WARNA NIRWANA
Namun, alam tidak selalu menyetujuinya.
Padahal ... maunya di jalan setapak itu tidak becek dan tidak berlumpur.
Tapi, hujan tidak bisa ditahan, panas mentari tidak bisa ditiup.
Tidak ada yang tahu.
Merupakan kumpulan tulisan dan foto yang ditampilkan untuk menginspirasi bagi perkembangan pribadi ataupun kehidupan yang lebih luas terutama dalam bidang pendidikan.
SOSIALISASI
PROFIL PELAJAR PANCASILA
MELALUI JABAR
MASAGI
“Sosialisai
Implementasi Profil Pelajar Melalui
Pendekar (Pendidikan Karakter) Jabar Masagi” merupakan tema
webinar yang dilakukan oleh Agen Penguat Karakter
(APK) Kemdikbudristek Wilayah Jawa Barat.
Dengan difasilitasi oleh Dinas Pendidikan (Disdik) Bidang
GTK Provinsi Jawa Barat, bekerja sama dengan Tim
Jabar Masagi yang telah
dilakukan pada Kamis 2 September 2021.
Kegiatan yang dipandu
oleh Moderator Pebi Sukamdani dari Puspeka Kemndikbudristek dan pembawa
cara Raden Yulia Ramdani, APK Jabar. Dengan difasilitasi Zoom Meeting oleh
Tikomdik Disdik Provinsi Jabar dilakukan pada pukul 13.00 sampai 16,30.
Webinar yang dihadiri
sekitar 600 peserta yang terdiri dari Kepala Cabang Dinas
(KCD) 1 sampai 13, Pengawas Sekolah, Kepala
Sekolah dan Guru yang ada di Jawa Barat.
Peserta hadir juga dari berbagai
provinsi seperti dari Sumatera utara,
Kalimantan, Jawa Tengah dan Provinsi lainnya.
Diawali dengan Laporan
Pelaksanaan
yang disampaikan oleh Andayani Ratnawati,S.Pd,M.M Kasie Kesejahkteraan
Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan
(GTK) Provinsi Jawa Barat. Beliau menyampaikan bahwa Visi Pendidikan Indonesia adalah
mewujudkan Indonesia maju dan berdaulat, madiri dan berpepribadian melalui
terciptanya Profil Pelajar Pancasila. Pupspeka telah membentuk Agen Penguat Karakter
yang terdiri dari guru dan kepala sekolah dedikatif, inavatif dan inspiraif dari
setiap Provinsi termasuk Jawa barat. Sosialisasi ini
merupakan bentuk kerja sama antara GTK dan APK dengan tujuan untuk
mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang berpusat pada
kebahagiaan dengan panduan Kurikulum Jabar Masagi.
Kepala Dinas Provinsi Jawa
Barat yang diwakili oleh Kepala Bidang GTK Disdik Provinsi Jabar Drs. H. Asep Suhanggan,
M.MPd telah membuka sosialisai sekaligus
memamparkan tentang pentingnya
pembentukan karakter bagi kemajuan Pendidikan. Beliau menyampaikan
bahwa pendidikan merupakan katalisatar pembangunan suatu bangsa. Sedangkan sekolah
merupakan miniatur peradaban suatu bangsa yang di dalamnya terkandung budaya yang
memiliki karakter. Keberhasilan suatu bangsa merupakan cerminan
keberhasilan dari karakter. Karakter didapatkan dari Pendidikan. Sedangkan pendidikan
formal
merupakan yang
paling strategis dalam membangun karakater. Sasarannya adalah memberikan hak
anak untuk mendapatkan pendidikan terbaik. Dengan adanya program Sekolah Penggerak dalam
mewujudkan visi dan misi Pendidikan yang didalamnya terdapat nilai Profil Pelajar Pancasila.
Asep Suhanggan lebih
jauh menjelaskan bahwa Profil Pelajar Pancasila memiliki 6 nilai yang
melandasi siswa berprestasi. Saat mewujudkannya terlebih dahulu harus adanya guru dedikasi, inovasi, inspirasi dan kreatif. Dalam
membangun Pendidikan saat ini tidak
hanya mengejar ranah kognitif namun membangun karakter yang
harus dikedepankan. Maka sejak launching 2020
pendikan karakter melalui Jabar
Masagi telah digulirkan di Jawa Barat. Dan Profil Pelajar Pancasila sangat berkaitan
erat dengan nilai-nilai yang terkandung dalam
muatan budaya lokal masyarakat Jabar yang bisa diterapkan di berbagai jenjang pendidikan.
“ Jabar Masagi
merupakan program
pendidikan karakter yang berbasis budaya Jawa Barat yang menumbuhkan niti
surti, niti harti, niti bakti dan niti bukti
sehingga dapat terwujud masa
depan Jawa Barat yang beriman, berkarakter sehat dan cerdas. Tujuan program adalah untuk menumbuhkan
kebagjaan siswa sehingga dapat meningkatkan prestasi dan kesuksesan di masa yang akan datang,” demikian Dra.
Wida Sagita,M.Pd dari Tim Jabar Masagi menuturkan.
Lebih jauh, Wida
Sagita menguraikan bahwa niti surti adalah belajar merasakan,
empati dan menjaga keharmonisan hidup. Niti
harti adalah belajar mengetahui, mengembangkan akal, meningkatkan
pengetahaun, mengolah kecerdasan. Niti bukti
merupakan mengamalkan apa yang dimiliki untuk kebermanfaatan bersama hingga hidup bermakna. Dalam membangun manusia, marayarakat Jabar
juga menganut adanya silih asah,
silih asih dan silih wawangin. Untuk Pendidikan anak ada filosofi cager, bageur pinter , hingga terwujud manusia yang masagi yaitu manusia yang sempurna,
Acara puncak adalah Pemaparan
Profil Pelajar Pancasila, Puspeka dan
APK yang disampaiakan oleh Agus Mohamad Solihin, SE., M.Pd. Analis Kebijakan Ahli Madya dari Pusat Penguatan Karakter Setjen
Kemendikbudristek. Beliau mneyampaikan bahwa Profil Pelajar Pancasila
berlandasakan pada visi dan misi Presiden 2020-2024 yaitu “Terwujudnya Indonesia
maju yang berdaulat, mandiri dan kepribadian berlandaskan gotong -royong”. Juga mengambil salah satu poin dari Nawa Cita yaitu “Peningkatan
kualitas manusia Indonesia, Salah satu yang menjadi konsen adalah Pembanbgunan
SDM.
Agus
Mohamad Solihin lebih jauh menjelaskan bahwa Profil Pelajar Pancasila berlandaskan pada tujuh Agenda pembangunan, diantaranya adalah meningkatakan
SDM yang berkualita dan berdaya saing serta Revolusi mental dan
pembangunan Budaya. Sedangkan dalam
Pidato Presiden 14 Agustus 2020 diuraikan kan bahwa “Nilai-nilai luhur Pancasila, Negera
Kesatuan Repbublik Indonesi, Persatuan dan Kesatuan Nasional, tidak bisa
dipertukarkan dengan apapun juga. Kita
tidak bisa memberikan ruang sedikitpun kepada siapun yang menggoyahkannya”. Sedangkan
Kemdikbudristek merumuskan bahwa “SDM Unggul adalah Pelajar
sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan perilaku sesuai dengan
nilai-nilai Pancasaila.” Sehingga dalam mewujudkan SDM unggul tidak hanya untuk pelajar PAUD sampai Perguruan Tinggi, tapi berlaku pada kita semua yang belajar
sampai akhir hayat. Akhirnya, Puspeka menentukan
semboyan :Cerdas berkarakter”.
Agus Mohamad Solihin,
lebih jauh memaparkan bahwa Profil pelajar Pancasila lahir sesuai yang
disampaikan Mendikbud Nadiem makarim
pada 10 desember 2020 bahwa “Semua perubahan yang kita lakukan di sistem
Pendidikan kita akan berdampak pada yang Namanya Profil Pelajar pancasaila”. Sedangkan Strategi pencapaianya dilakukan
secara bertahap yaitu membuat orang sadar, paham, bergabung dan melakukan. Dan
untuk mewujudkan perubahan harus dilaksanakan melalui beberapa Langkah. Pertama
dengan diajarkan, dibiasakan, dilatih
konsisten, menjadi kebiasaan, menjadai karater dan akhirnya menjadi budaya
hingga adanya keteladanan. Profil Pelajar
Pancasila mengandaung 6 poin yaitu berketuahan Yang Maha Esa dan berakhlak
mulia, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatuf.
Dalam mewujudkan Profil pelajar pancasaila Kemdikbudristek memiliki
perangkat diataranya adanya Agen Penguat Karater (APK) yang telah dibentuk di
semua provinsi di Indonesia.
Menjelang sore peserta sosialisai masih bertahan cukup banyak. Moderator, Pebi Sukamdani, memperkenalkan 11 APK wilayah Jawa Barat. Agen Penguat Karakter (APK) tersebut adalah Wawan,M.Pd Kepala SLB Cicendo Bandung sebagai Koordinator APK Jabar, Dede Suryana,S,Pd,M,M Guru SDS Bhayangkara sebagai Ketua APK Jabar, Caecillia Retno Widiyanti,M.PD Kepala SMA Regina Pacis Bogor (Wakil Ketua APK), Mardiah,M.Pd Guru SMP Negeri 3 Padalarang (Sekretaris), Diana Shanty,S.Pd Guru SLBS Putra Hanjuang Garut (Sekretaris), Endang Wahyu Widiasari,M.Pd SMP Negeri 4 Cikalong ( Bendahara), Hj. Iis Nuraeni,M.Pd Kepala SMP Negeri 2 Cirebon (Bendahara), Hj. Raden Yulia Ramdani,ST, S,Sn,M.Pd Guru SMK Negeri 1 Cimahi (Tim IT), Eri Teguh Kurniawan Suyatna,S,Si Guru SMPN 1 Ciasem Subang (Tim IT), Yopi Yuliana Guru SLB Bina Mandiri Garut (Tim IT) dan . Flibianto,S.Pd Guru SLBN Surade (Tim IT)
Pada sesi terakhir, Agen
Penguat Karakter (APK) Jabar menyampaikan empat buah best practise yang merupakan praktik baik
membangun karakter sesuai Profil Pelajar Pancasila di sekolahnya. “Membangun
karya Inovatif di Masa Pandemi” di SMA Pacis Bogor oleh Cecilia Retno. Mardiah
menjelasakan tentan “Alam adalah guru professional yang nembangun karajter
semopurna. Sedangkan Endang Wahyu widiasari memaparkan praktik baik penerapan
Profil pelajara Pancasila dalam pembelajaran, di sekolah, dan masyaarakat dan
terakhir adalah penerapan Profil pelajar Pancasila di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Cicendo yang disampaikan oleh Wawan, Koordinator APK Jabar.
Sosialisasi diakhir dengan pembangian door prize berupa
buku karya tentang membangun karakter
sesuai Profil Pelajar Pancasila yang ditulis oleh praktisi Pendidikan di Kabupaten Bandung Barat, dan
juga buku Karya Mardiah (APK Jabar) tentang membangun karakter siswa melalui
alam dan lingkungannya, berjudul Tantangan Tebing Masigit.
“Pada acara ini,
saya jadi mengetahui apa itu yang dinamakan Profil Pelajar Pancasila.
Diantaranya kita bisa memahami bahwa untuk mewujudkannya dapat dipraktikan
dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya
siswa melaksanakan ibadah sesuai agama yang dianutnya, ikut bergotong-royong melaksanakan piket harian di
sekolah, menjenguk teman yang sakit, menjaga lingkungan sekolah, memanfaatkan
lahan yang terbengkalai di sekolah. Sehingga, hal yang dianggap kecil, namun suatu
saat akan mampu membentuk karakter siswa di masa depannya.” Demikian Neneng R.
Agustini, salah satu peserta webinar.
Peserta
lainnya, Nani Yuhaeni, Guru SMP Negeri 3 Padalarang mengungkapkan bahwa setelah mengikut sosialisasi ini, banyak menambah wawasan tentang Profil Pelajar
Pancasila dan bagaimana penerapannya. Awalnya
masih abu-abu, kini mulai terbuka dan memahaminya. Sehingga ingin
segera menerapkannya untuk mencapai siswa lebih baik, yang cerdas dan
berkarakter.
Salam Cedas Berkarakter
Mardiah Alkaff
Bandung Barat
8 September 2021
Alam Guru Profesinal Pembangun Karakter
Profil Pelajar Pancasila
Mardiah Alkaff
(SMP Negeri 3 Padalarang)
A. Mengapa
harus belajar di alam?
Belajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di
dalam kelas atau laboratorium sudah merupakan hal yang biasa sejak lama.
Pembelajaran yang dibatasi oleh waktu, dinding dan ruangan belum maksimal dalam menumbuhkan sikap dan
karakter.
Prestasi siswa saat ini pun masih
ditentukan oleh angka dan rangking yang berasal dari ranah kognitif. Sedangkan sikap dan keterampilan masih
terabaikan. Seperti menurut Majid dan Andayani (2011:108), bahwa “Tujuan
pendidikan yang selama ini terabaikan
atau mungkin gagal tercapai adalah pembentukan karakter (character
building). Karena Pola pendidikan di sekolah terlalu berfokus pada
penguasaan aspek kognitif, sementara pembentukan karakter kurang diperhatikan.”
Dengan demikian, sebagai guru yang
kreatif harus mencari metoda dan strategi
belajar yang dapat membangkitkan sikap dan karakter siswa dengan maksimal, agar seluruh potensi yang terpendam dapat muncul. Terutama sikap peduli
lingkungan dan masyarakat sebagai bekal untuk masa dewasa jika mereka kelak
menjadi pemimpin.
Belajar dengan pendekatan lingkungan
melalui perjalanan (Field Trip)
secara berkelompok dengan memilih waktu di luar jam pelajaran, merupakan kegiatan yang sangat digemari
peserta didik. Terlihat, saat kegiatan di luar sekolah, muncul berbagai karakter secara alamiah.
Ada dua objek yang biasa kami kunjungi yaitu Gua Pawon dan Stone
Garden. Keduanya merupakan tempat wisata bersejarah yang dekat dengan lokasi
sekolah.
Gua Pawon merupakan sebuah gua asli peninggalan zaman purba yang di dalamnya
ditemukan fosil manusia. Sedangkan Stone Garden merupakan sebuah sebuah bukit yang dikenal
dengan taman batu purba. Keduanya, merupakan objek wisata tempat istirahat dan berfoto
karena pemandangannya sangat indah yang mudah dijangkau dengan jalan kaki.
B. Ekskul Petualang Sciece Club Field Trips dengan Hiking.
belajar langsung di lingkungan alam terdekat dengan
observasi melalui perjalanan (Field Trip) yang dilakukan secara
berkelompok di luar jam pelajaran. Kegiatan ini merupakan penjelajahan rutin
yang dilakukan oleh Siswa SMP Negeri 3
Padalarang dalam ekstrakurikuler Sciecen Club sejak tahun 2005.
Gua Pawon dan Stone Garden
merupakan lokasi yang cukup dekat dengan sekolah dan tempat tinggal siswa. Di Gua Pawon terdapat peninggalan sejarah purba. Sebagai buktinya, telah ditemukan situs manusia purba dan batuan kapur yang berfosil. Di dinding gua
terdapat stalagtit dan stalagmit.
Di dalamnya, ditemukan juga perkakas dapur batu yang sudah dikelola oleh Dinas
Pariwisata dan Kepurbakalaan Kabupaten Bandung Barat. Belajar dalam gua dipandu oleh guide setempat.
Objek kedua yang dikunjungi adalah Wisata Taman Batu Purba Stone Garden. Menuju
lokasi ini dilakukan dengan hiking, yaitu berjalan kaki melalui bukit dengan kemiringan sekitar 90
derajat. Perjalanan hanya sekitar satu jam,
Di Stone Garden, semua peserta
mengamati lingkungan sekitar yang sangat jelas adanya polusi, pengrusakan alam,
penambangan juga dapat menikmati indahnya alam.
Belajar di alam melalui
field trip mudah dilaksanakan dan sangat membahagiakan. Banyak gambaran indah yang bisa dilihat langsung. Alam juga menyediakan
tantanngan yang menyenangkan yang dilakukan dalam kebersamaan.
Alam
menyediakan sumber belajar
langsung dalam pembelajaran keanekaragaman mahluk hidup, sejarah,
pencemaran, pemeliharaan dan pelestarian lingkungan hidup serta pengrusakan
lingkungan karena penggalian bukit
kapur.
C.
Alam membangun berbagai karakter dan sikap positif
Berdasarkan pengalaman, belajar di alam melalui perjalanan (field
Trip) dapat menumbuhkan berbagai
sikap positif hingga mampu membentuk karakter siswa.
Karakter Profil
Pelajar Pancasila yang diharapkan muncul dapat tercapai dengan kegiatan ini. Berketuhanan
dan berkalaq mulia, Berkebhinekaan global, mandiri, bergotong royong, berpikir
kritis dan kreatif dapat terbangun. Apalagi dilakukan secara rutin dan berkala,
hasilnya akan lebih maksimal.
Alam
menjadi sumber belajar yang lengkap dan menyenangkan, karena dapat menambah pengetahuan dan mampu
menumbuhkan banyak karakter untuk mencapai siswa yang berkualitas. Ilmu yang
didapat , berupa gambaran nyata yang
mudah dipahami karena disimpan di otak kiri.
Dan alam dapat memberi
tantangan yang menyenangkan dalam
kebersamaan yang mampu membangkitkan rasa ketagihan untuk mengulang kembali
belajar melalui field trip.
Persiapan di sekolah yang dilakukan
secara kelompok, membawa perlatan, dapat
membangun karakter kerja sama dan gotong roryong serta tanggung jawab. Karena
hal ini akan digunakan dan kepentingan sendiri, maka biasanya siswa akan penuh
tanggung jawab mengerjakannya. Secara tidak disadari oleh siswa, guru sudah membangun karakter.
Saat field trip dengan hiking,
siswa akan menyusuri perkampungan, desa, batu-batuan purba dan bukit. Sekitar satu atau dua jam mereka
berjalan. Kegiatan ini mampu membangun
banyak karakter alami. Guru tidak perlu berceramah atau menjelaskan,
namun siswa sendiri yang akan mengalami dan merasakannya bagaimana alam
membangun karakter.
Di Gua Pawon terdapat situs manusia
purba, batu berfosil, stalagmit dan stalagtit. Inilah bukti-bukti sejarah yang
akan menambah wawasan dan pengetahuan siswa. Sehingga belajar langsung. akan
mudah diingat sampai mereka dewasa,
Saat mendaki bukit menuju puncak dari
Gua Pawon menuju Taman Batu Purba Stone Garden mereka akan merasakan lelah
perjalan dalam keadaan panas atau hujan. Namun karena dilakukan bersama
teman, mereka terlihat Bahagia. Bercanda
dan tertawa lepas biasanya muncul selama pendakian. Padahal perjalanan penuh
tantangan. Inilah saatnya membangun karakter kuat dan tannguh, mandiri dan berani
menghadapi tantangan.
Siswa berada dalam kelompok, biasanya sekitar 7 sampai 10
orang. Selama perjalanan tidak jarang ada yang kelelahan atau kehabisan
makanan. Di sinilah guru sebagai pembimbing mengarahkan untuk menjaga
kekompakkan dan kebersamaan walau kemampuan anggota berbeda-beda. Sehingga siswa akan menunggu teman yang terlambat
atau kelelahan, bahkan akan berbagi minum atau makanan jika ada yang tidak membawa atau kehabiasan. Inilah
saatnya membangun karakter gotong
royong, peduli teman dan menghargai perbedaan.
Karena perjalanan di bawa ke alam berupa
gunung, bukit dengan pemandangan yang
sangat indah. Langit terbentang dengan sangat jelas dilihat dari puncak bukit. Maka
saat istirahat, guru bisa menjelaskan kalau alam yang sangat indah adalah
ciptaaan Tuhan. Manusia harus
mensyukurinya, menjaga dan
melestarikannya. Disinilah sangat tepat, mengajarkan siswa Berketuhanan Yang Maha
Esa dan beraklaq mulia dalam mencitai alam agar lestari.
Dari lokasi puncak bukit Stone Garden, terlihat
adanya penambangan batu kapur dan pabrik pengolahannya. Sehingga siswa
dapat mengamati dengan sangat jelas, banyak bukit kapur yang rusak, tinggal
sepotong, atau hancur. Dari pabrik pengolahan batu, terlihat debu kapur putih dan asap hitam mengepul dari
pembakaran.
Kondisi alam rusak dan polusi udara ini,
merupakan sumber belajar yang sangat sempurna. Guru tidak perlu menanyangkan
foto dan gambar, guru tidak perlu berceramah, siswa tidak perlu membaca buku.
Namun mereka tetap harus membaca alam yang nyata dan ada dihadapan mereka.
Sambil istirahat berkumpul saatnya guru
bercerita dan banyak bertanya untuk bisa berpikir. Mengapa bukit kapur yang penuh sejarah
purba bisa rusak? Apa dampak negatif
jika lebih banyak lagi bukit di sekitar tempat tinggal kita rusak? Apa dampak
asap putih bagi kesehatan manusia dan alam sekitar, terutama pegawai pabrik? Apa dampak asap hitam dari pembakaran batu
kapur bagi alam dan pemanasan global? Dan
masih banyak lagi pertanyaan guru yang diajukan tentang pengrusakan alam.
Semua pertanyaan ini sangat nyata akan
membangun karakter berpikir kritis. Akhirnya guru mengarahkan pentingnya untuk mencitai dan peduli terhadap alam. Kita
harapkan, 20 atau 30 tahun yang akan datang saat mereka menjadi pemimpin,
merekalah yang akan melindungi alam dekat tempat tinggalnya dari
pengrusakan.
Saat perjalanan pulang, guru bisa mengecek dan mengevaluasi
bagaimana perasaan dan tanggapan perjalanan yang sudah dilakukan. Pertanyaan
diajukan sambil berjalan dan suasana santai agar mereka tidak meyadari kalau
guru sedang menggali apa yang mereka rasakan dan alami.
Jika kita melakukan hal ini, biasanya siswa akan menjawab bahwa perjalan di alam
sangat menyenangkan, membuat bahagia, seru dan pasti mereka akan menanyakan. “Kapan
akan perjalanan lagi?”
Nah, dengan demikian, dari pengalaman
ini nyata benar, bahwa belajar di alam, dapat membangun karakter yang sangat
banyak secara alamiah. Siswa tidak menyadari kalau guru sedang membangun
karakter. Yang mereka sadari adalah sedang diajak bermain, rekreasi, menikmati
alam. Jadi sangat terbukti alam guru profesinal yang mampu membangun karakter
secara utuh dalam suasana menyenangkan.
Berdasarkan pengalaman yang sudah kami lakukan
selama 15 tahun, , sejak tahun 2005, agar karakter yang terbentuk pada siswa
akan maksimal. Kegiatan berpetualang di alam sebaiknya dilakukan secara rutin. Minimal 3 bulan satu
kali. Dicari lokasi yang berbeda agar bervariasi dan
pengalaman bertambah. Namun jarak tidak terlalu jauh dari sekolah sehingga
mudah dijangkau. Sesekali kegiatan bisa digabung dengan sekolah lain yang
terdekat agar wawasan lebih berkembang dan membuat motivasi yang lebih kuat.
Dengan demikian, Pembelajaran di alam dengan
hiking merupakan pembelajaran alternatif wisata
edukasi yang murah, terjangkau dan menyenangkan namun karakter yang
terbangun sangat banyak. Jadi memang Alam guru professional pembangun karakter
sesuai Profil Pelajar Pancasila.
Padalarang, 25 April 2021
SMP Negeri 3 Padalarang
Penulis: Mardiah Alkaff
(SMP Negeri 3 Padalarang)
Webinar untuk
siswa dan guru telah dilaksanakan di SMP Negeri 3 Padalarang dengan tema
“Profil Pelajar Pancasila” . Seminar melalui zoom meeting bekerja sama dengan Newsroom Disdik
Bandung Barat digekar pada Sabtu 20 Februari 2021
Tujuan webinar
kali ini adalah untuk menciptakan SDM yang unggul, yaitu siswa cerdas
berkarakter atau Pelajar Pancasila yang dapat menjadi agen-agen penguatan karakter di sekolah, keluarga
dan masyarakat. Hal ini disampaikan oleh Ina Mulatsih,S,Pd, Wakasek
Kesiswan dan juga sebagai moderator.
Ridwan
Setiadi,S,Pd,M,Pd Kepala SMP Negeri 3 Padalarang sebagai narasumber
menyampaikan bahwa, Profil Pelajar Pancasila merupakan perwujudan pelajar
sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan
nilai-nilai Pancasila yang tertuang dalam Permendikbud No.22 Tahun 2020. Dan merupakan implementasi Program Penguatan Pendidikan
Karakter.
Iwan Ridwan
lebih jauh menjelaskan bahwa webinar kali
ini diharapkan menjadi penguatan karakter untuk konsisten peserta didik melalui pembiasaan dalam
kehidupan sehari-hari. Terlebih di masa Belajar
Dari Rumah (BDR). Diharapkan adanya kerjasama dengan orangtua siswa melalui
keteladanan dan pengawasan. Penguatan Karakter
jika diajarkan, dibiasakan, dan
dilatih secara terus menerus akan
menjadi budaya dan akhirnya akan melekat dalam pribadi peserta didik. Kegiatan ini juga dapat berbagi pesan positif dalam
Penguatan Karakter sehingga Pelajar
Pancasila dapat terwujud.
Mardiah,M.Pd
sebagai narasumber yang Desember 2020 mendapatkan
pelatihan tingkat nasional Profil Pelajar
Pancasila dari Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kemendikbud Jakarta, menjelaskan bahwa dalam menyebarluaskan Profil
Pelajara Pancasila sesuai sambutan Presiden
Joko Widodo (Jakarta,2020) bahwa Sistem Pendidikan Nasional harus mengedepankan
nilai-nilai ketuhanan , yang berakter dan berakhlak mulia serta unggul dalam inovasi dan teknologi. Juga sesuai harapan Mendikbud Nadiem Makarim,(Jakarta, 2020), bahwa semua
perubahan yang kita lalukan di sistem pendidikan akan berdampak pada Profil Pelajar Pancasila.
Lebih jauh
Mardiah, menguraikan bawah Profil Pelajar Pancasila merupakan program Pusat Penguatan Karater (Puspeka) Kemedikbud
yang memiliki enam pilar. Beriman, bertaqwa kepada Tuhan YME dan berakhlaq
mulia, Berkebinekaan Global, Mandiri, Bergotong
Royong. Bernalar kritis dan Kreatif. Dengan
demikian,, diharapkan tercapai Sumber Daya
Manusia (SDM) unggul yaitu pelajar
sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan
nilai-nilai Pancasila.
Webinar yang
pertama kali dilaksanakan oleh SMP Negeri 3 Padalarang ini berjalan lancar sesuai yang
diharapkan. Kegiatan ini merupakan salah
satu program Waksek Kurikulum Ali Muhtadji,S,Pd yang didukung penuh oleh Kepala Sekolah, Wakasek
serta guru-guru dan staf TU. Berperan
sebagai operator dan teknisi adalah Sugiarto,S,Pd dan Ariefriyanto Suhardadi. Asri Indriani, S,Pd sebagai host dan Ina mulatsih sebagai
moderator.
“Peserta yang
hadir sekitar 600 orang. Hal ini merupakan jumlah yang cukup besar dan menggembirakan”,
demikian menurut Ina Mulatsih Wakasek Kesiswaan.
“Webinar pertama ini merupakan langkah awal untuk
melaksanakan kegiatan selanjutnya” demikian
menurut Kepala SMP Negeri 3 Padalarang Iwan Ridwan Setiadi.
“Acaranya
menarik. ,Apa yang disampaikan oleh panitia serta narasumber mudah dipahami dan diingat. Kata-katanya mudah dicerna untuk dicontoh dalam mewujudkan
Pelajar Pancasila,” demikian ungkapan Selviani Nur Hisanah salah satu peserta webinar kelas 8G.
BEST PRACTISE KALISA (Katrol Lift dengan STEM) Pengalaman terbaik dalam implementasi Pembelejaran Mendalam Oleh: Mardiah SMP Negeri 3 Padala...