PANEN KARYA

MEMBANGUN KARAKTER PROFIL PELAJAR PANCASILA

DI SMP NEGERI 3 PADALARANG

Oleh: Mardiah Alkaff



SMP Negeri 3 Padalarang merupakan sekolah Penggerak Angkatan 2 yang telah berhasil menyelesaikan Kurikulum Merdeka selama satu tahun sejak 2022.  Di penghujung  tahun,  program ditutup dengan Panen Karya projek  untuk mempublikasikan  capaian aksi nyata. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu 14 Juni 2023 di lingkungan SMP Negeri 3 Padalarang.

Panen Karya yang dikoordinir oleh Komite Pembelajaran Sekolah Penggerak, telah dihadiri oleh murid kelas 7 dan 8 sebanyak 700 orang. Kehadiran guru-guru sebagai fasilitator dan motivator  mampu menampilkan   karakter  Profil Pelajaran Pancasila baik dalam karnaval, stand dan arena kegiatan.

Panen karya   dihadiri oleh Edy Saprudin, S.Pd, Kepala  Bidang Pembinaan  SMP Dinas Pendidikan Kabupaten  Bandung Barat. Acon Supriatna,S.Pd Kasie Sarana Prasarana Bidang PSMP Disdik Kab.Bandung Barat, Dra.N. Yuli Ridawati Msi,  Pembina SMP Negeri 3 Padalarang,   Amos Pong Moka Buranda,M.Pd sebagai Fasilitator Sekolah Penggerak,  Komite Sekolah Penggerak SMP Negeri 3 Padalarang, Forum orang tua siswa,   Babinkantibmas Padalarang, Kepala Desa Padalarang, dan Kemitraan Bank Sampah Sukamaju Sejahtera Padalarang



Tamu undangan  memberikan apresiasi dan dukungan penuh dengan berkeliling stand pameran murid  kelas 7 yang menyajikan berbagai macam makanan kuliner olahan dasar Tahu. Setiap stand menampikan kuliner dengan memasak langsung di lokasi sehingga terlihat jelas murid kelas 7 mampu mengolah makanan.   “Tahu merupakan makanan yang  banyak dihasilkan oleh masyarakjat di sekitar sekolah. Sehingga inilah yang menyebabkan tema Projek ketiga   yaitu Kewirausahaan dengan topik, makanan berbahan dasar Tahu.” Demikian  ketua Projek Wirausaha  Wiwin  Winarti, M.Pd menjelaskan di arena stand.



“SMP Negeri 3  telah berhasil  dalam seleksi Sekolah Penggerak Kemdikbudristek tahun 2022 untuk waktu empat tahun sampai 2024. Sehingga wajib menerapkan kurikulum merdeka yang didalamnya terdapat tiga buah Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Panen Karya  merupakan unjuk kerja murid pada masyarakat dan dunia pendidikan bahwa mereka telah berhasil menyelesaikan  projek, pembelajaran yang berpusat pada murid,  pembelajaran berdiferensiasi  yang membangkitkan bakat, minat dan potensi murid. Serta Pembelajaran yang menyenangkan  dengan membangun karakter Profil Pelajar Pancasila”,  demikian diungkapkan Iwan Ridwan Setiadi, S,Pd, M,PD sebagai kepala SMP Negeri 3 Padalarang pada sambutan yang disampaian pada acara tersebut.

Sugiarto, SPd sebagai ketua panitia menjelaskan dalam sambutannya  bahwa di SMP Negeri 3 Padalarang selama satu tahun mengambil tiga buah projek.  Projek pertama tentang gaya hidup berkelanjutan dengan mengambil topik pengelolaan sampah yang  menghasilkan berbagai produk olahan sampah plastik diantaranya Eco Brick dan Pupuk Organic Cair (POC). 

Projek kedua mengambil tema bangunlah jiwaraganya dengan topik stop anti bullying dengan menghasilkan berbagai produk seperti poster dan video digital yang diupload di media sosial dengan akun murid masing-masing.  Sedangkan projek ketiga mengambil tema tentang kewirausahaan dengan topik kuliner olahan makanan dari tahu. Semua hasil projek tersebut ditampilkan pada panen karya yang pertama ini.


Panen karya pertama di SMP Negeri 3 Padalarang,   diawali dengan karnaval murid dan guru berkeliling lingkungan warga dengan membawa hasil karya projek 2. Tujuan adalah untuk menunjukan bahwa murid SMP Negeri 3  Padalarang mampu mengkampanyekan anti kekerasan di sekolah, rumah dan lingkungan terdekat.  Dengan membawa poster, spanduk dan banner stop anti bullying.  

Peserta karnaval  terdiri dari guru dan murid berkeling lingkungan masyarakat sejak pukul 07.00 sampai 09.00 telah diberangkatkan oleh kepala sekolah,  Demikian Arief Budi sebagai ketua Projek  menjelaskan.  Lebih jauh beliau menjelaskan bahwa kegiatan murid berkeling lingkungan masyarakat ini merupakan kegiatan inovasi SMP Negeri 3 Padalarang yang bertujuan untuk menginspirasi masyarakat agar bersama-sama menghentikan  kekerasan pada remaja.     https://www.youtube.com/watch?v=iv0Fl11nNsw (Karnaval Anti Bullying)



Kegiatan dilajutkan dengan berbagai sambutan, pameran stand hasil karya siswa berbagai kreasi  sampah menjadi barang bermanfaat, stand kuliner berbagai olahan tahu dan berbagai jajanan hasil karya siswa. 



Disco Flow, Amelia  Rahma  anggota Girl Band Soulmatch,    Artis Penyanyi Indonesia  Riana Dewi yang semuanya alumni dan warga  SMP Negeri 3 Padalarang turut menghibur murid-murid dengan berbagai lagu yang sedang digandrungi remaja. Flash Mob, Solo Vocal, Paduan Suara, Tari kreasi, PBB musik, Band Aquistik,  shalawat turut juga  memeriahkan panggung hiburan sebagai kreasi warga SMP Negeri 3 Padalarang



“Panen Karya bukan hanya menampikan  hasil  Projek namun  menekankan kesinambungan dengan proses untuk  pencapaian karakter. Sehingga guru terus mendampingi agar muncul karakter sesuai  enam   Dimensi Profil Pelajar Pancasila. Dalam  mewujudkan  tujuan tersebut diupayakan adanya sinergitas antara sekolah dengan orang tua murid,” demikianlah harapan yang disampaikan oleh Iwan Ridwan Setiadi,S.Pd,M.Pd  Kepala SMP Negeri 3 Padalarang

https://www.youtube.com/watch?v=RZ1gyLCatmQ (Kegiatan Panen karya SMP Negeri 3 Padalarang)


  



    










Antara Disiplin dan Hukuman

                            Antara Disiplin dan Hukuman

                                                     (Mardiah Alkaff)

                  

 Suasana yang positif pastinya sangat didambakan oleh setiap orang. Manusia akan bahagia dalam lingkungan yang memiliki suasana yang memberikan kedamaian dan ketenangan. Untuk mewujudkannya tentu membutuhkan kesaaran tinggi  untuk menciptakannya. 

Pembiasaan positif,  mendisiplinkan, inilah  dasar dalam menciptakannya.  Namun sering kali orang tidak mengetahui sepenuhnya melakukan pembiasaan yang positif dan akhirnya melanggar.  Oleh sebab itu sekolah sebagai institusi penegak moral, akan tampil sebagai garda kedua setelah rumah. 

Pembiaan postif layaknya diterapkan di sekola. Mulai pembiasaan berdoa sebelum belajar, berbaris, mengucapkan salam,  berbicara  santun. dan masih banyak lagi yang menjadi kebiaaan.  Namun tidak semua murid akan memiliki kesaran untuk melakukannya. Akhirnya banyak tingkah laku murid yang melanggar norma dan kebiasan positif. Kebiasaan di sekolah kita sejak lama, pastilah murid tersebut akan mendapat hukuman agar bisa menegakkan disiplin. 

Mungkin  saat ini  berkurang guru memberikan hukuman pada murid.  baik hukuman fisik ataupun ucapan. Tapi masih tetap saja ada yang melakukannya.  Misalnya murid yang tidak mengerjakan PR dihukum untuk  di luar kelas mengerjakan.  Murid berdiri di depan kelas karena tidak mengerjakan tugas.  Menulis 10 halaman karena belum bisa setor hafalan, Atau bahkan ada sejumlah institusi pendidikan memberikan hukuman secara fisik . Dipukul dengan  lidi, digunduli rambutnya, di jemur. Hal ini fenomena yang masih ada di dunia pendidikan Indoensia. 

Ya, benar.  Kan, guru menghukum dengan tujuan  baik, agar murud jera, agar murid lebih pandai, agar murid lebih disiplin.  Hukuman walaupun tujuannya   baik tetap namanya hukuman. Walau  hanya membersihan wc dan membersihan taman. Hukuman tetap menghukum.  Dengan cara yang baik apalagi buruk,  hukuman tetap membuat hati murid, sakit, malu, yang akhirnya merasa bersalah dan merasa rendah diri. Tidak ada hukuman yang membahagian. semua hukuman akan membekas yang menyakitkan, Malah mungkin akan berujung dengan dendam, Walau ada yang mengatakan karena hukuman saya menjadi lebih baik. Itu hanya berdamai saja dengan diri. 

Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline  meyatakan bahwa hukuman meruapkan  tingkat terendah dari motivasi perilaku manusia. Biasanya orang yang motivasi perilakunya untuk menghindari hukuman atau ketidaknyamanan, akan bertanya, apa yang akan terjadi apabila saya tidak melakukannya? Sebenarnya mereka sedang menghindari permasalahan yang mungkin muncul dan berpengaruh pada mereka secara fisik, psikologis, maupun tidak terpenuhinya kebutuhan mereka, bila mereka tidak melakukan tindakan tersebut. Motivasi ini bersifat eksternal. 

Jadi, para guru henat, mari kita hindari membisakan disiplin dengan hukuman. Ada cara yang lebih baik dari menghukum.  Yaitu membuat kesepakatan. membuat perjajian antara guru dan murid. Membuat kesepakatan antara anak dan orang tua.  Dengan ini, walau anak tidak mematuhi kesepakatan dia akan merana tanggung jawab  untuk melakukan konsekwensinya.  Tentu jika sudah membuat perjanjian,  hatinya tidak akan terluka. Jadi?   hukuman atau kesepakatan untuk menanamkan  kebiasan   positif demi terwujudnya kedisiplinan.   

Bandung Barat, 1 April 2023 Sabtu

Aksi Nyata: Diklat Calon Fasilitator Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 13)



 

 Literasiku

Ketika kubuka laptop

angan melayang, ada apa di angan ini

menulis di blog belum terpikir

menulis di hati belum terganti


Angan melayang ada apa ini

tuts terus merangkak

angan terus kudongkel

angan terus kugapai

literasi terus meninggi


Angan melayang ada apa ini 

nara sumber terus menguber

blog literasi cepat tersaji

blog menulis laris manis

nara sumber ceria berseri


Ketika Bu Mardiah menyajikan materi Blog, Lembang, 8 September 2022







 






                            TAMAN BACA WISATA BATU PURBA

(TBM Stone Garden)





          Taman Baca di bukit kapur bertabur fosil sudah lahir.   Berdiri  1 Januari 2017, atas prakarsa  peraih Guru Inspiratif Jawa Barat  Een Sukaesih Award 2017, Mardiah guru SMP Negeri 3 Padalarang Kabupaten Bandung Barat. Taman Baca Wisata  ini merupakan salah satu inpsiratifnya yang mendapat dukungan dari ketua Pokdarwis Stone Garden, Sukmayadi  Suwerna, SH.

          Taman Baca Wisata Literasi  berdiri di atas lahan  Wisata Stone Garden, berukur 2x3 meter. Masyarakat mengerjakananya secara gotong royong.  Dengan sumbangan dari berbagai kalangan,  kini telah memiliki sekitar 500 buah buku.  Berupa  cerita anak. novel remaja, ensiklopedi dan ilmu pengetahuan. 

Sejak berdiri  tahun 2014, Stone Garden yang berada di Desa Gunung Masigit kecamatan Cipatat Kabupaten Bandung Barat,  banyak dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara. Ratusan batu purba berhias fosil hewan laut membuat bukit kapur bagai taman batu dengan panorama yang sangat indah. Sehingga para pengunjung datang untuk berfoto, prawedding, bahkan sering digunakan untuk shooting iklat atau film.

 Bukit  di atas Gua Pawon yang ditemukan fosil manusia purba,  merupakan  bukti sejarah kalau  daerah ini, 30 juta tahun yang lalu merupakan   dasar lautan. Karena  inisiatif warga RW 09, Karang Taruran dan tokoh masyarakat  maka terbentuklah kelompok Sadar Wisata Stone Garden. Dengan dukungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar)  Kabupaten Bandung Barat, Pokdarwis terus mengembangkan sayapnya hingga September 2017 pernah mendapat penghargaan  sebagai Pokdarwis terbaik Nasional.

          Awal pendirian taman baca ini merupakan  bentuk  pemberdayaan masyarakat dalam membantu SDM yang beralih fungsi. Pada awalnya, anggota Pokdarwis adalah sebagai petani dan penambang kapur, kini memiliki tugas  sebagai pemelihara , pelindung dan tuan rumah yang baik  bagi pengunjung. Sehingga perlu meningkatkan kualitas  dengan  usaha yang sadar dan terencana.

Maka pendidikan luar Sekolah  akan tampil dalam mewujudkannya.  Seperti menurut  Nurul Hayati dalam penelitianya (2015) menjelaskan bahwa Pendidikan nonformal berperan dalam meningkatkan mutu Sumber Daya Manusia, salah satunya yaitu melalui program Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang telah berdiri pada setiap daerah. Taman bacaan masya-rakat hendaknya berupaya untuk mendaya-gunakan sumber-sumber, baik personal maupun material, secara efektif dan efisien guna menunjang tercapainya tujuan pen-didikan Indonesia. Dalam hal ini mencer-daskan bangsa dan negara dan tidak melihat stratifikasi sosial masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan sesungguhnya telah meng-akomodir seluruh masyarakat tanpa meliha statifikasi sosialnya.

Dalam mewujudkan Pemberdayaan Masyarakat (Empowerment), Taman Baca Wisata Stone Garden.  telah  melakukan  tantangan membaca dari pemimpin. Leader`s  Reading Challenge (LRC) yang merupakan adopsi dari kegiatan literasi di Australia Selatan yaitu Premier Reading Challenge (PRC) membaca, membuat reviu, presentasi-diskusi buku dan  menyusun pohon literasi, telah berjalan sejak bulan januari 2018. Dengan penantang dari ketua Pokdawis, kelompok Literasi Stone Garden telah mampu membaca buku minimal  4 buah selama satu bulan. Pada kenyataannya ada yang mampu membaca lebih yaitu 6 atau 32 buku, sehingga sudah 100 buah buku yang telah dibaca oleh Pokdarwis. Sebenarnya buku yang telah dibaca lebih dari itu, karena  banyak masyarakat  secara spontan membaca untuk  mengisi kekosongan waktu dan menghilangkan jenuh saat bekerja.

Pengunjung  pun. telah banyak yang  membaca di kawasan wisata.  Pendidian Anak Usia Dini (PAUD), anak-anak pengelola,  atau  dari desa sekitar,  kini  meminjam buku dari TBM.  Anak-anak desa yang biasanya main tanpa arah, kini bisa menikmati hiburan cerita dari  bacaan.  Hampir setiap hari  selalu ada yang meminjam baik dibawa ke rumah atau membaca di tempat wisata sambul menikmati keindahan bukit bertabur fosil. Banyak anak desa  yang harus berjalan 3KM sengaja datang untuk membaca dan meminjam buku.

Tidak sedikit mahasiswa yang sedang KKN  membantu mengelola TBM ini. Sumbangan buku terus berdatangan, dari mahasiswa, pengarang, simpatisan, ilmuwan bahkan penerbit. Seperti dari  UNPAD,   Badan Geologi Nasional, IKIP Siliwangi Bandunng, Yayasan Litara dan yang lainnya.

Bagimana peluang  TBM   di Wisata taman batu purba ini? Tentu akan lebih berkembang,  karena wisata Stone Garden selain  objek wisata keindahan pesona, berfugsi juga sebagai   laboratorium berbagai keilmuan. Kepurbakalan (arkeolgi), Geologi, Pendidikan luar Sekolah dan  Pemberdayaan Masyarakat.  Sehingga harapan ke depan,  Taman baca  bisa sebagai  tempat  menyimpan berbagai buku ilmiah termasuk sejarah terbentuknnya Cekungan Bandung Purba.

Harapan ke depan,  Taman Baca ini pun,  bisa bermanfat bagi siswa sekolah yang melakukan wisata literasi. Sambil berwisata dan berpetualang di alam, siswa bisa melakukan pembiasaan membaca 15 menit,  membuat tulisan atau puisi  tentang perjalan dan  keindahan alam Stone Garden.

“Hadirnya TBM, sebagai anugerah yang sagat luar biasa.  Membuat  tak jenuh di lokasi wisata.   Kami    mendapat  ilmu pengetahuian dan wawasan yang sagat luas. Kehadiran buku,  telah  memicu saya untuk belajar menulis  alam Stone Garden.” Itulah kebahagian Nida Gandari (52 tahun)  anggotan Pokdawis  yang telah membaca  32 buah selama ada taman bacaan di tempat bekerjanya.

“Sangat bangga di wisata ada buku dan taman baca.  Namun perlu membangun kebiasan membaca yang lebih optimal agar     pemuda dan anak-anak  memiliki budaya baca dan tanggung tanggung-jawab. Sehingga mereka   mampu menjadi penerus untuk mengelola Wisata Pasir Pawon.” Begitu harapan Yadi Sumpena SH sebagai ketua Pokdarwis Stone Garden.

 

 

 

WARNA  NIRWANA






Nirwana katanya sebuah misteri.
Banyak orang yang tak memahami alurnya.
Katanya harus direncakan agar langkah di depan menjadi cemerlang. 
Jika mengalir apa adanya,  asa  tidak akan maksimal. 
Namun orang sangat mengharapkan, di depan akan bertemu  pintu cahaya penuh bunga. 
Itu harapan banyak orang yang memiliki asa.

Siapa pun mereka ....
Tentu inginnya selalu bisa tertawa dan melangkah di jalan aspal  tanpa batu tajam. 
Semua orang selalu menginginkan  yang diharapkan bisa nyata. 
Namun, alam tidak selalu menyetujuinya.
Yang ada, selalu saja di depan mata ada kerikil, bahkan batu  terjal.
Di depan, selalu saja ada awan panas dari kawah gunung. 

Mengapa harus ada?
Padahal ... maunya di jalan setapak itu tidak becek dan tidak berlumpur.
Tapi, hujan tidak bisa ditahan, panas mentari tidak bisa ditiup.
Jalan setapak harus tetap dipijak walau batu gamping  harus diinjak  tanpa sendal.
Inginnya terbang, namun sayang,
sayap sedang dipinjam   burung merpati.

Harapan tetap ingin bisa tertawa dan tersenyum.
Atau bahkan menertawai kera yang meloncat di dahan yang hampir patah.
Ya,  memang bisa tertawa lepas bersama angin  semilir di wajah yang berkilau.
Bisa  satu hari, dua hari atau hanya seminggu saja.
Setelah itu ....? 

Karena tidak harus terlena dalam harum bunga mawar dan melati.
Karena besok, angin kencang akan memeras keringat.
Karena lusa, terik matahari akan menekan air untuk membasahi pipi.

Berapa lama harum kesturi akan menjadi sahabat kalbu?
Tidak ada yang tahu. 
Tapi mungkin cicak yang bersembunyi di balik dinding sedang menertawai.
Jadi, setelah harum melati,
bersiaplah jantung akan berdetak lebih cepat.
Pikiran akan berputar menembus alam khayalan yang hitam kelam.
Hati akan  terpukul genderang perang.
Langkah akan lunglai terkulai di atas tanah berlumpur.
Selimut akan menjadi sahabat yang menghangatkan kegelisahan.
Pipi akan panas oleh tetesan mutiara hati.

Sampai kapan  akan terus  begini?
Untuk apa semua harus beulang tanpa henti?
Entahlah ....
Mungkin hanya nyamuk yang mengintari telinga, 
akan memberikan bisikan misteri alam maya.

Yang jelas .... 
Kaki harus  tetap meninggalkan jejak bijak.
Asa harus tetap melayang mengintari awan.
Sampai kapan?
Sampai huruf bertemu titik.




Mardiah Alkaff
Jum`at 18 Maret 2022
21.40


 




SOSIALISASI PROFIL PELAJAR PANCASILA

MELALUI JABAR MASAGI

Sosialisai Implementasi  Profil Pelajar Melalui Pendekar (Pendidikan Karakter) Jabar Masagi” merupakan tema webinar   yang dilakukan oleh Agen Penguat Karakter (APK) Kemdikbudristek Wilayah Jawa Barat.   Dengan difasilitasi oleh Dinas Pendidikan (Disdik)  Bidang  GTK  Provinsi Jawa Barat,  bekerja sama dengan Tim Jabar Masagi yang  telah dilakukan pada Kamis 2 September 2021.

Kegiatan yang dipandu oleh Moderator Pebi Sukamdani dari Puspeka Kemndikbudristek dan pembawa cara Raden Yulia Ramdani, APK Jabar. Dengan difasilitasi Zoom Meeting oleh Tikomdik Disdik Provinsi Jabar dilakukan pada  pukul 13.00 sampai 16,30. Webinar yang   dihadiri  sekitar 600 peserta yang terdiri dari Kepala Cabang Dinas (KCD) 1 sampai 13, Pengawas Sekolah,  Kepala Sekolah dan Guru yang ada di Jawa Barat.  Peserta   hadir juga dari berbagai provinsi   seperti dari Sumatera utara, Kalimantan, Jawa Tengah dan Provinsi lainnya.  

Diawali dengan Laporan   Pelaksanaan yang  disampaikan oleh  Andayani Ratnawati,S.Pd,M.M Kasie Kesejahkteraan Bidang Guru  dan Tenaga Kependidikan (GTK) Provinsi Jawa Barat. Beliau  menyampaikan bahwa Visi Pendidikan Indonesia adalah mewujudkan Indonesia maju dan berdaulat, madiri dan berpepribadian melalui terciptanya Profil Pelajar Pancasila.   Pupspeka telah membentuk Agen Penguat Karakter yang terdiri dari guru dan kepala sekolah dedikatif, inavatif dan inspiraif dari setiap Provinsi  termasuk Jawa barat.  Sosialisasi ini merupakan bentuk kerja sama antara GTK dan APK dengan tujuan untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang berpusat pada kebahagiaan dengan panduan Kurikulum Jabar Masagi.

Kepala Dinas Provinsi Jawa Barat   yang diwakili oleh Kepala Bidang  GTK Disdik Provinsi Jabar  Drs. H. Asep Suhanggan, M.MPd telah membuka  sosialisai sekaligus memamparkan tentang pentingnya  pembentukan karakter bagi kemajuan Pendidikan. Beliau menyampaikan bahwa  pendidikan merupakan   katalisatar pembangunan suatu bangsa. Sedangkan sekolah merupakan miniatur peradaban suatu bangsa yang di dalamnya terkandung budaya yang memiliki karakter. Keberhasilan suatu bangsa merupakan cerminan keberhasilan dari karakter. Karakter didapatkan dari  Pendidikan. Sedangkan pendidikan formal merupakan  yang paling    strategis dalam  membangun karakater. Sasarannya adalah   memberikan hak anak untuk mendapatkan pendidikan terbaik. Dengan adanya program Sekolah Penggerak dalam mewujudkan visi dan misi Pendidikan yang didalamnya terdapat  nilai  Profil Pelajar Pancasila.  

Asep Suhanggan lebih jauh menjelaskan bahwa Profil Pelajar Pancasila memiliki 6 nilai yang melandasi siswa berprestasi.   Saat mewujudkannya   terlebih dahulu harus adanya guru   dedikasi, inovasi, inspirasi dan kreatif. Dalam membangun Pendidikan  saat ini tidak hanya  mengejar ranah  kognitif namun membangun karakter yang harus dikedepankan. Maka sejak launching 2020   pendikan karakter melalui Jabar Masagi telah digulirkan di Jawa Barat. Dan   Profil Pelajar Pancasila sangat berkaitan erat dengan nilai-nilai  yang terkandung dalam muatan budaya lokal masyarakat Jabar yang bisa diterapkan di berbagai jenjang pendidikan.  

Jabar Masagi merupakan  program pendidikan karakter yang berbasis budaya Jawa Barat   yang menumbuhkan niti surti, niti harti, niti bakti dan niti bukti sehingga  dapat terwujud masa depan Jawa Barat yang beriman, berkarakter sehat dan cerdas. Tujuan program adalah untuk menumbuhkan kebagjaan siswa sehingga dapat  meningkatkan  prestasi dan kesuksesan di masa yang akan datang, demikian Dra. Wida Sagita,M.Pd dari Tim Jabar Masagi menuturkan.

Lebih jauh, Wida Sagita menguraikan bahwa niti surti adalah belajar merasakan, empati dan menjaga keharmonisan hidup.   Niti harti adalah belajar mengetahui, mengembangkan akal, meningkatkan  pengetahaun,  mengolah  kecerdasan.  Niti bukti   merupakan mengamalkan  apa yang dimiliki  untuk  kebermanfaatan bersama hingga hidup bermakna. Dalam membangun manusia, marayarakat Jabar juga menganut adanya  silih asah, silih asih dan silih wawangin. Untuk Pendidikan anak ada filosofi  cager, bageur  pinter , hingga terwujud  manusia yang masagi yaitu manusia yang sempurna,

Acara puncak adalah Pemaparan  Profil Pelajar Pancasila, Puspeka dan APK yang disampaiakan oleh Agus Mohamad Solihin, SE., M.Pd.  Analis Kebijakan Ahli Madya dari  Pusat Penguatan Karakter Setjen Kemendikbudristek. Beliau mneyampaikan bahwa Profil Pelajar Pancasila berlandasakan pada visi dan misi Presiden 2020-2024 yaitu “Terwujudnya Indonesia maju yang berdaulat, mandiri dan kepribadian berlandaskan gotong -royong”.  Juga mengambil salah satu poin dari Nawa Cita yaitu   “Peningkatan kualitas manusia Indonesia, Salah satu yang menjadi konsen adalah Pembanbgunan SDM.

Agus Mohamad Solihin lebih jauh menjelaskan bahwa Profil Pelajar Pancasila berlandaskan  pada tujuh  Agenda pembangunan, diantaranya adalah  meningkatakan  SDM yang berkualita dan berdaya saing serta Revolusi mental dan pembangunan Budaya.  Sedangkan dalam Pidato Presiden 14 Agustus 2020 diuraikan kan  bahwa “Nilai-nilai luhur Pancasila, Negera Kesatuan Repbublik Indonesi, Persatuan dan Kesatuan Nasional, tidak bisa dipertukarkan dengan  apapun juga. Kita tidak bisa memberikan ruang sedikitpun kepada siapun yang menggoyahkannya”. Sedangkan  Kemdikbudristek  merumuskan bahwa “SDM Unggul adalah Pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan perilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasaila.” Sehingga dalam mewujudkan SDM unggul  tidak hanya untuk  pelajar PAUD  sampai Perguruan Tinggi,  tapi berlaku pada kita semua yang belajar sampai akhir hayat. Akhirnya,   Puspeka menentukan semboyan :Cerdas berkarakter”.

Agus Mohamad Solihin, lebih jauh memaparkan bahwa Profil pelajar Pancasila lahir sesuai yang disampaikan  Mendikbud Nadiem makarim pada 10 desember 2020 bahwa “Semua perubahan yang kita lakukan di sistem Pendidikan kita akan berdampak pada yang Namanya Profil Pelajar pancasaila”.  Sedangkan Strategi pencapaianya dilakukan secara bertahap yaitu membuat orang sadar, paham, bergabung dan melakukan. Dan untuk mewujudkan perubahan harus dilaksanakan melalui beberapa Langkah. Pertama dengan diajarkan, dibiasakan, dilatih konsisten, menjadi kebiasaan, menjadai karater dan akhirnya menjadi budaya hingga adanya  keteladanan. Profil Pelajar Pancasila mengandaung 6 poin yaitu berketuahan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis,  dan kreatuf.  Dalam mewujudkan Profil pelajar pancasaila Kemdikbudristek memiliki perangkat diataranya adanya Agen Penguat Karater (APK) yang telah dibentuk di semua provinsi di Indonesia.

Menjelang sore peserta sosialisai masih bertahan cukup banyak. Moderator, Pebi Sukamdani, memperkenalkan 11 APK  wilayah Jawa Barat. Agen Penguat Karakter (APK)  tersebut  adalah   Wawan,M.Pd Kepala SLB Cicendo Bandung sebagai Koordinator APK Jabar, Dede Suryana,S,Pd,M,M Guru SDS Bhayangkara sebagai Ketua APK Jabar, Caecillia Retno Widiyanti,M.PD Kepala SMA Regina Pacis Bogor (Wakil Ketua APK), Mardiah,M.Pd Guru SMP Negeri  3 Padalarang (Sekretaris), Diana Shanty,S.Pd Guru SLBS Putra Hanjuang Garut (Sekretaris), Endang Wahyu Widiasari,M.Pd SMP Negeri  4 Cikalong ( Bendahara), Hj. Iis Nuraeni,M.Pd Kepala SMP Negeri  2 Cirebon (Bendahara), Hj. Raden Yulia Ramdani,ST, S,Sn,M.Pd  Guru SMK Negeri  1 Cimahi (Tim IT),   Eri Teguh Kurniawan Suyatna,S,Si Guru SMPN 1 Ciasem Subang (Tim IT),  Yopi Yuliana Guru SLB Bina Mandiri Garut (Tim IT) dan . Flibianto,S.Pd Guru SLBN Surade (Tim IT) 

Pada sesi terakhir, Agen Penguat Karakter (APK) Jabar   menyampaikan empat  buah best practise yang merupakan praktik baik membangun karakter sesuai Profil Pelajar Pancasila di sekolahnya. “Membangun karya Inovatif di Masa Pandemi” di SMA Pacis Bogor oleh Cecilia Retno. Mardiah menjelasakan tentan “Alam adalah guru professional yang nembangun karajter semopurna. Sedangkan Endang Wahyu widiasari memaparkan praktik baik penerapan Profil pelajara Pancasila dalam pembelajaran, di sekolah, dan masyaarakat dan terakhir adalah penerapan Profil pelajar Pancasila  di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri  Cicendo yang disampaikan oleh  Wawan, Koordinator APK Jabar.

Sosialisasi  diakhir dengan pembangian door prize berupa buku karya tentang  membangun karakter sesuai Profil Pelajar Pancasila yang ditulis oleh praktisi  Pendidikan di Kabupaten Bandung Barat, dan juga buku Karya Mardiah (APK Jabar) tentang membangun karakter siswa melalui alam dan lingkungannya, berjudul Tantangan Tebing Masigit.

“Pada  acara ini,  saya jadi mengetahui apa itu yang dinamakan Profil Pelajar Pancasila. Diantaranya kita bisa memahami bahwa untuk mewujudkannya dapat dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari.  Misalnya siswa melaksanakan ibadah sesuai agama yang dianutnya, ikut  bergotong-royong melaksanakan piket harian di sekolah, menjenguk teman yang sakit, menjaga lingkungan sekolah, memanfaatkan lahan yang terbengkalai di sekolah. Sehingga, hal yang dianggap kecil, namun suatu saat akan mampu membentuk karakter siswa di masa depannya.” Demikian Neneng R. Agustini, salah satu peserta webinar.

Peserta lainnya, Nani Yuhaeni, Guru SMP Negeri 3 Padalarang mengungkapkan bahwa setelah mengikut sosialisasi ini,  banyak menambah wawasan tentang   Profil Pelajar Pancasila dan bagaimana penerapannya.   Awalnya  masih abu-abu, kini  mulai terbuka dan memahaminya. Sehingga ingin segera menerapkannya untuk mencapai siswa lebih baik, yang cerdas dan berkarakter.


Salam Cedas Berkarakter

Mardiah Alkaff

Bandung Barat

8 September 2021












 

 

 

 

Tulisan Menginspirasi

BEST PRACTISE KALISA (Katrol Lift dengan STEM) Pengalaman terbaik dalam implementasi Pembelejaran Mendalam Oleh: Mardiah SMP Negeri 3 Padala...