maju dan berdaulat, madiri dan berpepribadian melalui terciptanya Profil Pelajar Pancasila.   Pupspeka telah membentuk Agen Penguat Karakter yang terdiri dari guru dan kepala sekolah dedikatif, inavatif dan inspiraif dari setiap Provinsi  termasuk Jawa barat.  Sosialisasi ini merupakan bentuk kerja sama antara GTK dan APK dengan tujuan untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang berpusat pada kebahagiaan dengan panduan Kurikulum Jabar Masagi.

Kepala Dinas Provinsi Jawa Barat   yang diwakili oleh Kepala Bidang  GTK Disdik Provinsi Jabar  Drs. H. Asep Suhanggan, M.MPd telah membuka  sosialisai sekaligus memamparkan tentang pentingnya  pembentukan karakter bagi kemajuan Pendidikan. Beliau menyampaikan bahwa  pendidikan merupakan   katalisatar pembangunan suatu bangsa. Sedangkan sekolah merupakan miniatur peradaban suatu bangsa yang di dalamnya terkandung budaya yang memiliki karakter. Keberhasilan suatu bangsa merupakan cerminan keberhasilan dari karakter. Karakter didapatkan dari  Pendidikan. Sedangkan pendidikan formal merupakan  yang paling    strategis dalam  membangun karakater. Sasarannya adalah   memberikan hak anak untuk mendapatkan pendidikan terbaik. Dengan adanya program Sekolah Penggerak dalam mewujudkan visi dan misi Pendidikan yang didalamnya terdapat  nilai  Profil Pelajar Pancasila.  

Asep Suhanggan lebih jauh menjelaskan bahwa Profil Pelajar Pancasila memiliki 6 nilai yang melandasi siswa berprestasi.   Saat mewujudkannya   terlebih dahulu harus adanya guru   dedikasi, inovasi, inspirasi dan kreatif. Dalam membangun Pendidikan  saat ini tidak hanya  mengejar ranah  kognitif namun membangun karakter yang harus dikedepankan. Maka sejak launching 2020   pendikan karakter melalui Jabar Masagi telah digulirkan di Jawa Barat. Dan   Profil Pelajar Pancasila sangat berkaitan erat dengan nilai-nilai  yang terkandung dalam muatan budaya lokal masyarakat Jabar yang bisa diterapkan di berbagai jenjang pendidikan.  

Jabar Masagi merupakan  program pendidikan karakter yang berbasis budaya Jawa Barat   yang menumbuhkan niti surti, niti harti, niti bakti dan niti bukti sehingga  dapat terwujud masa depan Jawa Barat yang beriman, berkarakter sehat dan cerdas. Tujuan program adalah untuk menumbuhkan kebagjaan siswa sehingga dapat  meningkatkan  prestasi dan kesuksesan di masa yang akan datang, demikian Dra. Wida Sagita,M.Pd dari Tim Jabar Masagi menuturkan.

Lebih jauh, Wida Sagita menguraikan bahwa niti surti adalah belajar merasakan, empati dan menjaga keharmonisan hidup.   Niti harti adalah belajar mengetahui, mengembangkan akal, meningkatkan  pengetahaun,  mengolah  kecerdasan.  Niti bukti   merupakan mengamalkan  apa yang dimiliki  untuk  kebermanfaatan bersama hingga hidup bermakna. Dalam membangun manusia, marayarakat Jabar juga menganut adanya  silih asah, silih asih dan silih wawangin. Untuk Pendidikan anak ada filosofi  cager, bageur  pinter , hingga terwujud  manusia yang masagi yaitu manusia yang sempurna,

Acara puncak adalah Pemaparan  Profil Pelajar Pancasila, Puspeka dan APK yang disampaiakan oleh Agus Mohamad Solihin, SE., M.Pd.  Analis Kebijakan Ahli Madya dari  Pusat Penguatan Karakter Setjen Kemendikbudristek. Beliau mneyampaikan bahwa Profil Pelajar Pancasila berlandasakan pada visi dan misi Presiden 2020-2024 yaitu “Terwujudnya Indonesia maju yang berdaulat, mandiri dan kepribadian berlandaskan gotong -royong”.  Juga mengambil salah satu poin dari Nawa Cita yaitu   “Peningkatan kualitas manusia Indonesia, Salah satu yang menjadi konsen adalah Pembanbgunan SDM.

Agus Mohamad Solihin lebih jauh menjelaskan bahwa Profil Pelajar Pancasila berlandaskan  pada tujuh  Agenda pembangunan, diantaranya adalah  meningkatakan  SDM yang berkualita dan berdaya saing serta Revolusi mental dan pembangunan Budaya.  Sedangkan dalam Pidato Presiden 14 Agustus 2020 diuraikan kan  bahwa “Nilai-nilai luhur Pancasila, Negera Kesatuan Repbublik Indonesi, Persatuan dan Kesatuan Nasional, tidak bisa dipertukarkan dengan  apapun juga. Kita tidak bisa memberikan ruang sedikitpun kepada siapun yang menggoyahkannya”. Sedangkan  Kemdikbudristek  merumuskan bahwa “SDM Unggul adalah Pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan perilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasaila.” Sehingga dalam mewujudkan SDM unggul  tidak hanya untuk  pelajar PAUD  sampai Perguruan Tinggi,  tapi berlaku pada kita semua yang belajar sampai akhir hayat. Akhirnya,   Puspeka menentukan semboyan :Cerdas berkarakter”.

Agus Mohamad Solihin, lebih jauh memaparkan bahwa Profil pelajar Pancasila lahir sesuai yang disampaikan  Mendikbud Nadiem makarim pada 10 desember 2020 bahwa “Semua perubahan yang kita lakukan di sistem Pendidikan kita akan berdampak pada yang Namanya Profil Pelajar pancasaila”.  Sedangkan Strategi pencapaianya dilakukan secara bertahap yaitu membuat orang sadar, paham, bergabung dan melakukan. Dan untuk mewujudkan perubahan harus dilaksanakan melalui beberapa Langkah. Pertama dengan diajarkan, dibiasakan, dilatih konsisten, menjadi kebiasaan, menjadai karater dan akhirnya menjadi budaya hingga adanya  keteladanan. Profil Pelajar Pancasila mengandaung 6 poin yaitu berketuahan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis,  dan kreatuf.  Dalam mewujudkan Profil pelajar pancasaila Kemdikbudristek memiliki perangkat diataranya adanya Agen Penguat Karater (APK) yang telah dibentuk di semua provinsi di Indonesia.

Menjelang sore peserta sosialisai masih bertahan cukup banyak. Moderator, Pebi Sukamdani, memperkenalkan 11 APK  wilayah Jawa Barat. Agen Penguat Karakter (APK)  tersebut  adalah   Wawan,M.Pd Kepala SLB Cicendo Bandung sebagai Koordinator APK Jabar, Dede Suryana,S,Pd,M,M Guru SDS Bhayangkara sebagai Ketua APK Jabar, Caecillia Retno Widiyanti,M.PD Kepala SMA Regina Pacis Bogor (Wakil Ketua APK), Mardiah,M.Pd Guru SMP Negeri  3 Padalarang (Sekretaris), Diana Shanty,S.Pd Guru SLBS Putra Hanjuang Garut (Sekretaris), Endang Wahyu Widiasari,M.Pd SMP Negeri  4 Cikalong ( Bendahara), Hj. Iis Nuraeni,M.Pd Kepala SMP Negeri  2 Cirebon (Bendahara), Hj. Raden Yulia Ramdani,ST, S,Sn,M.Pd  Guru SMK Negeri  1 Cimahi (Tim IT),   Eri Teguh Kurniawan Suyatna,S,Si Guru SMPN 1 Ciasem Subang (Tim IT),  Yopi Yuliana Guru SLB Bina Mandiri Garut (Tim IT) dan . Flibianto,S.Pd Guru SLBN Surade (Tim IT) 

Pada sesi terakhir, Agen Penguat Karakter (APK) Jabar   menyampaikan empat  buah best practise yang merupakan praktik baik membangun karakter sesuai Profil Pelajar Pancasila di sekolahnya. “Membangun karya Inovatif di Masa Pandemi” di SMA Pacis Bogor oleh Cecilia Retno. Mardiah menjelasakan tentan “Alam adalah guru professional yang nembangun karajter semopurna. Sedangkan Endang Wahyu widiasari memaparkan praktik baik penerapan Profil pelajara Pancasila dalam pembelajaran, di sekolah, dan masyaarakat dan terakhir adalah penerapan Profil pelajar Pancasila  di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri  Cicendo yang disampaikan oleh  Wawan, Koordinator APK Jabar.

Sosialisasi  diakhir dengan pembangian door prize berupa buku karya tentang  membangun karakter sesuai Profil Pelajar Pancasila yang ditulis oleh praktisi  Pendidikan di Kabupaten Bandung Barat, dan juga buku Karya Mardiah (APK Jabar) tentang membangun karakter siswa melalui alam dan lingkungannya, berjudul Tantangan Tebing Masigit.

“Pada  acara ini,  saya jadi mengetahui apa itu yang dinamakan Profil Pelajar Pancasila. Diantaranya kita bisa memahami bahwa untuk mewujudkannya dapat dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari.  Misalnya siswa melaksanakan ibadah sesuai agama yang dianutnya, ikut  bergotong-royong melaksanakan piket harian di sekolah, menjenguk teman yang sakit, menjaga lingkungan sekolah, memanfaatkan lahan yang terbengkalai di sekolah. Sehingga, hal yang dianggap kecil, namun suatu saat akan mampu membentuk karakter siswa di masa depannya.” Demikian Neneng R. Agustini, salah satu peserta webinar.

Peserta lainnya, Nani Yuhaeni, Guru SMP Negeri 3 Padalarang mengungkapkan bahwa setelah mengikut sosialisasi ini,  banyak menambah wawasan tentang   Profil Pelajar Pancasila dan bagaimana penerapannya.   Awalnya  masih abu-abu, kini  mulai terbuka dan memahaminya. Sehingga ingin segera menerapkannya untuk mencapai siswa lebih baik, yang cerdas dan berkarakter.


Salam Cedas Berkarakter

Mardiah Alkaff

Bandung Barat

8 September 2021












 

 

 

 

 

Alam Guru Profesinal Pembangun Karakter Profil Pelajar Pancasila

Mardiah Alkaff

(SMP Negeri 3 Padalarang)

 

A.  Mengapa harus belajar di alam?

     




 

Belajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di dalam kelas atau laboratorium sudah merupakan hal yang biasa sejak lama. Pembelajaran yang dibatasi oleh waktu, dinding dan ruangan  belum maksimal dalam menumbuhkan sikap dan karakter. 

Prestasi siswa saat ini pun masih ditentukan oleh angka dan rangking yang berasal dari ranah kognitif.  Sedangkan sikap dan keterampilan masih terabaikan. Seperti menurut Majid dan Andayani (2011:108), bahwa “Tujuan pendidikan yang selama ini terabaikan  atau mungkin gagal tercapai adalah pembentukan karakter (character building). Karena Pola pendidikan di sekolah terlalu berfokus pada penguasaan aspek kognitif, sementara pembentukan karakter kurang diperhatikan.”

Dengan demikian, sebagai guru yang kreatif  harus mencari metoda dan strategi belajar yang dapat membangkitkan sikap dan karakter siswa dengan maksimal,  agar seluruh potensi yang terpendam  dapat muncul. Terutama sikap peduli lingkungan dan masyarakat sebagai bekal untuk masa dewasa jika mereka kelak menjadi pemimpin.

Belajar dengan pendekatan lingkungan melalui perjalanan (Field Trip) secara berkelompok dengan memilih waktu di luar jam pelajaran,  merupakan kegiatan yang sangat digemari peserta didik. Terlihat, saat kegiatan di luar sekolah,  muncul berbagai karakter secara alamiah.

Ada dua objek yang biasa  kami kunjungi yaitu Gua Pawon dan Stone Garden. Keduanya merupakan tempat wisata bersejarah yang dekat dengan lokasi sekolah.

Gua Pawon   merupakan sebuah  gua asli peninggalan zaman purba yang  di dalamnya  ditemukan fosil manusia. Sedangkan Stone Garden   merupakan sebuah sebuah bukit yang dikenal dengan taman batu purba.  Keduanya,   merupakan  objek wisata tempat istirahat dan berfoto karena pemandangannya sangat indah yang mudah dijangkau dengan jalan kaki.

 

B.  Ekskul Petualang Sciece Club  Field Trips dengan Hiking.

 belajar langsung  di lingkungan alam terdekat dengan observasi  melalui perjalanan (Field Trip) yang dilakukan secara berkelompok di luar jam pelajaran. Kegiatan ini merupakan penjelajahan rutin yang dilakukan oleh Siswa  SMP Negeri 3 Padalarang dalam ekstrakurikuler Sciecen Club sejak tahun 2005.

      Gua Pawon dan Stone Garden merupakan lokasi yang cukup dekat dengan sekolah dan tempat tinggal siswa.  Di Gua Pawon terdapat  peninggalan sejarah purba.  Sebagai buktinya, telah  ditemukan situs manusia purba dan batuan  kapur yang berfosil.  Di dinding gua  terdapat  stalagtit dan stalagmit. Di dalamnya, ditemukan juga perkakas dapur batu yang sudah dikelola oleh Dinas Pariwisata dan Kepurbakalaan Kabupaten Bandung Barat. Belajar  dalam gua dipandu oleh guide setempat.

Objek kedua yang dikunjungi adalah  Wisata Taman Batu Purba Stone Garden. Menuju lokasi ini dilakukan dengan hiking, yaitu berjalan kaki  melalui bukit dengan kemiringan sekitar 90 derajat. Perjalanan hanya sekitar satu jam,

Di Stone Garden, semua peserta mengamati lingkungan sekitar yang sangat jelas adanya polusi, pengrusakan alam, penambangan juga dapat menikmati indahnya alam.  

                   Belajar di alam melalui field trip  mudah  dilaksanakan dan sangat   membahagiakan.   Banyak gambaran indah yang bisa  dilihat langsung. Alam juga  menyediakan  tantanngan yang menyenangkan yang dilakukan dalam kebersamaan.

Alam   menyediakan  sumber belajar langsung  dalam pembelajaran   keanekaragaman mahluk hidup, sejarah, pencemaran, pemeliharaan dan pelestarian lingkungan hidup serta pengrusakan lingkungan karena  penggalian bukit kapur.

               

 

C.  Alam membangun  berbagai karakter dan sikap positif

      Berdasarkan pengalaman,  belajar di alam melalui perjalanan (field Trip)  dapat menumbuhkan berbagai sikap positif hingga mampu membentuk karakter siswa.

Karakter   Profil Pelajar Pancasila yang diharapkan muncul dapat tercapai dengan kegiatan ini.    Berketuhanan dan berkalaq mulia, Berkebhinekaan global, mandiri, bergotong royong, berpikir kritis dan kreatif dapat terbangun. Apalagi dilakukan secara rutin dan berkala, hasilnya akan lebih maksimal.

Alam  menjadi sumber belajar yang lengkap dan menyenangkan,  karena dapat menambah pengetahuan dan mampu menumbuhkan banyak karakter untuk mencapai siswa yang berkualitas. Ilmu yang didapat ,  berupa gambaran nyata yang mudah dipahami karena disimpan di otak kiri.  Dan  alam dapat  memberi  tantangan yang  menyenangkan dalam kebersamaan yang mampu membangkitkan rasa ketagihan untuk mengulang kembali belajar melalui field trip.

Persiapan di sekolah yang dilakukan secara kelompok, membawa perlatan,  dapat membangun karakter kerja sama dan gotong roryong serta tanggung jawab. Karena hal ini akan digunakan dan kepentingan sendiri, maka biasanya siswa akan penuh tanggung jawab mengerjakannya. Secara tidak disadari oleh  siswa, guru sudah membangun karakter.

Saat field trip dengan hiking, siswa akan menyusuri perkampungan, desa, batu-batuan purba dan  bukit. Sekitar satu atau dua jam mereka berjalan. Kegiatan ini mampu membangun  banyak karakter alami. Guru tidak perlu berceramah atau menjelaskan, namun siswa sendiri yang akan mengalami dan merasakannya bagaimana alam membangun karakter.

Di Gua Pawon terdapat situs manusia purba, batu berfosil, stalagmit dan stalagtit. Inilah bukti-bukti sejarah yang akan menambah wawasan dan pengetahuan siswa. Sehingga belajar langsung. akan mudah diingat sampai mereka dewasa,

Saat mendaki bukit menuju puncak dari Gua Pawon menuju Taman Batu Purba Stone Garden mereka akan merasakan lelah perjalan dalam keadaan panas atau hujan. Namun karena dilakukan bersama teman,  mereka terlihat Bahagia. Bercanda dan tertawa lepas biasanya muncul selama pendakian. Padahal perjalanan penuh tantangan. Inilah saatnya membangun karakter kuat dan tannguh, mandiri dan berani menghadapi tantangan.

Siswa berada  dalam kelompok, biasanya sekitar 7 sampai 10 orang. Selama perjalanan tidak jarang ada yang kelelahan atau kehabisan makanan. Di sinilah guru sebagai pembimbing mengarahkan untuk menjaga kekompakkan dan kebersamaan walau kemampuan anggota berbeda-beda.  Sehingga siswa akan menunggu teman yang terlambat atau kelelahan, bahkan akan berbagi minum atau makanan jika ada  yang tidak membawa atau kehabiasan. Inilah saatnya  membangun karakter gotong royong, peduli teman dan menghargai perbedaan.

Karena perjalanan di bawa ke alam berupa  gunung, bukit dengan pemandangan yang sangat indah. Langit terbentang dengan sangat jelas dilihat dari puncak bukit. Maka saat istirahat, guru bisa menjelaskan kalau alam yang sangat indah adalah ciptaaan Tuhan.   Manusia harus mensyukurinya,  menjaga dan melestarikannya. Disinilah sangat tepat, mengajarkan siswa Berketuhanan Yang Maha Esa dan beraklaq mulia dalam mencitai alam agar lestari.

Dari lokasi  puncak bukit Stone Garden,  terlihat  adanya penambangan batu kapur dan pabrik pengolahannya. Sehingga siswa dapat mengamati dengan sangat jelas,  banyak bukit kapur yang rusak, tinggal sepotong, atau hancur. Dari pabrik pengolahan batu,  terlihat  debu kapur putih dan asap hitam mengepul dari pembakaran.

Kondisi alam rusak dan polusi udara ini, merupakan sumber belajar yang sangat sempurna. Guru tidak perlu menanyangkan foto dan gambar, guru tidak perlu berceramah, siswa tidak perlu membaca buku. Namun mereka tetap harus membaca alam yang nyata dan ada dihadapan mereka.  

Sambil istirahat berkumpul saatnya guru bercerita dan banyak bertanya untuk bisa berpikir.  Mengapa bukit kapur yang penuh sejarah purba  bisa rusak? Apa dampak negatif jika lebih banyak lagi bukit di sekitar tempat tinggal kita rusak? Apa dampak asap putih bagi kesehatan manusia dan alam sekitar, terutama pegawai pabrik?  Apa dampak asap hitam dari pembakaran batu kapur  bagi alam dan pemanasan global? Dan masih banyak lagi pertanyaan guru yang diajukan tentang pengrusakan alam.

Semua pertanyaan ini sangat nyata akan membangun karakter berpikir kritis. Akhirnya guru mengarahkan pentingnya untuk  mencitai dan peduli terhadap alam. Kita harapkan, 20 atau 30 tahun yang akan datang saat mereka menjadi pemimpin, merekalah yang akan melindungi alam dekat tempat tinggalnya dari pengrusakan. 

Saat perjalanan  pulang, guru bisa mengecek dan mengevaluasi bagaimana perasaan dan tanggapan perjalanan yang sudah dilakukan. Pertanyaan diajukan sambil berjalan dan suasana santai agar mereka tidak meyadari kalau guru sedang menggali apa yang mereka rasakan dan alami.

Jika kita melakukan hal ini, biasanya  siswa akan menjawab bahwa perjalan di alam sangat menyenangkan, membuat bahagia, seru dan pasti mereka akan menanyakan. “Kapan akan perjalanan lagi?”

Nah, dengan demikian, dari pengalaman ini nyata benar, bahwa belajar di alam, dapat membangun karakter yang sangat banyak secara alamiah. Siswa tidak menyadari kalau guru sedang membangun karakter. Yang mereka sadari adalah sedang diajak bermain, rekreasi, menikmati alam. Jadi sangat terbukti alam guru profesinal yang mampu membangun karakter secara utuh dalam suasana menyenangkan.

Berdasarkan pengalaman yang sudah kami lakukan selama 15 tahun, , sejak tahun 2005, agar karakter yang terbentuk pada siswa akan maksimal. Kegiatan berpetualang di alam sebaiknya  dilakukan secara rutin. Minimal 3 bulan satu kali.  Dicari  lokasi yang berbeda agar bervariasi dan pengalaman bertambah. Namun   jarak  tidak terlalu jauh dari sekolah sehingga mudah dijangkau. Sesekali kegiatan bisa digabung dengan sekolah lain yang terdekat agar wawasan lebih berkembang dan  membuat motivasi yang lebih kuat.     

Dengan demikian,  Pembelajaran di alam dengan hiking merupakan  pembelajaran  alternatif wisata edukasi yang murah, terjangkau dan menyenangkan namun karakter yang terbangun sangat banyak. Jadi memang Alam guru professional pembangun karakter sesuai Profil Pelajar Pancasila.     

 

Padalarang, 25 April 2021

 

Tulisan Menginspirasi

BEST PRACTISE KALISA (Katrol Lift dengan STEM) Pengalaman terbaik dalam implementasi Pembelejaran Mendalam Oleh: Mardiah SMP Negeri 3 Padala...